Tiga bulan penuh berlalu jauh lebih cepat daripada yang pernah Lyra bayangkan sebelumnya, dan pada pagi itu, berdiri tegak di depan pintu rumah kecil yang sudah lama menjadi rumah keduanya, ia merasakan sejenis kegugupan yang jauh berbeda sifatnya dari ketakutan-ketakutan yang selama ini selalu mendominasi hidupnya sejak malam Bonsiva terbakar habis.
"Kau sudah siap," kata Vaesa, bukan pertanyaan, memeriksa sekali lagi tas kecil berisi perbekalan dan dokumen-dokumen palsu yang sudah dipersiapkan dengan cermat selama berminggu-minggu terakhir. "Lebih siap daripada kebanyakan calon murid yang akan kau temui di sana, kuyakinkan itu."
"Bagaimana kalau saya gagal?"
"Kalau kau gagal," kata Vaesa, menatapnya lurus, "kau akan mencoba lagi tahun depan, atau mencari jalan lain. Kegagalan bukan akhir dari apa pun, Lyra—hanya informasi tentang apa yang perlu diperbaiki." Ia menyerahkan tas itu, dan untuk sesaat, tangan mereka bertemu lebih lama dari yang diperlukan. "Tapi aku tidak percaya kau akan gagal. Aku sudah melihat kemajuanmu dengan mataku sendiri."
Lyra menatap rumah kecil itu sekali lagi, mengingat setiap sudutnya—perapian tempat begitu banyak rahasia terungkap, kolam kecil tempat medali perak berpindah tangan, halaman belakang tempat ia belajar bertahan dengan tongkat kayu sederhana. Tempat ini, yang dulu terasa begitu asing dan menakutkan, kini terasa seperti rumah kedua yang harus ia tinggalkan dengan berat hati.
"Aku akan menulis surat," kata Lyra, suaranya sedikit bergetar. "Begitu aku menemukan cara amannya."
"Aku akan menunggu," kata Vaesa, dan untuk sesaat, ekspresi tegasnya melunak sepenuhnya, menunjukkan kelembutan yang jarang ia biarkan terlihat. "Sekarang pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan menahanmu di sini selamanya karena terlalu mengkhawatirkanmu."
Mereka berpelukan sekali lagi, singkat tapi penuh makna, dan Lyra melangkah menjauh dari rumah kecil itu, menoleh sekali di persimpangan jalan setapak untuk melihat sosok Vaesa masih berdiri di depan pintu, tangannya melambai pelan sampai pepohonan menghalangi pandangan mereka satu sama lain.
• • •
Perjalanan menuju Elite Castle memakan waktu delapan hari, melewati medan yang jauh berbeda dari hutan dan pegunungan yang selama ini jadi dunia Lyra—jalan-jalan besar yang ramai dilalui pedagang dan pelancong, desa-desa yang jauh lebih besar dari Bonsiva, dan akhirnya, pemandangan pertama Kota Noctherra dari kejauhan, tembok marmer hitamnya berkilau di bawah matahari sore seperti sesuatu dari dongeng yang tidak pernah ia percaya benar-benar ada.
Ia menumpang beberapa kereta pedagang di sepanjang perjalanan, membayar dengan koin-koin kecil yang diberikan Vaesa, sesekali berjalan kaki ketika tidak ada tumpangan yang tersedia. Setiap malam, ia menginap di penginapan kecil yang direkomendasikan Vaesa, tempat-tempat yang cukup aman bagi seorang gadis muda bepergian sendirian, dijalankan oleh orang-orang yang, entah bagaimana, tampak sudah terbiasa menerima tamu semacam dirinya tanpa banyak bertanya.
Sepanjang perjalanan, ia menyaksikan dunia yang jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan dari Bonsiva—pasar-pasar ramai di kota-kota kecil yang dilewatinya, pelabuhan sungai dengan kapal-kapal dagang yang memuat barang dari seluruh penjuru Veylara, dan sesekali, rombongan prajurit berseragam yang membuatnya secara otomatis menegang, meski ia tahu mereka tidak sedang mencarinya secara khusus di sini, jauh dari Kesteron.
Elite Castle sendiri berdiri terpisah dari kota utama, di atas bukit yang menghadap ke arah delta tiga sungai, dikelilingi tembok tinggi yang lebih megah daripada bangunan apa pun yang pernah Lyra lihat seumur hidupnya. Gerbang utamanya terbuat dari besi tempa yang dihias ukiran rumit, dijaga oleh prajurit berseragam yang jauh lebih rapi dan lebih formal penampilannya daripada prajurit-prajurit yang dulu pernah memburu Lyra habis-habisan di dalam hutan.
Ia berdiri diam di antara kerumunan besar calon murid lainnya—puluhan anak seusianya, sebagian jelas berasal dari keluarga bangsawan dengan pakaian mahal dan sikap percaya diri yang lahir dari kepastian akan tempat mereka di dunia, sebagian lain tampak sama gugupnya dengan Lyra, jelas berasal dari kalangan rakyat biasa yang mempertaruhkan segalanya untuk kesempatan ini.
Seorang anak laki-laki berpakaian mewah, mungkin seusia dengan Lyra, berdiri tidak jauh darinya, dikelilingi beberapa pelayan yang sibuk memastikan penampilannya sempurna sebelum ia memasuki gerbang. Ia melirik ke arah kerumunan calon murid dari kalangan biasa dengan ekspresi yang campur aduk antara rasa ingin tahu dan superioritas yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan, sebelum akhirnya dipanggil masuk lebih dulu oleh petugas yang jelas mengenali status keluarganya.
Lyra mengamati momen itu dengan rahang mengeras, mengingat kata-kata Vaesa tentang bagaimana anak-anak bangsawan akan meremehkan calon murid dari kalangan biasa. Ia menarik napas dalam, mengingatkan dirinya sendiri bahwa ujian ini, setidaknya, akan menilai kemampuan, bukan nama keluarga—kesempatan yang jarang diberikan pada orang-orang seperti dirinya.
• • •
"Nama?" tanya petugas pendaftaran, seorang pria berjubah abu-abu dengan papan tulis di tangan, tidak jauh berbeda gayanya dari Bu Vessen yang pernah menginterogasi Lyra di Bonsiva—kesamaan yang membuat perut Lyra sedikit bergejolak meski ia tahu ini orang yang berbeda sepenuhnya.
"Lyra," katanya, mengingat instruksi Vaesa untuk tetap menggunakan nama depannya sendiri, hanya menyembunyikan nama keluarganya. "Lyra Hallenwood."