Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #14

BAB 14 — JERIT YANG DITELAN ASAP

Suara pertama yang membuat mereka berhenti bukan teriakan manusia, melainkan derit kayu yang patah dari arah yang terlalu dekat untuk terasa aman—dan ketika Lyra menoleh, ia melihat sebatang pohon tua di tepi hutan, yang akarnya sudah lama menggerogoti fondasi gudang penyimpanan gandum desa, roboh perlahan ke arah bangunan yang sudah setengah terbakar, membawa serta atapnya dalam gemuruh percikan api yang melompat lebih tinggi dari pucuk pohon mana pun di sekitarnya.

"Terus jalan," kata Ilsa, suaranya tetap rendah meski napasnya mulai memburu karena beban Bertrand di bahunya. "Jangan berhenti untuk melihat."

Tapi Lyra tidak bisa tidak melihat. Dari celah pepohonan pertama Hutan Voston, seluruh lembah Bonsiva terbentang di bawah mereka seperti lukisan yang dibakar hidup-hidup—setiap atap yang pernah ia kenal, setiap jalan yang pernah ia lalui dengan kaki telanjang di musim panas, sekarang menjadi satu hamparan api yang tidak lagi bisa dibedakan rumah siapa dari rumah siapa.

Ia mencoba mencari menara lonceng di antara kobaran itu, mencoba mencari kedai roti Bu Fenwick di sudut jalan pasar, mencoba mencari apa pun yang masih berbentuk seperti yang ia kenal—tapi semuanya sudah melebur jadi satu warna, satu bentuk, satu suara gemuruh yang terlalu besar untuk dipahami sebagai tempat yang pernah ditinggali manusia.

• • •

Mereka berhenti sebentar di balik gerombolan batu besar, cukup jauh dari tepi hutan untuk tidak terlihat dari lembah, tapi cukup dekat untuk masih mendengar—dan itulah yang paling mengerikan, Lyra pikir, bukan apa yang mereka lihat, melainkan apa yang masih bisa mereka dengar.

Jeritan-jeritan itu datang bergelombang, kadang jelas, kadang teredam jarak dan angin, kadang berubah jadi sesuatu yang tidak lagi terdengar seperti suara manusia sama sekali. Seorang perempuan menjerit nama seseorang berulang-ulang—Elin, Elin, Elin—sampai jeritan itu terputus tiba-tiba, dan tidak ada yang melanjutkannya. Di titik lain, tangisan bayi terdengar sesaat sebelum ditelan derak bangunan yang runtuh.

"Berapa banyak yang tidak sempat lari?" tanya anak sulung keluarga Hallow, suaranya kecil, ditujukan pada siapa pun yang mau menjawab.

Tidak ada yang menjawab. Morena memeluk Lyra lebih erat, menutupi salah satu telinganya dengan tangan seolah itu bisa benar-benar menghalangi suara yang sudah terlalu jauh merasuk untuk bisa dilupakan.

"Mereka yang tidak bisa berjalan," kata Ilsa, akhirnya, suaranya datar dengan cara yang Lyra tahu adalah caranya menahan diri agar tidak runtuh di depan anak-anak. "Orang tua. Orang sakit. Siapa pun yang percaya bahwa mengikuti perintah menuju gerbang selatan berarti keselamatan."

Kata-kata itu menggantung di udara, terlalu berat untuk dibantah siapa pun.

Sesuatu bergerak di semak-semak tidak jauh dari mereka, dan seketika Ilsa sudah berdiri, menarik sebilah pisau kecil dari balik ikat pinggangnya—satu-satunya senjata yang sempat ia bawa dari rumah. Cleay menarik Lyra ke belakangnya tanpa berpikir, tubuh kecilnya kaku siap menghadapi apa pun yang keluar dari kegelapan.

Yang muncul bukan prajurit, melainkan Doran Wilton, wajahnya penuh jelaga dan darah kering di pelipisnya, berjalan sempoyongan seperti orang yang sudah tidak yakin lagi ke mana kakinya melangkah.

"Doran!" Lyra berbisik keras, bergerak mendekat sebelum Morena sempat menahannya kali ini.

Doran ambruk lebih daripada duduk begitu sampai di dekat mereka, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bisa ia katakan, hanya napas yang tersengal-sengal dan mata yang menatap kosong ke arah tanah.

"Ayahku," katanya, akhirnya, suaranya pecah. "Atapnya roboh saat ia masih di dalam, mencoba menyelamatkan bibit gandum musim depan. Aku— aku tidak bisa menariknya keluar tepat waktu."

Tidak ada yang tahu harus berkata apa. Ilsa mendekat, meletakkan tangan di bahu Doran dengan lembut, satu-satunya bentuk penghiburan yang masih masuk akal di tengah malam seperti itu.

"Kau selamat," kata Ilsa, akhirnya. "Itu yang penting sekarang. Bukan karena hidupmu lebih berharga dari hidupnya, tapi karena dia pasti ingin kau selamat."

Doran tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bahunya bergetar tanpa suara, dan Lyra duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa, karena ia tahu—lebih baik dari siapa pun malam itu—bahwa tidak ada kata yang bisa memperbaiki kehilangan seperti itu, hanya kehadiran yang bisa sedikit meringankannya.

• • •

Lihat selengkapnya