Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #20

BAB 20 — SUMPAH DI ATAS RERUNTUHAN

Fajar menyingsing dengan warna yang aneh, jingga bercampur abu-abu, seolah langit sendiri belum memutuskan apakah hari itu akan jadi hari yang baru atau sekadar kelanjutan dari mimpi buruk yang belum berakhir. Lyra terbangun dengan buku catatan ayahnya masih terjaga erat di dadanya, dan untuk sesaat ia hanya berbaring diam, mendengarkan suara-suara pagi yang mulai muncul di sekitar reruntuhan—burung yang berani kembali bersarang di antara pepohonan yang selamat, angin yang membawa bau abu yang mulai bercampur dengan bau tanah basah oleh embun.

Ia bangkit perlahan, tubuhnya kaku oleh dingin dan posisi tidur yang tidak nyaman, dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Bonsiva, ia membiarkan dirinya membuka bungkusan kain minyak itu sepenuhnya, di bawah cahaya pagi yang cukup terang untuk membaca.

Ia duduk bersandar pada batang pohon ek, kakinya ditekuk ke dada, dan untuk sesaat hanya menatap sampul using buku itu tanpa membukanya—takut, ia menyadari, bukan pada apa yang mungkin tertulis di dalamnya, tapi pada kenyataan bahwa begitu ia membacanya, tidak akan ada jalan untuk kembali menjadi gadis yang tidak tahu apa-apa lagi. Selama ini, ketidaktahuan memberinya semacam perlindungan tipis—kemungkinan bahwa semua ini hanya kesalahpahaman, bahwa Bonsiva dihancurkan karena alasan yang lebih sederhana dan lebih masuk akal daripada konspirasi bertahun-tahun. Membuka buku ini berarti melepaskan kemungkinan itu selamanya.

Tapi ia sudah kehilangan terlalu banyak untuk terus bersembunyi di balik ketidaktahuan. Ia menarik napas dalam-dalam, dan membuka halaman pertama.

• • •

Halaman-halaman yang tersisa penuh tulisan tangan Caelen yang rapi tapi terburu-buru, seolah ditulis dalam waktu yang sangat terbatas atau dengan tangan yang sudah mulai lemah oleh sakit. Beberapa bagian robek, seperti yang selalu ia ingat, meninggalkan kalimat-kalimat yang terpotong di tengah, nama-nama yang hilang separuh, tanggal-tanggal yang tidak lagi lengkap.

Tapi ada satu halaman yang utuh, yang belum pernah benar-benar ia baca dengan saksama sebelumnya karena Caelen selalu buru-buru menutup buku itu setiap kali Lyra mendekat—satu halaman yang sekarang, di tengah reruntuhan yang membisu, akhirnya bisa ia baca sepenuhnya untuk pertama kalinya.

*Kalau suatu hari kau membaca ini, Lyra, itu berarti aku sudah tidak ada lagi untuk menjelaskannya sendiri padamu. Aku minta maaf untuk itu—untuk semua yang tidak sempat kukatakan, untuk kebohongan kecil yang kupaksakan demi melindungimu selama mungkin. Namaku bukan hanya Caelen. Aku lahir dengan nama lain, di tempat lain, dalam keluarga yang tidak pernah kuceritakan padamu karena aku takut mengetahuinya akan membahayakanmu lebih daripada tidak mengetahuinya. Tapi kalau kau membaca ini, mungkin bahaya itu sudah datang juga, apa pun yang kulakukan untuk mencegahnya. Yang bisa kukatakan hanyalah: jangan percaya semua yang tertulis di Balai Arsip tentang keluarga Avelis. Dua puluh tujuh tahun lalu, bukan semua orang mati seperti yang mereka klaim.*

Tulisan itu berhenti di sana, entah karena Caelen tidak sempat melanjutkannya, atau karena halaman berikutnya adalah salah satu yang robek, hilang entah ke mana sebelum buku ini sampai ke tangan Lyra.

Ia membalik halaman berikutnya dengan tangan gemetar, berharap menemukan lebih banyak, tapi yang tersisa hanya sobekan-sobekan kecil di tepi jilidan, bukti bahwa halaman itu—mungkin berisi penjelasan yang lebih lengkap, mungkin nama-nama yang bisa membantunya memahami lebih jauh—sudah tidak ada lagi, entah dirobek Caelen sendiri karena terlalu berbahaya untuk disimpan, atau hilang karena alasan lain yang tidak akan pernah bisa ia ketahui.

Ia teringat ayahnya duduk di kursi kayu dekat perapian, buku ini terbuka di pangkuannya, selalu menutupnya cepat-cepat setiap kali Lyra masuk ruangan tanpa mengetuk lebih dulu. Dulu ia pikir itu hanya kebiasaan orang dewasa yang aneh, semacam privasi yang tidak perlu ia pertanyakan. Sekarang ia memahami beratnya—ayahnya menyimpan rahasia yang begitu besar, begitu berbahaya, sampai ia bahkan tidak berani membiarkan putrinya sendiri melihat sekilas pun, demi melindunginya dari bahaya yang pada akhirnya datang juga, seperti yang sudah diramalkan Caelen sendiri di halaman terakhir yang ia tulis.

• • •

Lyra membaca kalimat-kalimat itu berulang kali, sampai ia yakin setiap katanya terpahat sempurna dalam ingatannya, sampai tangannya berhenti gemetar dan matanya berhenti berkaca-kaca cukup lama untuk benar-benar memahami beratnya apa yang baru saja ia baca.

Ayahnya tahu. Ayahnya tahu sejak lama bahwa dirinya bukan sekadar petani biasa, bahwa nama Avelis yang mereka bawa bukan kebetulan, bahwa kebohongan tentang kepunahan total dua puluh tujuh tahun lalu adalah kebohongan yang sengaja dipelihara oleh seseorang, entah siapa, yang cukup berkuasa untuk memastikan tidak ada yang pernah mempertanyakannya.

Lihat selengkapnya