Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #23

BAB 23 — LENTERA DI RUMAH TERASING

Kehangatan adalah hal pertama yang benar-benar Lyra sadari kembali—kehangatan yang begitu asing setelah berhari-hari menggigil, begitu nyata sampai untuk sesaat ia yakin masih bermimpi, salah satu dari mimpi-mimpi kabur yang sering mengunjunginya sejak kematian Morena.

Ia membuka mata perlahan, dan yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kayu yang tidak ia kenal, gelap dan rendah, diterangi cahaya perapian yang berderak pelan di suatu tempat di luar jangkauan penglihatannya. Ia mendapati dirinya berbaring di atas sesuatu yang terasa begitu empuk—jauh lebih empuk daripada tanah atau dedaunan kering yang sudah jadi alas tidurnya selama hampir dua minggu terakhir—diselimuti kain tebal yang berbau seperti herba kering dan asap kayu.

Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam, mencoba memahami di mana ia berada, mencoba memilah ingatan terakhirnya sebelum kegelapan mengambil alih—hujan, cahaya lentera, pintu yang mulai terbuka.

Tubuhnya terasa berat dengan cara yang aneh, seolah setiap ototnya baru saja selesai bertarung dalam pertempuran yang panjang, dan ketika ia mencoba menggerakkan jarinya, butuh usaha yang lebih besar dari yang seharusnya hanya untuk sekadar mengepalkan tangan. Ada perban kasar melilit salah satu lututnya, dan ketika ia menyentuhnya, ia merasakan sengatan nyeri yang mengingatkannya pada luka-luka yang tergores selama perjalanan terakhirnya menuju cahaya lentera itu.

• • •

"Kau sudah bangun."

Suara itu datang dari sudut ruangan, dalam dan tenang, tidak terkejut sama sekali seolah sudah menunggu momen ini sejak lama. Lyra menoleh dengan susah payah, tubuhnya masih terasa berat dan lemah, dan melihat sosok seorang perempuan duduk di kursi kayu dekat perapian, tangannya sibuk menganyam sesuatu dari serat tumbuhan kering.

Perempuan itu tidak muda, tapi juga tidak benar-benar tua—wajahnya menyimpan garis-garis yang menunjukkan hidup yang keras, matanya tajam dan waspada dengan cara yang mengingatkan Lyra pada burung pemangsa, dan rambutnya, sebagian besar abu-abu, diikat kasar ke belakang tanpa hiasan apa pun. Ia mengenakan pakaian sederhana yang sudah usang tapi terawat, dan di sekelilingnya, seluruh ruangan tampak sama—sederhana, fungsional, tanpa satu pun ornamen yang tidak perlu.

"Berapa lama aku..." suara Lyra pecah, tenggorokannya terasa seperti pasir kering.

"Tiga hari," jawab perempuan itu, tidak menghentikan pekerjaannya. "Kau datang dengan demam tinggi dan tubuh yang nyaris membeku. Kupikir kau tidak akan bertahan malam pertama." Ia akhirnya mendongak, matanya menilai Lyra dari kepala sampai kaki dengan cara yang membuat Lyra merasa seperti sedang diperiksa, bukan sekadar dilihat. "Tapi kau bertahan. Anak-anak sepertimu biasanya lebih keras kepala daripada yang terlihat."

• • •

Lyra mencoba duduk, dan perempuan itu, meski tidak bergerak untuk membantu, mengawasi dengan cermat, siap bertindak kalau diperlukan tapi tidak menawarkan bantuan yang tidak diminta.

"Siapa kau?" tanya Lyra, akhirnya, setelah berhasil duduk tegak meski kepalanya masih terasa ringan.

"Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa kau," jawab perempuan itu, meletakkan anyamannya untuk pertama kalinya, menatap Lyra langsung dengan mata yang tidak menunjukkan belas kasihan berlebihan, hanya penilaian yang dingin dan waspada. "Anak sebelas atau dua belas tahun, sendirian, jauh dari pemukiman mana pun, dengan luka-luka yang menunjukkan pelarian panjang. Itu bukan kebetulan."

Lyra terdiam, insting bertahan yang sudah ia bangun selama pelarian mendesaknya untuk berhati-hati, untuk tidak membuka terlalu banyak informasi pada orang asing, sekalipun orang asing itu baru saja menyelamatkan nyawanya.

"Namaku Lyra," katanya, akhirnya, memilih untuk memberikan informasi seminimal mungkin. "Desaku... diserang. Aku satu-satunya yang selamat."

Mata perempuan itu menyipit sedikit, seolah mendeteksi ketidaklengkapan dalam jawaban itu, tapi ia tidak mendesak lebih jauh—setidaknya untuk saat ini.

"Kau bisa memanggilku Ny. Holton," katanya, kembali pada anyamannya. "Aku tinggal sendirian di sini, jauh dari siapa pun yang mungkin mencariku atau siapa pun yang mungkin kau lari darinya. Itu pengaturan yang cocok untuk kita berdua, untuk saat ini."

Lihat selengkapnya