Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #25

BAB 25 — MEMILIH HIDUP ATAU MATI

Seminggu penuh setelah kedatangan prajurit yang mengetuk pintu itu, Lyra menemukan dirinya duduk di tanah becek di halaman belakang rumah, tersengal-sengal, sebilah tongkat kayu tergeletak beberapa langkah darinya setelah terlempar dari tangannya untuk ketiga kalinya pagi itu.

"Bangun," kata Ny. Holton, berdiri di atasnya dengan tongkat kayu lain di tangan, tidak menawarkan bantuan untuk berdiri. "Kau tidak akan belajar apa pun kalau terus duduk di tanah mengasihani dirimu sendiri."

"Aku sudah mencoba tiga kali," protes Lyra, tangannya perih oleh gesekan kayu yang berulang kali lepas dari genggamannya. "Aku tidak—"

"Kau tidak mencoba cukup keras," potong Ny. Holton, tidak peduli pada nada memohon dalam suara Lyra. "Ada bedanya antara mencoba dan sekadar melakukan gerakan sampai kau bisa berhenti tanpa merasa bersalah."

• • •

Sudah tiga hari sejak Ny. Holton memutuskan bahwa waktu berkabung Lyra, meski sah dan dipahami, tidak bisa lagi jadi alasan untuk berdiam diri. "Dunia yang mengejarmu tidak peduli seberapa lama kau butuh waktu untuk sembuh," katanya waktu itu, ketika Lyra masih menghabiskan sebagian besar harinya duduk diam menatap api, terperangkap dalam ingatan yang terus berputar. "Kalau kau ingin bertahan, kau harus mulai bertindak seperti seseorang yang ingin bertahan, bukan seseorang yang menunggu nasib memutuskan untuknya."

Momen itu—hari ketika semuanya berubah—dimulai dengan sederhana. Lyra sedang duduk di dekat perapian, menatap kosong ke arah api seperti yang sudah menjadi kebiasaannya selama beberapa hari terakhir, ketika Ny. Holton berdiri di hadapannya, memblokir pandangannya ke api dengan sengaja.

"Berapa lama lagi kau berencana melakukan ini?" tanya Ny. Holton, tidak ada nada simpati dalam suaranya.

"Melakukan apa?" Lyra mendongak, bingung dan sedikit tersinggung.

"Ini." Ny. Holton menggerakkan tangannya, mencakup seluruh sosok Lyra yang meringkuk di dekat api, matanya kosong, bahunya turun. "Menunggu. Bersedih. Bertahan hanya karena tubuhmu belum sepenuhnya menyerah, bukan karena kau benar-benar memilih untuk hidup."

"Ibuku baru saja mati," kata Lyra, suaranya pecah oleh kemarahan yang tiba-tiba muncul. "Ayahku sudah mati sebelumnya. Aku kehilangan segalanya. Apa yang Anda harapkan dariku?"

"Aku mengharapkan kau memilih," jawab Ny. Holton, tidak goyah oleh kemarahan Lyra. "Ada dua jalan di depanmu sekarang, Lyra. Satu jalan, kau terus seperti ini—berduka, menunggu, membiarkan dunia melakukan apa pun yang ia mau padamu karena kau terlalu patah untuk melawan. Jalan itu berakhir dengan kau mati, entah cepat oleh pedang prajurit, atau lambat oleh kesedihan yang menggerogotimu dari dalam. Jalan lain, kau berhenti menunggu izin untuk hidup, dan mulai bertarung untuk itu—bukan karena kesedihanmu tidak nyata, tapi karena kesedihan dan tekad bisa hidup berdampingan, kalau kau mengizinkan keduanya."

Kata-kata itu menghantam Lyra lebih keras daripada tongkat kayu mana pun yang akan ia rasakan hari-hari berikutnya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa Ny. Holton tidak mengerti, tidak bisa memahami beratnya apa yang sudah ia lalui—tapi sesuatu dalam mata perempuan itu, semacam pengakuan diam bahwa ia sendiri pernah berdiri di persimpangan yang sama, membuat Lyra menelan bantahannya.

"Bagaimana caranya memilih?" tanya Lyra, akhirnya, suaranya kecil.

"Dengan bangkit," kata Ny. Holton, sederhana. "Besok pagi. Kita mulai dengan tubuhmu, karena itu yang paling mudah dilatih. Pikiranmu akan menyusul, kalau kau memberinya waktu."

Kata-kata itu terasa kejam saat pertama diucapkan, tapi Lyra mulai memahami, perlahan-lahan, bahwa itu bukan kekejaman tanpa tujuan—Ny. Holton sedang mengajarinya sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar cara memegang tongkat kayu dengan benar.

Hari pertama latihan itu dimulai dengan canggung dan penuh kegagalan. Ny. Holton menyerahkan tongkat kayu sederhana padanya, menunjukkan posisi dasar yang harus ia ambil, dan dalam hitungan detik pertama menyerangnya dengan tongkatnya sendiri—bukan untuk melukai, tapi cukup keras untuk membuat Lyra terjungkal ke tanah, tongkatnya terlempar dari genggaman yang belum terbiasa.

"Lagi," kata Ny. Holton, tidak menunjukkan simpati atas kejatuhan itu.

Lyra bangkit, mengambil kembali tongkatnya, dan mencoba lagi—dan lagi, dan lagi, sampai matahari bergerak tinggi di langit dan tubuhnya penuh memar baru di atas memar lama yang belum sepenuhnya sembuh dari pelariannya. Setiap kali ia jatuh, bagian dari dirinya ingin menyerah, ingin duduk di tanah dan membiarkan air mata mengalir seperti yang sudah menjadi kebiasaannya selama berminggu-minggu terakhir—tapi setiap kali itu terjadi, suara Ny. Holton yang tegas memaksanya bangkit lagi, tidak memberinya ruang untuk tenggelam dalam keputusasaan.

Lihat selengkapnya