Bau asap membangunkan Lyra sebelum suara apa pun sempat terdengar, dan untuk beberapa detik ia berbaring saja di dipannya, bingung kenapa hidungnya terasa perih di tengah malam yang seharusnya sunyi.
Lalu bel kuil berbunyi—bukan denting biasa yang menandai waktu salat pagi, tapi dentuman berulang yang dipukul terlalu cepat, terlalu keras, cara membunyikan lonceng yang hanya dipakai sekali dalam ingatan Lyra, tiga tahun lalu, ketika kebakaran kecil di gudang jerami Pak Colder nyaris menjalar ke rumah-rumah tetangga.
Ia bangun dan berlari ke jendela, dan yang ia lihat membuat lututnya nyaris tidak sanggup menahan tubuhnya sendiri.
Di ujung jalan, ke arah rumah keluarga Hallow, langit sudah berwarna jingga—bukan jingga fajar yang lembut, tapi jingga yang bergerak, menari, melahap atap jerami satu demi satu dengan kecepatan yang terlalu cepat untuk kebakaran biasa.
"Bu!" Lyra berteriak, suaranya pecah lebih dari yang ia inginkan. "Bu, bangun!"
Morena sudah berdiri di pintu kamarnya sebelum Lyra selesai berteriak, wajahnya masih dibayangi tidur tapi matanya sudah waspada penuh, naluri seorang ibu yang tidak pernah benar-benar tertidur sejak titah militer pertama diumumkan.
"Apa itu—" Morena berhenti di tengah kalimat, matanya menangkap warna di luar jendela, dan Lyra melihat sesuatu pecah di wajah ibunya, semacam pengertian yang datang lebih cepat daripada yang seharusnya bisa dipahami siapa pun di tengah malam seperti itu.
"Mereka membakarnya," bisik Morena. "Astaga, mereka benar-benar membakarnya."
Ia bergerak cepat, menyambar syal tebal dari gantungan di dekat pintu dan melemparkannya ke bahu Lyra, lalu meraih sepasang sepatu yang tergeletak di sudut ruangan—gerakan-gerakan kecil yang tidak masuk akal di tengah keadaan seperti itu, tapi Lyra memahami kenapa ibunya melakukannya: tubuh butuh sesuatu untuk dikerjakan, sesuatu yang bisa dikendalikan, saat semua yang lain di luar jendela sudah lepas kendali sepenuhnya.
"Pakai ini," kata Morena, suaranya berusaha tenang meski tangannya tidak berhenti gemetar. "Jalan malam ini akan panjang."
• • •
Di luar, jalan setapak yang biasanya gelap dan sunyi di malam hari sudah dipenuhi orang-orang yang berlarian, sebagian membawa apa yang bisa mereka gendong dalam beberapa detik—bungkusan pakaian, anak yang menangis, sekali Lyra melihat seorang lelaki tua menggendong seekor kambing yang meronta-ronta, seolah hewan itu satu-satunya hal yang masih masuk akal untuk diselamatkan di tengah dunia yang berubah gila dalam semalam.
Prajurit berseragam hitam-perak berdiri di persimpangan-persimpangan jalan, bukan menghalangi orang lari, tapi mengarahkan mereka—ke satu arah tertentu, ke gerbang selatan desa, dengan tombak yang diacungkan lebih sebagai ancaman daripada bantuan.
Seorang perempuan tua yang Lyra kenal sebagai Bu Rooke, yang biasa menjual telur bebek di pasar kecil setiap pekan, berlutut di tengah jalan memunguti pecahan guci tempat ia menyimpan tabungannya seumur hidup, tidak peduli pada api yang semakin dekat, sampai anaknya sendiri menyeretnya paksa untuk bangkit dan berlari. Di depan rumah keluarga Bracken, seekor anjing menyalak tanpa henti ke arah kobaran api yang mulai menjilat atapnya sendiri, menolak pergi meski tuannya sudah memanggil-manggil dari kejauhan.
"Kenapa mereka mengarahkan kita ke sana?" tanya Morena, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lyra, sambil menarik tangan putrinya melintasi kerumunan yang semakin padat dan panik.
Jawabannya datang tidak lama kemudian, ketika mereka melewati rumah keluarga Wilton yang sudah terbakar separuh, dan Lyra melihat Doran berdiri di halaman rumahnya sendiri, wajahnya kosong oleh syok, menatap ayahnya yang berusaha memadamkan api dengan ember-ember air yang jelas tidak akan cukup, sementara dua prajurit berdiri tidak jauh dari sana, hanya menonton, tidak bergerak untuk membantu maupun menghentikan.
"Doran!" Lyra memanggil, melepaskan diri sejenak dari genggaman Morena, tapi sahabat kecil keluarga Wilton itu tidak menoleh, seolah suara apa pun selain derak kayu terbakar sudah berhenti masuk ke telinganya. Morena menarik Lyra kembali sebelum ia sempat mendekat lebih jauh.
"Kau tidak bisa menolongnya sekarang," kata Morena, pelan, hampir seperti permintaan maaf. "Kita bahkan tidak bisa menolong diri kita sendiri."
Suara benda-benda yang runtuh di kejauhan bercampur dengan jeritan yang datang dari arah yang tidak bisa Lyra tentukan lagi—terlalu banyak sumber, terlalu banyak arah, sampai semuanya terdengar seperti satu jeritan panjang yang tidak berujung, ditelan asap yang semakin tebal setiap kali angin berubah arah. Sesekali terdengar derap kuda berlari kencang, entah membawa perintah baru atau sekadar prajurit yang berpindah dari satu titik api ke titik lainnya, dan setiap kali suara itu mendekat, seluruh kerumunan di jalan setapak seperti menahan napas bersamaan, menunggu apakah kali ini mereka yang akan dihentikan.