"Kita perlu bicara soal masa depanmu," kata Ny. Holton suatu malam, meletakkan jarum jahitnya untuk pertama kalinya dalam beberapa jam, nada suaranya jauh lebih serius daripada biasanya, jauh berbeda dari momen-momen ringan yang belakangan ini sering mereka bagi bersama.
Lyra mendongak dari buku yang sedang ia baca—kemajuannya sudah cukup pesat sampai ia bisa memahami sebagian besar kalimat sederhana tanpa bantuan sekarang—dan merasakan sesuatu yang dingin merambat kembali di dadanya, insting lama yang belum sepenuhnya hilang sepenuhnya setiap kali arah percakapan tiba-tiba berubah serius.
"Masa depan seperti apa?" tanya Lyra, hati-hati.
"Kau tidak akan bisa tinggal di sini selamanya," kata Ny. Holton, langsung pada intinya seperti biasa. "Bukan karena aku tidak menginginkanmu di sini—kau sudah tahu itu sekarang, kuharap. Tapi karena rumah ini, sejauh dan setersembunyi apa pun, tidak bisa memberimu apa yang sebenarnya kau butuhkan untuk mencapai tujuanmu."
• • •
"Aku tidak tahu apa tujuanku sebenarnya," kata Lyra, jujur. "Aku tahu aku ingin mencari kebenaran soal Familia Avelis. Aku tahu aku ingin memastikan pengorbanan Ibu tidak sia-sia. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya, atau ke mana aku harus pergi untuk memulainya."
"Itulah yang ingin kubicarakan," kata Ny. Holton, menyandarkan punggungnya di kursi, matanya menatap api dengan pandangan yang jauh, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama ia pikirkan. "Ada sebuah tempat, jauh dari sini, di dekat Kota Noctherra sendiri—Elite Castle, akademi yang didirikan Dewan Sembilan Familia untuk melatih calon pewaris bangsawan bersama rakyat jelata berbakat yang lolos ujian masuk."
Lyra mengerutkan kening. "Kenapa aku peduli soal akademi bangsawan?"
"Karena itu satu-satunya tempat di seluruh Veylara di mana seorang gadis tanpa nama, tanpa koneksi, tanpa apa pun selain kecerdasannya sendiri, bisa mendapatkan akses ke dunia yang selama ini tertutup baginya," jawab Ny. Holton. "Elite Castle tidak peduli siapa ayahmu, atau keluarga mana yang kau wakili—setidaknya secara resmi. Yang mereka pedulikan adalah apakah kau bisa lolos ujian masuknya. Dan begitu kau di dalam, kau akan punya akses ke perpustakaan, ke pengajar-pengajar yang memahami hukum dan sejarah Veylara jauh lebih dalam daripada yang bisa kuajarkan padamu di sini, dan yang paling penting—kau akan berada dekat dengan pusat kekuasaan yang selama ini menjadi misteri bagimu."
"Seperti apa tempatnya?" tanya Lyra, rasa penasaran mulai mengalahkan kecemasannya.
"Sebuah kastil sungguhan, dikelilingi tembok tinggi, dengan dua jalur utama pendidikan," jelas Ny. Holton. "Kelas Strategi, yang mengajarkan diplomasi, hukum, dan administrasi—dekat dengan kepentingan Familia Devarion yang mendanai sebagian besar operasionalnya. Dan Kelas Pahlawan, yang berfokus pada taktik militer dan pertempuran, lebih dekat dengan Familia Kaelstrom yang mengawasi pelatihannya. Kedua jalur ini bersaing keras satu sama lain, mencerminkan persaingan yang sama di Dewan Sembilan Familia sendiri."
"Anda bicara seperti pernah melihatnya sendiri."
Ny. Holton tidak membantah maupun mengiyakan, hanya melanjutkan penjelasannya dengan detail yang semakin meyakinkan Lyra bahwa pengetahuan ini bukan sekadar dari cerita orang lain. "Murid-muridnya kebanyakan berasal dari keluarga bangsawan, dipersiapkan sejak kecil untuk mewarisi kekuasaan keluarga mereka. Tapi setiap tahun, ujian masuk terbuka untuk rakyat jelata yang menunjukkan bakat luar biasa—biasanya hanya segelintir yang lolos, tapi mereka yang lolos mendapatkan pendidikan yang sama persis dengan anak-anak bangsawan."
• • •
"Bagaimana kalau mereka mengenaliku?" tanya Lyra, ketakutan lama muncul kembali. "Bagaimana kalau nama Avelis membuatku ditolak sebelum aku sempat mencoba?"
"Kau tidak perlu menggunakan nama Avelis," kata Ny. Holton, cepat, seolah sudah memikirkan ini jauh sebelum percakapan malam itu dimulai. "Kau bisa mendaftar dengan nama lain—nama ibumu, misalnya, atau nama yang sepenuhnya baru. Ujian masuk Elite Castle didasarkan pada kemampuan, bukan pemeriksaan silsilah mendalam untuk calon dari kalangan rakyat biasa. Selama kau tidak memberi mereka alasan untuk curiga, kau bisa masuk dan belajar tanpa seorang pun tahu siapa dirimu sebenarnya."
"Itu berarti berbohong. Terus-menerus."
"Itu berarti bertahan hidup," koreksi Ny. Holton, tegas. "Dan mengumpulkan kekuatan sebelum kau siap menghadapi dunia yang mencoba membunuhmu. Ada bedanya antara kebohongan yang melindungimu untuk tujuan yang lebih besar, dan kebohongan yang hanya melayani dirimu sendiri. Yang pertama adalah strategi. Yang kedua adalah pengkhianatan pada dirimu sendiri."
"Bagaimana dengan surat-surat, dokumen kelahiran, hal-hal semacam itu?" tanya Lyra, pikirannya mulai bergerak ke detail-detail praktis. "Bukankah mereka akan memeriksa asal-usulku?"