Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #21

BAB 21 — LANGKAH TANPA SUARA

Hutan Voston menelan suara dengan cara yang berbeda dari hutan mana pun yang pernah Lyra lewati sebelumnya—bukan hanya meredam, tapi seolah menyerapnya sepenuhnya, sampai langkah kakinya sendiri di atas lantai hutan yang tebal oleh daun-daun busuk nyaris tidak menghasilkan bunyi sama sekali.

Ia sudah berjalan tiga hari sejak meninggalkan reruntuhan Bonsiva, dan entah sejak kapan, ia menyadari bahwa tubuhnya sendiri sudah berubah cara bergeraknya—lebih hati-hati, lebih waspada, setiap langkah dipertimbangkan sebelum benar-benar diletakkan, seolah insting bertahan hidup yang dulu hanya diajarkan Morena sekilas kini telah tertanam jauh lebih dalam, menjadi bagian dari caranya bergerak di dunia.

Pada hari pertama memasuki hutan yang lebih dalam ini, ia harus menyeberangi sebuah jurang sempit yang hanya dihubungkan oleh sebatang pohon tumbang, kulit kayunya licin oleh lumut dan embun pagi. Ia berdiri lama di tepi jurang itu, menatap ke bawah pada dasar yang tidak terlihat karena tertutup kabut, sebelum akhirnya memaksa dirinya melangkah—satu kaki, lalu kaki lainnya, tangannya terentang untuk keseimbangan, jantungnya berdegup kencang setiap kali kayu di bawah kakinya bergeser sedikit. Ia sampai di seberang dengan lutut gemetar dan napas tersengal, tapi selamat, dan untuk sesaat ia hanya duduk di tanah, membiarkan tubuhnya pulih dari ketegangan yang baru saja dilaluinya.

Pepohonan di sini jauh lebih tua daripada apa pun di tepi hutan yang pernah ia lihat—batang-batangnya begitu besar sampai perlu tiga orang dewasa untuk memeluknya sepenuhnya, akar-akarnya menonjol dari tanah membentuk labirin alami yang harus dilewati dengan hati-hati, dan cahaya matahari hanya menembus dalam bercak-bercak kecil yang membuat seluruh hutan terasa seperti berada dalam senja abadi, bahkan di tengah siang yang paling cerah sekalipun.

• • •

Lyra sudah kehilangan hitungan berapa hari sejak terakhir kali ia makan sesuatu yang bisa disebut makanan sungguhan. Buah beri yang ia temukan semakin jarang seiring ia masuk lebih dalam ke hutan yang lebih gelap dan lebih lembap, dan meski ia sudah belajar mengenali beberapa jenis jamur yang aman dimakan—pelajaran yang datang lewat percobaan yang menakutkan, dengan mual dan sakit perut sebagai gurunya—perutnya tetap terasa kosong sepanjang waktu, sebuah rasa lapar yang sudah bertransformasi menjadi semacam kepedihan tumpul yang selalu ada di latar belakang setiap pikirannya.

Tapi lebih dari kelaparan, yang paling mengubahnya adalah kesunyian itu sendiri. Selama berhari-hari tanpa suara manusia lain, tanpa seorang pun untuk diajak bicara selain dirinya sendiri, Lyra menemukan bahwa pikirannya mulai bergerak dengan cara yang berbeda—lebih tajam pada beberapa hal, lebih waspada pada bahaya, tapi juga lebih rentan tenggelam dalam ingatan yang seharusnya ia biarkan berlalu.

Ia berbicara pada dirinya sendiri lebih sering sekarang, bukan karena kesepian semata, tapi karena suara—suaranya sendiri, sekecil dan seserak apa pun itu—terasa seperti satu-satunya bukti bahwa ia masih manusia, bukan sekadar bayangan yang berjalan tanpa arah di antara pepohonan yang tidak berujung.

"Kalau Cleay ada di sini," katanya suatu kali, pada tidak seorang pun kecuali dirinya sendiri, "dia pasti sudah mengeluh soal jamurnya sejak tadi." Ia tersenyum kecil, senyum pertama yang benar-benar terasa seperti senyum sejak kematian Morena, membayangkan wajah sahabatnya yang akan mengernyit setiap kali diminta mencicipi sesuatu yang mencurigakan. Bayangan itu menghilang secepat munculnya, digantikan kerinduan yang menyakitkan, tapi untuk sesaat, ia bersyukur masih bisa merasakan sesuatu selain duka dan ketakutan.

• • •

Di suatu titik pada hari ketiga itu, ia menemukan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti—sebuah tanda yang diukir di kulit sebatang pohon tua, terlalu rapi untuk terbentuk secara alami, berbentuk simbol yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: sebuah lingkaran dengan tiga garis melengkung di dalamnya, seperti gelombang air atau helai rambut yang tertiup angin.

Ia menyentuh ukiran itu dengan jarinya, mencoba merasakan kedalamannya, mencoba menebak berapa lama simbol itu sudah ada di sana. Tidak ada penjelasan yang bisa ia pikirkan—bukan tanda batas ladang, bukan tanda jalur pemburu yang biasa ia lihat orang dewasa Bonsiva buat di hutan-hutan dekat desa. Sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tua, lebih personal.

Ia mengikuti jejak ukiran serupa yang, begitu ia mulai memperhatikan, ternyata muncul di beberapa pohon lain di sekitarnya, membentuk semacam jalur yang tidak langsung tapi konsisten—selalu di ketinggian yang sama, selalu menghadap arah yang sama, seolah sengaja dibuat sebagai penanda bagi seseorang yang tahu cara membacanya. Ia tidak tahu apakah harus mengikutinya atau menghindarinya; tanda-tanda seperti ini bisa berarti perlindungan atau bisa berarti peringatan, dan tanpa seorang pun untuk bertanya, ia hanya bisa menebak berdasarkan naluri yang semakin lama semakin ia percayai.

Ia memutuskan untuk mengikutinya, sebagian karena penasaran, sebagian lagi karena tidak punya arah lain yang lebih baik untuk dituju.

Lihat selengkapnya