Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #22

BAB 22 — BATAS LELAH DI RIMBA VOSTON

Kedua kakinya menyerah lebih dulu daripada tekadnya yang masih tersisa, dan Lyra jatuh tersungkur di atas akar yang menonjol, terlalu lelah bahkan untuk merasakan sakit dari benturan itu sepenuhnya.

Ia sudah mengikuti jalur setapak itu selama dua hari penuh, berjalan dari fajar sampai gelap benar-benar turun, dan tubuhnya—yang sudah didorong jauh melampaui batas wajarnya sejak Bonsiva terbakar—akhirnya mulai memberontak melawan tuntutan yang terus ia bebankan padanya. Setiap langkah terasa seperti mengangkat beban yang jauh lebih berat daripada tubuhnya sendiri, dan pandangannya sesekali berkedip gelap di tepi-tepinya, tanda yang bahkan seorang anak sebelas tahun bisa mengenali sebagai peringatan bahwa tubuhnya sudah mencapai batasnya.

Jalur setapak yang ia ikuti sejak dua hari lalu semakin sulit dilacak seiring hutan berubah menjadi lebih rapat, lebih liar, seolah semakin dekat ia dengan apa pun yang menjadi tujuan jalur itu, semakin keras pula hutan berusaha menghalanginya. Duri-duri menggores lengannya yang sudah penuh luka kecil dari hari-hari sebelumnya, dan lebih dari sekali ia harus berhenti untuk melepaskan pakaiannya yang tersangkut semak, gerakan yang seharusnya sederhana tapi terasa seperti pekerjaan berat bagi tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga.

• • •

Ia memaksa dirinya bangkit, lengannya gemetar menopang beratnya sendiri, dan untuk beberapa saat hanya berlutut di tanah, mengatur napas yang terasa seperti menarik pisau setiap kali masuk ke paru-parunya. Umbi-umbi yang ia temukan dua hari lalu sudah habis sejak kemarin, dan sejak itu ia hanya bertahan dengan air dari aliran-aliran kecil yang kebetulan ia temukan sepanjang jalur.

"Bangun," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tidak terdengar bahkan bagi telinganya sendiri. "Kau harus bangun, Lyra. Ibu tidak mengorbankan dirinya supaya kau menyerah di tengah hutan seperti ini."

Kata-kata itu, meski diucapkan pada dirinya sendiri dalam keputusasaan, entah bagaimana memberinya cukup tenaga untuk berdiri sepenuhnya, meski tubuhnya bergoyang seperti pohon muda diterpa angin kencang.

Ia teringat lagi liontin kayu di sakunya, menyentuhnya sekali lewat kain mantelnya yang sudah lusuh, mengambil sedikit kekuatan dari ukiran daun ek yang kasar itu—pengingat bahwa di suatu tempat, entah di mana, Cleay mungkin sedang melakukan hal yang sama seperti dirinya sekarang: bertahan, melangkah, menolak menyerah, demi janji yang mereka ucapkan satu sama lain di malam perpisahan itu.

• • •

Sepanjang pagi itu, ia berjalan dengan langkah yang semakin goyah, berhenti lebih sering, setiap kali berhenti membutuhkan waktu lebih lama untuk memaksa dirinya bergerak lagi. Ia mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan waktu—apakah sudah berapa jam sejak terakhir kali ia beristirahat, apakah matahari yang samar di balik kanopi pepohonan menunjukkan pagi atau menjelang siang, semuanya berbaur menjadi satu kabut kelelahan yang menutupi setiap indranya.

Sesekali ia tersandung akar yang tidak terlihat, jatuh dengan keras ke tanah, dan setiap kali itu terjadi, bangkit kembali terasa seperti pertempuran tersendiri melawan tubuhnya sendiri yang menjerit untuk berhenti, untuk beristirahat, untuk menyerah pada kelelahan yang sudah menumpuk berhari-hari tanpa jeda yang layak.

Menjelang siang, ia berhenti di tepi sebuah kolam kecil yang airnya jernih meski dikelilingi lumut tebal, dan untuk pertama kalinya sejak kematian Morena, ia menatap bayangannya sendiri dengan perhatian yang lebih lama—wajah yang begitu kurus sampai tulang pipinya menonjol jelas, mata yang cekung karena kurang tidur dan kurang makan, bibir yang pecah-pecah oleh dingin dan dehidrasi. Ia nyaris tidak mengenali gadis yang menatap balik dari permukaan air itu, dan untuk sesaat, ketakutan yang lebih dalam daripada sekadar takut mati menghantamnya—ketakutan bahwa mungkin ia sudah melampaui titik di mana tubuhnya bisa pulih sepenuhnya, bahwa kerusakan yang sudah terjadi terlalu besar untuk diperbaiki hanya dengan makanan dan istirahat.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin itu, memaksa dirinya untuk tidak tenggelam dalam pikiran-pikiran semacam itu, dan melanjutkan perjalanan sebelum keputusasaan sempat menguasainya sepenuhnya.

• • •

Lihat selengkapnya