"Anda memegang pisaunya salah," kata Lyra, tanpa diminta sama sekali, saat mengamati Ny. Holton yang sedang mencoba mengupas akar liar yang baru dipetik dari kebun kecil di belakang rumah.
Ny. Holton menghentikan gerakannya, menatap Lyra dengan alis terangkat, ekspresi yang jelas menunjukkan ia tidak terbiasa dikoreksi soal sesuatu di dapurnya sendiri. "Begitu?"
"Ayah selalu memegangnya lebih miring," lanjut Lyra, mengambil pisau itu dari tangan Ny. Holton tanpa ragu—kebiasaan lama yang tiba-tiba muncul kembali, kepercayaan diri yang sudah lama tidak ia rasakan sejak Bonsiva terbakar. "Seperti ini. Kalau terlalu tegak, kulitnya jadi tebal dan terbuang percuma."
Ia mendemonstrasikan gerakan itu, mengupas akar dengan gerakan cepat dan efisien yang jelas berasal dari pengalaman bertahun-tahun membantu ibunya di dapur, dan untuk sesaat, Ny. Holton hanya mengamati dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan tersinggung, tapi sesuatu yang lebih menyerupai kejutan menyenangkan.
"Ternyata di balik semua kelemahan yang kutangani berminggu-minggu ini," kata Ny. Holton, nada suaranya jenaka untuk pertama kalinya sejak Lyra mengenalnya, "ada seorang koki tersembunyi."
"Bukan koki," Lyra membalas, senyum kecil muncul di wajahnya sebelum ia sempat menahannya. "Hanya seseorang yang bosan makan sayur yang dikupas terlalu tebal."
Ny. Holton mendengus, sesuatu yang mendekati tawa tapi belum sepenuhnya, dan menyerahkan akar berikutnya pada Lyra. "Kalau begitu tunjukkan caramu, koki kecil yang sombong. Aku ingin melihat apakah mulutmu sebesar keahlian tanganmu."
Lyra menerima tantangan itu dengan semangat yang mengejutkan dirinya sendiri, mengupas akar demi akar dengan kecepatan yang membuat Ny. Holton mengangkat alis lagi, kali ini karena kagum alih-alih terkejut oleh kelancangan.
"Ibu selalu bilang aku terlalu cepat dan ceroboh," kata Lyra, di sela pekerjaannya, "tapi Ayah bilang lebih baik cepat dan sedikit ceroboh daripada lambat dan sempurna kalau perutmu sudah keroncongan."
"Ayahmu terdengar seperti orang yang bijaksana."
"Ayah terdengar seperti orang yang lapar," Lyra mengoreksi, dan untuk pertama kalinya sejak kematian Caelen, mengingat ayahnya membuatnya tersenyum alih-alih menangis—kenangan yang terasa hangat, bukan hanya menyakitkan.
• • •
Momen kecil semacam itu, Lyra menyadari beberapa hari kemudian, mulai muncul lebih sering—komentar-komentar jenaka yang keluar tanpa ia rencanakan, kejujuran blak-blakan yang dulu jadi ciri khasnya di Bonsiva sebelum duka membungkamnya sepenuhnya. Ia mulai mengenali dirinya sendiri lagi di balik pantulan air kolam, bukan sekadar wajah yang lelah dan kosong, tapi seseorang dengan pendapat, dengan selera humor yang tajam, dengan keberanian untuk mengatakan hal-hal yang orang lain mungkin lebih memilih untuk disimpan sendiri.
"Anda tahu," katanya suatu sore, ketika mereka berdua duduk memperbaiki pagar kebun yang mulai lapuk, "Anda seharusnya tersenyum lebih sering. Wajah Anda tidak akan retak kalau melakukannya."
Ny. Holton melirik tajam, tapi ada kilatan geli di matanya yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Dan kau seharusnya belajar kapan harus diam, tapi kurasa kita berdua sama-sama punya kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan."
"Setidaknya kebiasaan burukku membuat percakapan kita lebih menarik."
"Kebiasaan burukmu," balas Ny. Holton, memaku papan pagar dengan gerakan yang lebih keras dari yang diperlukan, "yang membuatku bertanya-tanya apakah aku benar-benar menyelamatkanmu, atau justru mengundang bencana baru ke dalam hidupku yang tenang."
Tapi tidak ada kepahitan dalam kata-kata itu, hanya nada bercanda yang, Lyra sadari dengan senang, sudah mulai menjadi bahasa yang mereka bagi berdua—cara berkomunikasi yang lebih ringan daripada pelajaran-pelajaran berat tentang sejarah dan pertahanan diri yang biasa mendominasi hari-hari mereka.
"Kalau soal itu," kata Lyra, tidak bisa menahan diri, "Anda juga memegang paku itu salah."
Ny. Holton berhenti total, menatap Lyra dengan tatapan yang bisa membuat prajurit dewasa mundur ketakutan. "Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, ya?"
"Ayah bilang aku mewarisi itu dari Ibu," kata Lyra, tidak gentar sama sekali. "Meski Ibu selalu bilang aku mewarisinya dari Ayah. Kupikir kebenarannya, aku hanya mewarisi kejujuran dari keduanya sekaligus, dalam dosis yang cukup berlebihan."
Untuk pertama kalinya, Ny. Holton benar-benar tertawa—bukan dengusan kecil atau senyum tipis yang biasa ia berikan, tapi tawa sungguhan yang terdengar sedikit berkarat, seolah otot-otot yang digunakan untuk tertawa sudah lama tidak dilatih. Suara itu mengejutkan mereka berdua, dan untuk sesaat, Ny. Holton tampak hampir malu oleh reaksinya sendiri.