Hari kedua sendirian, Lyra menyadari sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya: kesunyian punya banyak lapisan, dan yang paling mengerikan bukanlah tidak adanya suara sama sekali, melainkan suara-suara kecil yang terus mengingatkannya bahwa tidak ada seorang pun lagi yang mendengarnya selain dirinya sendiri.
Ia terbangun di bawah gundukan dedaunan yang ia kumpulkan malam sebelumnya sebagai perlindungan seadanya dari dingin, tubuhnya menggigil meski matahari sudah cukup tinggi untuk menghangatkan udara. Perutnya kosong sejak kemarin—sisa roti keras dan keju pemberian Ilsa sudah habis dua hari lalu, dan sejak itu ia hanya bertahan dengan air dari aliran kecil yang kebetulan ia temukan dan beberapa buah beri liar yang ia yakin bisa dimakan karena pernah melihat burung memakannya.
Ia bangkit perlahan, setiap ototnya terasa protes, dan mulai berjalan lagi—tidak tahu ke mana, hanya tahu bahwa diam berarti mati, dan ia belum siap untuk itu, apa pun alasan yang bisa membuatnya menyerah.
Hutan di sekelilingnya terasa berbeda dari yang mereka lewati bersama kelompok Ilsa beberapa hari lalu—pepohonan di sini lebih tua, lebih besar, akar-akarnya menonjol seperti ular raksasa yang membeku di tengah gerakan, dan cahaya matahari hanya menembus dalam bercak-bercak kecil yang membuat seluruh tempat itu terasa seperti senja abadi, bahkan di tengah hari. Sesekali ia mendengar suara gemerisik di semak-semak yang membuatnya membeku sejenak, jantungnya berdegup kencang sebelum menyadari itu hanya burung atau tupai yang terganggu oleh langkahnya sendiri.
• • •
Di tengah hari, ia menemukan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti sepenuhnya: jejak roda pedati di tanah lembap, cukup segar untuk berarti seseorang baru saja lewat, mungkin tidak lebih dari satu atau dua hari yang lalu.
Untuk sesaat, harapan kecil menyala di dadanya—mungkin ada desa di dekat sini, mungkin ada seseorang yang bisa membantunya, seseorang yang tidak akan bertanya soal marga atau asal-usul, hanya melihatnya sebagai anak yang kelaparan dan kedinginan. Ia mengikuti jejak itu, langkahnya lebih cepat dari yang seharusnya bisa ditanggung tubuhnya yang sudah lemah, sampai akhirnya jejak itu menghilang di jalan berbatu yang lebih keras, tidak lagi bisa dilacak.
Ia berdiri di tengah jalan berbatu itu, berputar sekali, mencoba menentukan arah mana yang paling mungkin diambil pedati itu, dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan Morena, ia merasakan sesuatu selain duka—sesuatu yang lebih dekat dengan putus asa, kesadaran bahwa mungkin saja ia akan mati di sini, sendirian, tanpa seorang pun yang pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Avelis.
Ia memilih arah yang menurun, mengikuti logika sederhana bahwa jalan yang lebih rendah biasanya mengarah ke sungai atau pemukiman, bukan semakin jauh ke pegunungan yang tidak berpenghuni. Sepanjang sore itu, ia berjalan dengan langkah yang semakin lambat, berhenti lebih sering, dan setiap kali berhenti, pikirannya kembali berputar pada hal yang sama—buku catatan ayahnya yang tertinggal di bawah pohon ek, kata "Avelis" yang diucapkan Bu Vessen dengan nada terlalu ingin tahu, angka dua puluh tujuh tahun yang tidak pernah dijelaskan siapa pun dengan lengkap.
Kalau catatan itu benar, kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan tentang keluarganya, maka kematian Morena bukan sekadar kecelakaan nasib buruk—itu adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang sudah direncanakan bertahun-tahun sebelum Lyra bahkan lahir. Pikiran itu seharusnya menakutkan, tapi entah kenapa, di tengah keputusasaannya, ia justru merasakan sesuatu yang lain tumbuh perlahan di dadanya—benih kemarahan yang dingin, jauh berbeda dari kesedihan yang selama ini mendominasi setiap langkahnya.
• • •
Malam itu, berlindung di bawah batu besar yang menjorok membentuk atap alami, Lyra memutuskan untuk bicara—bukan pada siapa pun yang bisa mendengarnya, tapi pada dirinya sendiri, karena keheningan total sudah mulai terasa seperti sesuatu yang bisa membuatnya gila kalau dibiarkan terus.
"Ayah bilang aku harus jujur," katanya, suaranya serak karena jarang dipakai. "Bahkan waktu jujur itu berbahaya. Tapi Ayah tidak pernah bilang apa yang harus kulakukan kalau kejujuran itu sendiri yang membuat semua orang yang kucintai mati satu per satu."
Tidak ada yang menjawab, tentu saja. Hanya suara angin malam yang menyapu dedaunan kering, dan suara jauh binatang malam yang mulai berani keluar setelah gelap benar-benar turun.
"Ibu bilang aku harus bertahan," lanjutnya, lebih pelan. "Aku akan bertahan, Bu. Aku janji. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan itu tanpa kau, tanpa Ayah, tanpa siapa pun."