"Ceritakan lagi," kata Ny. Holton, tanpa pengantar apa pun, tepat ketika Lyra baru saja duduk hendak menyantap sarapan paginya itu.
Lyra mendongak, kebingungan. "Menceritakan apa?"
"Malam Bonsiva terbakar. Dari awal. Setiap detail yang kau ingat." Ny. Holton duduk di kursinya sendiri, tangannya terlipat, matanya menatap Lyra dengan intensitas yang tidak biasa bahkan untuk perempuan yang sudah dikenalnya selama beberapa minggu terakhir ini. "Bukan versi singkat yang sudah kau ceritakan sebelumnya. Semuanya."
"Kenapa?" Lyra merasakan sesuatu yang dingin merambat di dadanya, keengganan yang instingtif terhadap permintaan itu. "Aku sudah menceritakan semuanya minggu lalu."
"Kau menceritakan garis besarnya," koreksi Ny. Holton. "Bukan detailnya. Ada perbedaan besar antara keduanya, dan perbedaan itu penting."
• • •
Lyra mendorong mangkuknya menjauh, nafsu makannya tiba-tiba hilang. "Aku tidak mengerti kenapa ini perlu."
"Karena kau menyimpan luka itu seperti benda yang terlalu berbahaya untuk disentuh," kata Ny. Holton, suaranya tidak keras tapi tegas, tidak menerima penolakan. "Kau melatih tubuhmu untuk bertahan, kau melatih pikiranmu untuk memahami dunia yang lebih besar—tapi kau belum pernah benar-benar menghadapi apa yang terjadi malam itu, kata demi kata, sampai kau bisa menceritakannya tanpa suaramu pecah di setiap kalimat."
"Kenapa itu penting?" Lyra bisa merasakan air matanya mulai berkumpul, meski ia belum sepenuhnya memahami kenapa permintaan sesederhana ini terasa begitu menakutkan.
"Karena luka yang tidak pernah dipaksa bicara akan terus mengendalikanmu dari bayang-bayang," jawab Ny. Holton. "Kau akan membawa Bonsiva ke mana pun kau pergi, bukan sebagai kenangan yang bisa kau kendalikan, tapi sebagai hantu yang muncul kapan pun ia mau, menghambatmu tepat ketika kau paling membutuhkan kejernihan pikiran. Aku sudah melihat ini terjadi pada orang lain. Aku tidak akan membiarkannya terjadi padamu."
"Orang lain siapa?" tanya Lyra, menangkap petunjuk kecil itu seperti yang selalu ia lakukan.
Ny. Holton mengabaikan pertanyaan itu sepenuhnya, tatapannya tidak goyah. "Mulai dari awal, Lyra. Aku akan mendengarkan sampai selesai, tidak peduli berapa lama itu memakan waktu."
• • •
Lyra duduk diam untuk waktu yang lama, matanya menatap meja kayu di antara mereka, mengumpulkan keberanian yang terasa jauh lebih sulit dikumpulkan daripada keberanian yang dibutuhkan untuk mengangkat tongkat kayu setiap pagi.
"Bel kuil berbunyi tengah malam," katanya, akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Bukan denting biasa. Dentuman yang dipukul terlalu cepat, terlalu keras."
Ia melanjutkan, kata demi kata, memaksa dirinya mengingat detail yang selama ini ia hindari—bau asap yang membangunkannya sebelum suara apa pun, warna jingga yang menari di ujung jalan, wajah Doran yang kosong oleh syok menyaksikan ayahnya tidak sempat diselamatkan. Setiap detail yang ia ucapkan terasa seperti membuka luka yang baru saja mulai menutup, tapi Ny. Holton tidak membiarkannya berhenti, mendorongnya dengan pertanyaan-pertanyaan kecil setiap kali Lyra mencoba melompati bagian yang paling menyakitkan.
"Lalu apa yang terjadi setelah kau melihat rumah Wilton?" tanya Ny. Holton, ketika Lyra mencoba melompat langsung ke bagian tentang hutan.
"Kami bertemu Cleay dan Ilsa di sumur," kata Lyra, terpaksa kembali ke detail yang ingin ia lewati. "Keluarga Hallow juga di sana. Bertrand masih terluka dari cambukan beberapa hari sebelumnya."
"Ceritakan tentang cambukan itu."
Lyra mengerutkan kening. "Itu terjadi sebelum kebakaran. Kenapa itu penting sekarang?"
"Karena kau melompatinya barusan, seolah itu bukan bagian dari luka yang sama," jawab Ny. Holton. "Semuanya terhubung, Lyra. Titah, cambukan, penggeledahan, kebakaran—itu bukan kejadian-kejadian terpisah yang kebetulan terjadi berurutan. Itu satu proses yang sama, dan kau perlu melihatnya sebagai satu kesatuan kalau kau ingin benar-benar memahaminya."
Lyra menarik napas, dan mulai lagi, kali ini tidak melompati apa pun—penggeledahan rumah mereka oleh Bu Vessen, pertanyaan-pertanyaan tentang asal-usul Caelen, kecurigaan yang mulai tumbuh bahwa mereka bukan sekadar korban kebetulan.