Butuh empat hari bagi Lyra untuk menemukan jalan kembali ke lembah Bonsiva, empat hari yang ia lalui dengan tekad yang aneh menggantikan rasa takut yang sebelumnya mendominasi setiap langkahnya—bukan karena rasa takut itu hilang, tapi karena sesuatu yang lain, yang lebih keras dan lebih dingin, mulai tumbuh menggantikannya.
Perjalanan itu sendiri hampir menghabiskan sisa tenaganya. Ia bertahan dengan buah beri liar dan akar-akar yang berani ia coba, sesekali menemukan sarang burung yang sudah ditinggalkan berisi telur yang bisa ia makan mentah-mentah meski rasanya membuatnya hampir muntah setiap kali. Malam kedua, hujan turun tanpa ampun, membuatnya harus berlindung di bawah batu besar yang menjorok sepanjang malam, tubuhnya menggigil hebat sampai fajar, dan untuk sesaat ia yakin inilah akhir dari perjalanannya—bahwa ia akan mati sendirian di tengah hutan, jauh dari siapa pun yang mengenalnya, tanpa seorang pun yang akan pernah tahu apa yang terjadi padanya.
Tapi pagi itu datang juga, dan dengan matahari yang menghangatkan tubuhnya sedikit demi sedikit, tekad yang sama yang membawanya sejauh ini kembali menguasainya. Ia bangkit, memaksa kakinya bergerak lagi, karena berhenti bukan lagi pilihan yang bisa ia terima.
Ia mengenali lembah itu dari kejauhan bahkan sebelum bisa melihat detailnya—bentuk bukit-bukit di sekelilingnya, kelokan sungai yang dulu jadi tempatnya bermain bersama Cleay, garis pepohonan di tepi Hutan Voston yang membatasi dunia lamanya dari dunia yang tidak pernah ia jelajahi. Tapi begitu ia cukup dekat untuk melihat lembah itu sendiri, langkahnya terhenti sepenuhnya, dan untuk beberapa saat ia hanya berdiri di sana, tidak sanggup memaksa kakinya bergerak lebih jauh.
Bonsiva sudah tidak ada lagi.
Yang tersisa hanya kerangka-kerangka hitam bangunan yang dulu jadi rumah, cerobong asap yang berdiri sendirian tanpa dinding di sekelilingnya, dan abu—abu di mana-mana, menutupi tanah seperti salju yang salah warna, terbawa angin setiap kali berembus cukup kencang.
• • •
Ia mendekat dengan hati-hati, mengikuti jalur yang jauh dari jalan utama, bersembunyi di balik apa pun yang tersisa untuk disembunyikan—tumpukan puing, pohon yang selamat, gundukan tanah yang dulu jadi pembatas ladang. Ketakutan bahwa pasukan Mevira masih berjaga di reruntuhan itu tidak pernah sepenuhnya hilang, dan insting itu terbukti benar ketika, dari balik sebongkah batu besar di tepi apa yang dulu jadi alun-alun desa, ia melihat sekelompok kecil prajurit bergerak di antara reruntuhan.
Ia bersembunyi lebih lama dari yang seharusnya, mengamati setiap gerakan mereka dengan kewaspadaan yang tidak pernah ia miliki sebelum minggu ini—cara mereka membagi tugas, cara mereka bicara satu sama lain tanpa benar-benar peduli pada apa yang mereka lakukan, cara salah satu dari mereka meludah ke tanah dengan jijik setiap kali harus menyentuh sesuatu yang terlalu hangus untuk dikenali. Ada sesuatu dalam kebiasaan mereka yang begitu biasa, begitu rutin, yang membuat Lyra merasa mual lebih daripada kekerasan itu sendiri—seolah apa yang mereka lakukan hanyalah pekerjaan seperti pekerjaan lainnya, tidak ada bedanya dengan menggali sumur atau membangun pagar.
Mereka tidak berpatroli seperti yang ia bayangkan. Mereka bekerja—menggali, mengangkut, membuang sesuatu ke dalam lubang besar yang sudah mereka gali di tanah yang dulu jadi ladang gandum keluarga Wilton.
Lyra membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari apa yang sedang mereka lakukan.
Jasad. Mereka mengumpulkan jasad yang tersisa dari kebakaran itu, menguburkannya bersama-sama dalam satu lubang besar, tanpa upacara, tanpa nama, tanpa penghormatan apa pun—hanya pekerjaan rutin yang harus diselesaikan sebelum mereka bisa meninggalkan tempat itu sepenuhnya.
Ia mengenali salah satu dari mereka yang digotong ke lubang itu—atau setidaknya, ia pikir ia mengenalinya, dari sisa-sisa kain yang masih menempel di tubuh yang sudah tidak lagi berbentuk manusia sepenuhnya. Ia memalingkan wajah, perutnya bergolak, dan untuk beberapa saat ia hanya bisa duduk membeku di balik batu itu, menjadi saksi bisu atas penghinaan terakhir yang diterima orang-orang yang pernah menjadi tetangganya.
Salah satu prajurit berhenti sejenak, menyeka keringat dari dahinya meski udara dingin, dan berbicara pada temannya dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai ke tempat Lyra bersembunyi.
"Berapa banyak lagi yang harus kita gali?"