Beberapa hari setelah malam pengakuan yang berat itu, Ny. Holton membawa medali perak kecil itu keluar rumah, ke tepi kolam kecil tempat Lyra biasa menyendiri di sore hari, dan dengan lembut meletakkannya tepat di telapak tangan Lyra tanpa penjelasan apa pun lebih lanjut.
"Aku ingin kau menyimpannya," katanya, sederhana.
Lyra menatap medali itu, lalu menatap balik pada Ny. Holton, terkejut oleh gestur yang begitu besar maknanya. "Ini terlalu berharga. Ini satu-satunya yang tersisa dari Alden."
"Justru karena itu aku ingin kau menyimpannya," kata Ny. Holton, duduk di samping Lyra di tepi kolam, matanya menatap air yang memantulkan cahaya senja keemasan. "Aku sudah menyimpannya terlalu lama sebagai benda duka, pengingat akan apa yang hilang. Aku ingin ia berubah jadi sesuatu yang lain sekarang—pengingat akan apa yang harus diperjuangkan, dibawa oleh seseorang yang masih punya kesempatan untuk memperjuangkannya."
• • •
"Aku tidak pantas menerimanya," kata Lyra, meski jarinya sudah menggenggam medali itu erat, tidak benar-benar ingin melepaskannya.
"Kepantasan bukan soal darah atau nama," kata Ny. Holton. "Alden percaya pada keadilan bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang lahir dengan hak istimewa. Kau, seorang gadis petani yang kehilangan segalanya karena kesewenang-wenangan yang sama yang membunuhnya, adalah tepat jenis orang yang akan ia inginkan untuk membawa lambang ini."
Angin sore berembus pelan, membawa serta bau dedaunan yang mulai berubah warna seiring musim yang beranjak, dan untuk sesaat mereka berdua hanya duduk dalam diam, membiarkan momen itu mengendap sepenuhnya sebelum melanjutkan percakapan yang begitu berat maknanya.
Lyra membalik medali itu di tangannya, menatap ukiran elang yang sudah using, inisial "A" dan "V" yang diikat simbol hati. "Kenapa 'V'? Anda belum memberitahuku nama asli Anda."
Ny. Holton diam sejenak, matanya masih pada air kolam yang perlahan berubah warna seiring matahari tenggelam lebih rendah. "Vaesa," katanya, akhirnya, kata yang terdengar asing di lidahnya sendiri setelah bertahun-tahun tidak diucapkan. "Vaesa Ashcombe. Itu namaku, sebelum aku menjadi Ny. Holton."
• • •
"Vaesa," Lyra mengulangi, mencicipi nama itu. "Itu nama yang indah. Kenapa Anda menyembunyikannya begitu lama?"
"Karena Vaesa Ashcombe adalah seseorang yang dikenal terlalu dekat dengan Alden Zion," jawab Vaesa—karena begitulah Lyra mulai memikirkannya sekarang, meski masih terasa aneh untuk benar-benar memanggilnya begitu—"seseorang yang, kalau ditemukan, bisa jadi bukti hidup bahwa sengketa suksesi itu tidak seadil yang diklaim catatan resmi. Ny. Holton adalah kematian yang kupilih sendiri, cara untuk memastikan Vaesa Ashcombe benar-benar hilang dari dunia yang mengejarnya."
"Ashcombe," kata Lyra, mengingat sesuatu. "Itu salah satu marga rakyat biasa yang biasa disebutkan pedagang keliling di Bonsiva. Anda memang lahir sebagai rakyat biasa?"
"Ya," konfirmasi Vaesa. "Anak seorang tukang kayu di Harkovan, jauh dari kemewahan istana yang akhirnya kutemui saat aku direkrut jadi pelayan di istana musim panas keluarga kerajaan, ketika aku baru berusia enam belas tahun. Aku bertemu Alden di sana, saat ia masih remaja, jauh sebelum ia harus menanggung beban menjadi calon Daulat."
"Bagaimana rasanya," tanya Lyra, penasaran, "mencintai seseorang yang begitu berbeda posisinya denganmu?"
Vaesa tersenyum, senyum yang jauh lebih ringan daripada yang biasa ia berikan, dipenuhi kenangan yang jelas masih hangat meski sudah bertahun-tahun berlalu. "Rasanya seperti mencintai siapa pun—penuh ketakutan, penuh harapan, penuh momen-momen kecil yang terasa lebih berarti daripada seharusnya. Perbedaan posisi kami hanya jadi masalah ketika dunia luar memutuskan untuk mempermasalahkannya. Di antara kami sendiri, di ruang-ruang kecil yang kami curi dari jadwalnya yang padat, kami hanya dua orang muda yang saling jatuh cinta, sama seperti siapa pun."
"Bagaimana kalian pertama kali menyadari perasaan itu?" tanya Lyra, rasa ingin tahu seorang anak muda mengalahkan kehati-hatiannya untuk tidak terlalu ikut campur.
"Ia menyelundupkan buku-buku terlarang untukku," kata Vaesa, tertawa kecil mengenang itu. "Aku tidak bisa membaca dengan baik saat itu, tapi ia bersikeras mengajariku, diam-diam, di malam-malam ketika seharusnya aku sudah tidur di kuarters pelayan. Butuh berbulan-bulan sebelum salah satu dari kami cukup berani mengakui bahwa pelajaran membaca itu sudah lama berubah jadi alasan untuk menghabiskan waktu bersama."
"Tapi Anda masih hidup. Vaesa masih hidup, di dalam diri Ny. Holton."