Cahaya obor menembus celah dedaunan tepat ketika langit mulai memutih di ufuk timur, dan Lyra terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena tangan Morena yang mendadak kaku menggenggam bahunya.
"Jangan bergerak," bisik Morena, suaranya nyaris tidak terdengar. "Jangan bersuara."
Melalui celah ranting yang menutupi mulut rongga tempat mereka bersembunyi, Lyra bisa melihat kaki-kaki kuda berhenti tidak jauh dari sana—tiga ekor, mungkin empat—dan suara derap yang turun dari pelana, sepatu baja menapak tanah beku dengan bunyi yang terlalu jelas di tengah hutan yang sunyi.
"Periksa di sekitar sini," kata sebuah suara, berat dan datar, jelas milik seseorang yang terbiasa memberi perintah. "Anjing berhenti tepat di area ini. Mereka tidak akan berhenti tanpa alasan."
Jantung Lyra berdegup begitu keras sampai ia yakin bisa terdengar sampai ke luar rongga persembunyian mereka. Di sampingnya, Morena tidak bergerak sedikit pun, matanya terpejam sesaat seolah mengumpulkan kekuatan untuk sesuatu yang sudah lama ia siapkan dalam pikirannya.
Suara langkah semakin dekat, menyusuri semak demi semak dengan kesabaran yang mengerikan—bukan tergesa-gesa seperti pemburu yang mengejar buruan yang panik, melainkan sistematis, seolah waktu bukan masalah bagi mereka, seolah mereka tahu betul bahwa buruan mereka tidak punya tempat lain untuk pergi. Lyra menghitung setidaknya empat pasang kaki berbeda, mungkin lebih, bergerak melingkari area tempat mereka bersembunyi dengan cara yang membuat harapan untuk lolos tanpa terlihat semakin menipis setiap detiknya.
Morena menggenggam tangan Lyra sekali, erat, dan dalam kegelapan rongga itu Lyra bisa merasakan ibunya menoleh untuk menatapnya—meski wajahnya nyaris tidak terlihat, ia tahu persis ekspresi apa yang sedang Morena kenakan, karena ia sudah melihatnya sekali sebelumnya, di balik akar pohon tumbang, saat Morena memintanya berjanji untuk lari.
Tanpa suara, Morena menarik Lyra ke dalam pelukannya sekali lagi—bukan pelukan yang tergesa-gesa seperti yang biasa mereka bagi selama pelarian, melainkan pelukan yang terasa penuh, lambat, seolah Morena ingin menyimpan setiap detik itu selama mungkin sebelum dunia di luar rongga memaksa mereka berpisah. Lyra menenggelamkan wajahnya di bahu ibunya, menghirup bau asap dan tanah dan keringat yang sudah menempel di sana selama berhari-hari, bau yang seharusnya tidak nyaman tapi terasa seperti satu-satunya hal yang familier di dunia yang sudah berubah sepenuhnya menjadi asing.
"Apa pun yang terjadi setelah ini," bisik Morena, bibirnya nyaris menempel di rambut Lyra, "kau adalah hal terbaik yang pernah kubuat bersama ayahmu. Jangan pernah lupa itu."
Lyra ingin menjawab, ingin mengatakan sesuatu yang sepadan dengan kata-kata itu, tapi tenggorokannya terlalu tercekat untuk mengeluarkan suara apa pun, dan sebelum ia sempat mencoba, suara langkah di luar sudah semakin dekat, memaksa mereka berdua kembali diam sepenuhnya.
• • •
Ranting-ranting yang menutupi mulut rongga tersingkap satu demi satu, dan cahaya pagi yang menyilaukan menerobos masuk bersamaan dengan bayangan seorang prajurit yang berjongkok untuk melihat ke dalam.
Untuk sepersekian detik, tidak ada yang bergerak. Prajurit itu menatap ke dalam kegelapan rongga, matanya menyesuaikan diri, dan Lyra bisa melihat momen persis ketika ia menemukan mereka—kilat pengenalan yang muncul di wajahnya, diikuti seringai kecil yang membuat perut Lyra terasa dingin.
"Ditemukan!" teriaknya, ke arah yang lain. "Di sini, di bawah akar!"
Semuanya terjadi terlalu cepat setelah itu. Morena mendorong Lyra ke belakang tubuhnya sendiri dengan satu gerakan kuat, memposisikan dirinya di antara putrinya dan mulut rongga, tepat ketika prajurit itu meraih ke dalam untuk menariknya keluar.
"Lari," bisik Morena, tanpa menoleh, suaranya mengandung ketenangan yang mengerikan—bukan ketenangan karena tidak takut, tapi ketenangan seseorang yang sudah membuat keputusan dan tidak akan mengubahnya lagi. "Lyra. Sekarang."
"Bu—"
"SEKARANG!"
• • •