Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #24

BAB 24 — TAMU TAK DIUNDANG DI AMBANG PINTU

Ketukan keras di pintu datang tanpa peringatan sama sekali, tiga kali, keras dan tegas—bukan ketukan seorang tamu yang sopan, melainkan ketukan seseorang yang terbiasa diberi akses ke mana pun ia mau.

Ny. Holton membeku seketika, tangannya yang tadi sedang menuang air ke dalam panci berhenti di udara, matanya langsung menajam dengan cara yang belum pernah Lyra lihat sebelumnya selama empat hari tinggal di rumah itu. Dalam sepersekian detik, seluruh sikap tenangnya berubah jadi kewaspadaan penuh yang mengingatkan Lyra dengan tajam pada cara mendiang Morena dulu bersiap menghadapi bahaya yang mengintai.

"Ke sudut itu," bisik Ny. Holton, menunjuk ke arah tumpukan peti kayu di sudut ruangan yang paling gelap, jauh dari jangkauan cahaya perapian. "Sekarang. Jangan bersuara apa pun yang terjadi."

• • •

Lyra bergerak cepat, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, merangkak ke balik tumpukan peti yang untungnya cukup besar untuk menyembunyikannya sepenuhnya dari pandangan siapa pun yang berdiri di pintu. Dari celah kecil antara dua peti, ia bisa melihat sebagian ruangan—cukup untuk menyaksikan Ny. Holton menata wajahnya kembali menjadi tenang sebelum melangkah menuju pintu.

Debu dari peti-peti tua itu membuat hidungnya gatal, dan Lyra harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak bersin, menutup hidungnya dengan kedua tangan sambil menahan napas sebisa mungkin. Jantungnya berdegup begitu keras sampai ia yakin bisa terdengar bahkan dari balik pintu, dan setiap detik yang berlalu terasa seperti waktu yang meregang tanpa akhir.

Ketukan itu terdengar lagi, lebih tidak sabar kali ini.

"Sebentar," kata Ny. Holton, suaranya berubah total—lebih tua, lebih lemah, nada seorang perempuan tua yang hidup sendirian dan tidak terbiasa menerima tamu, sama sekali berbeda dari suara tegas yang biasa ia gunakan pada Lyra. Ia membuka pintu hanya secukupnya untuk melihat siapa yang datang, tubuhnya memblokir pandangan ke dalam rumah.

"Maaf mengganggu, Nyonya." Suara seorang pria, formal dan dingin, jenis suara yang biasa digunakan orang-orang yang terbiasa memberi perintah. "Kami sedang mencari seorang anak perempuan, sekitar sebelas tahun, mungkin melewati area ini beberapa hari terakhir. Apakah Nyonya melihat sesuatu yang mencurigakan?"

Jantung Lyra berhenti berdetak untuk sesaat.

• • •

"Anak perempuan?" Ny. Holton terdengar bingung, nada suaranya sempurna dalam kepura-puraannya. "Aku tidak melihat siapa pun sejak musim gugur lalu, Tuan. Aku tinggal sendirian di sini, cukup jauh dari jalur yang biasa dilewati orang."

"Kami menemukan jejak yang mengarah ke area ini," kata suara itu lagi, tidak sepenuhnya percaya. "Keberatan kalau kami memeriksa sekitar rumah Nyonya?"

"Jejak seperti apa, kalau boleh tahu?" tanya Ny. Holton, nada suaranya penuh keingintahuan seorang perempuan tua yang kesepian, bukan kecurigaan yang sebenarnya sedang membakar dadanya.

"Itu bukan informasi yang bisa kami bagikan, Nyonya," jawab suara itu, dingin dan tidak main-main. "Cukup katakan kalau Nyonya melihat sesuatu."

Ada jeda yang terasa terlalu panjang sebelum Ny. Holton menjawab, dan Lyra bisa membayangkan perempuan itu menimbang setiap kemungkinan dengan cepat di baliknya.

"Tentu saja, Tuan, silakan," katanya, akhirnya, suaranya tetap tenang meski Lyra yakin, dari balik peti, itu adalah kebohongan paling berani yang pernah ia dengar. "Meski aku tidak yakin apa yang akan kalian temukan selain rumah tua dan kebun yang berantakan."

Suara langkah kaki bergerak menjauh dari pintu, mengelilingi rumah, dan Lyra menahan napas sepenuhnya, tubuhnya menegang di balik peti, siap untuk apa pun yang mungkin terjadi kalau mereka memutuskan untuk masuk juga.

• • •

Menit-menit berikutnya terasa seperti waktu paling panjang dalam hidup Lyra sejak malam ibunya meninggal. Ia bisa mendengar langkah-langkah berat mengelilingi rumah, suara pintu gudang kecil di belakang dibuka dan ditutup, gumaman pelan antara dua atau tiga suara berbeda yang tidak sepenuhnya bisa ia pahami.

Sekali, langkah kaki itu berhenti tepat di luar jendela dekat tempatnya bersembunyi, cukup dekat sampai Lyra bisa mendengar napas orang itu sendiri, dan untuk sesaat ia yakin jantungnya sendiri yang akan mengkhianatinya, berdegup begitu keras sampai terdengar sampai ke luar. Bayangan sosok itu bergerak melintasi tirai jendela yang tipis, berhenti, seolah memperhatikan sesuatu, sebelum akhirnya bergerak lagi, melanjutkan pemeriksaan ke bagian lain rumah.

Lihat selengkapnya