Salju pertama musim itu turun terlalu awal, dan Lyra membencinya lebih dari yang pernah ia bayangkan bisa ia benci sesuatu seindah salju—karena setiap jejak kaki yang mereka tinggalkan di atas tanah putih itu terasa seperti undangan terbuka bagi siapa pun yang mengikuti mereka dari belakang.
"Jalan di belakangku," kata Ilsa, memimpin kelompok kecil itu menyusuri punggung bukit yang berbatu, tempat salju tidak menumpuk cukup tebal untuk meninggalkan jejak yang jelas. "Injak batu, bukan tanah, sebisa mungkin."
Tiga hari sejak Bonsiva terbakar, dan tubuh Lyra sudah lupa rasanya hangat. Sepatu yang diberikan Morena malam itu sudah basah kuyup dan mulai robek di ujungnya, jarinya kebas sampai ia tidak lagi yakin apakah masih bisa merasakan apa pun kalau terluka. Di sampingnya, Doran berjalan dengan rahang terkatup rapat, matanya masih menyimpan kekosongan yang sama sejak malam ayahnya mati, tapi kakinya tidak pernah berhenti bergerak—seolah bergerak adalah satu-satunya cara yang tersisa baginya untuk tidak benar-benar merasakan apa pun.
"Berapa jauh lagi sampai desa berikutnya?" tanya anak sulung keluarga Hallow, suaranya lemah karena lapar yang sudah dua hari tidak benar-benar terpuaskan.
"Cukup jauh," jawab Ilsa, tidak menoleh. "Tapi kita akan sampai."
Ia mengatakannya dengan keyakinan yang tidak sepenuhnya Lyra percayai, tapi ia menghargai usaha ibunya Cleay untuk tetap terdengar seperti seseorang yang tahu apa yang sedang ia lakukan, bahkan ketika keraguan jelas terlihat di balik matanya yang lelah.
Di tengah punggung bukit yang terbuka, tanpa pepohonan untuk berlindung, Ilsa tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti total. Jauh di bawah, di lembah kecil yang mereka lewati, sekelompok penunggang kuda bergerak menyusuri jalan setapak—terlalu jauh untuk dikenali wajahnya, tapi seragam hitam-perak mereka tidak mungkin salah dikenali dari jarak mana pun.
"Merunduk," bisik Ilsa, dan seluruh kelompok menjatuhkan diri ke balik gundukan batu terdekat, menahan napas sementara para penunggang kuda itu berhenti sejenak di persimpangan jalan di bawah, seolah mempertimbangkan arah mana yang harus diambil. Lyra bisa merasakan detak jantungnya sendiri lebih keras daripada suara apa pun di sekitarnya, membayangkan seratus kemungkinan buruk dalam waktu yang tidak lebih dari beberapa detik.
Akhirnya para penunggang itu memilih jalan ke arah timur, menjauh dari punggung bukit tempat mereka bersembunyi, dan baru setelah suara derap kuda benar-benar hilang ditelan jarak, Ilsa memberi isyarat untuk bergerak lagi—lebih waspada dari sebelumnya, lebih diam, seolah setiap orang di antara mereka baru saja diingatkan betapa tipis batas antara selamat dan tertangkap.
• • •
Mereka berhenti menjelang senja di reruntuhan pondok penggembala yang sudah lama ditinggalkan, atapnya berlubang di beberapa titik tapi cukup untuk melindungi dari angin malam yang mulai menusuk. Bertrand, yang kondisinya membaik meski masih pincang, membantu mengumpulkan ranting kering untuk api kecil—cukup untuk menghangatkan, tidak cukup untuk terlihat dari jauh.
"Kau tidak perlu melakukan itu," kata Morena, melihat Bertrand memaksakan diri berjongkok mengumpulkan ranting meski wajahnya menahan sakit di punggung. "Duduklah. Biar aku yang urus."
"Kau sudah cukup banyak berbuat, Morena," kata Bertrand, tetap melanjutkan pekerjaannya. "Kalau Ilsa tidak menawarkan bahunya malam itu, aku mungkin sudah tertinggal di belakang, jadi salah satu dari mereka yang—" ia tidak melanjutkan kalimatnya, tidak perlu, karena semua orang di pondok itu tahu persis apa yang ia maksud. "Aku hanya ingin memberi sesuatu kembali, sekecil apa pun itu."
Morena tidak membantah lagi, hanya mengangguk, dan untuk sesaat ada kehangatan kecil yang tumbuh di antara orang-orang asing yang dipaksa keadaan menjadi keluarga sementara—kehangatan yang terasa lebih berarti justru karena datang di tengah keadaan seburuk itu.
Saat itulah Morena menarik Lyra ke sudut pondok, jauh dari yang lain, wajahnya serius dengan cara yang membuat perut Lyra langsung terasa dingin.
"Aku sudah bicara dengan Ilsa," katanya, pelan. "Kita akan berpisah besok pagi."
"Apa? Kenapa?"
"Karena kelompok besar bergerak lambat, dan lambat berarti mudah ditemukan." Morena menatap ke arah pintu pondok, memastikan tidak ada yang mendengar. "Dan karena aku mulai berpikir mereka tidak mencari siapa pun yang selamat dari Bonsiva secara umum, Lyra. Mereka mencari kita. Keluarga kita, khususnya."
"Karena nama Avelis."
Morena tidak menjawab, tapi diamnya sendiri sudah jadi jawaban.