Suara itu datang tepat sebelum fajar—bukan derap kuda seperti yang mereka takutkan selama ini, melainkan gonggongan anjing pelacak, jauh tapi jelas, terbawa angin dingin yang menyapu dataran tinggi tempat mereka bermalam di balik gundukan batu.
Morena bangkit begitu cepat sampai Lyra terlonjak dari tidurnya sendiri, mata ibunya sudah waspada penuh sebelum tubuhnya benar-benar berdiri tegak.
"Bangun," katanya, suaranya rendah tapi mendesak. "Sekarang, Lyra. Kita harus bergerak."
"Apa itu—"
"Anjing pelacak." Morena sudah menyambar bungkusan kecil berisi sisa perbekalan mereka, matanya memindai cakrawala yang mulai berubah abu-abu oleh cahaya fajar yang belum sepenuhnya muncul. "Mereka menemukan jejak kita semalam, atau jejak kelompok Ilsa, dan sekarang mengejar salah satu dari kita."
Lyra berdiri, kakinya masih kaku oleh dingin dan tidur yang terlalu singkat, dan untuk sesaat dunia terasa berputar—bukan hanya karena kelelahan, tapi karena beratnya menyadari bahwa pelarian yang mereka kira sudah cukup jauh, cukup aman, ternyata tidak pernah benar-benar aman sama sekali.
Ia menatap ke arah timur, ke arah jalan yang diambil Ilsa dan yang lain dua hari lalu, dan sesuatu yang dingin merambat di dadanya yang tidak ada hubungannya dengan cuaca. "Bu, bagaimana kalau itu bukan mengejar kita? Bagaimana kalau mereka mengejar Cleay, dan yang lain—"
"Kita tidak bisa memikirkan itu sekarang," kata Morena, meski wajahnya sendiri menunjukkan bahwa pikiran yang sama baru saja melintas di kepalanya. "Kalau itu benar, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan untuk mereka adalah tetap bergerak, tetap hidup, dan berharap keputusan Ilsa membawa mereka ke arah yang berlawanan dari bahaya."
Kata-kata itu tidak cukup untuk menenangkan Lyra, tapi tidak ada waktu lagi untuk kekhawatiran yang tidak bisa mereka pecahkan dari jarak sejauh itu. Mereka mengemas sisa perbekalan dengan gerakan cepat, dan mulai bergerak menjauhi tempat mereka bermalam sebelum cahaya fajar benar-benar menyingsing.
• • •
Mereka berlari menyusuri lereng yang menurun, salju yang tebal membuat setiap langkah terasa dua kali lebih berat dari biasanya, dan gonggongan anjing di belakang mereka semakin jelas terdengar setiap kali mereka berhenti sejenak untuk mengambil napas.
"Ke sungai," kata Morena, tiba-tiba, menunjuk ke arah aliran air yang setengah membeku di dasar lembah kecil di depan mereka. "Air akan menghilangkan jejak bau kita."
Mereka menuruni lereng terakhir dengan setengah berlari setengah terjatuh, dan begitu kaki mereka menyentuh air yang membekukan sampai ke tulang, Lyra hampir berteriak karena dinginnya, tapi Morena menutup mulutnya dengan tangan sendiri, matanya memberi peringatan tanpa kata.
Mereka berjalan menyusuri sungai selama yang mereka bisa tahan, air setinggi betis yang membuat kaki mereka mati rasa dalam hitungan menit, sampai akhirnya Morena memberi isyarat untuk naik kembali ke daratan di sisi seberang, cukup jauh dari titik mereka masuk untuk membingungkan siapa pun yang mengikuti jejak bau di sepanjang tepi sungai.
Gonggongan anjing terdengar semakin sayup, tapi tidak pernah benar-benar hilang.
Di tengah sungai, kaki Lyra tersandung batu licin yang tersembunyi di bawah air, dan ia nyaris terjatuh sepenuhnya kalau saja Morena tidak menangkap lengannya tepat waktu, menariknya kembali berdiri dengan satu gerakan cepat yang terasa seperti refleks murni, tanpa pikir.
"Awas," bisik Morena, meski peringatan itu datang terlambat beberapa detik. "Pelan-pelan. Kita tidak ada gunanya kalau salah satu dari kita patah kaki di tengah sungai beku."
Lyra mengangguk, giginya bergemeletuk terlalu keras untuk bisa ia sembunyikan, dan untuk sesaat ia teringat ayahnya, cara Caelen dulu mengajarinya menyeberangi sungai dangkal dekat Bonsiva saat musim kemarau, memegangi tangannya erat sambil menunjuk batu mana yang aman diinjak dan mana yang licin. Ingatan itu muncul begitu saja, tidak diundang, dan menghilang secepat ia datang, tertelan oleh kebutuhan mendesak untuk terus bergerak.
• • •
Siang itu mereka bersembunyi di balik akar pohon tumbang yang besar, cukup untuk menutupi tubuh mereka berdua dari pandangan siapa pun yang lewat dari jarak tertentu. Morena memeluk Lyra erat, berbagi kehangatan tubuh yang semakin menipis, dan untuk pertama kalinya sejak kejaran dimulai, mereka punya waktu untuk benar-benar bicara.
"Bu," bisik Lyra, "kalau mereka menemukan kita—"