Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #32

BAB 32 — RAK-RAK BUKU YANG MENYIMPAN RAHASIA

Ujian tertulis pertama itu berlangsung selama tiga jam penuh tanpa jeda, dan ketika akhirnya selesai, tangan Lyra terasa kram karena menulis tanpa henti, pikirannya lelah tapi dipenuhi semacam kepuasan yang tidak ia duga akan ia rasakan.

Soal-soalnya jauh lebih beragam daripada yang ia bayangkan—bukan hanya pertanyaan sejarah dan hukum seperti yang ia pelajari bersama Vaesa, tapi juga soal logika murni, teka-teki matematika sederhana, dan yang paling mengejutkan, beberapa pertanyaan yang meminta calon murid menganalisis situasi hipotetis dan menjelaskan bagaimana mereka akan menyelesaikannya.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Sirene, begitu mereka keluar dari aula, wajahnya pucat oleh kelelahan yang sama.

"Aku tidak tahu," kata Lyra, jujur. "Beberapa bagian terasa mudah. Bagian lain terasa seperti mereka sengaja membuatnya membingungkan untuk melihat bagaimana kita bereaksi pada kebingungan itu sendiri."

"Itu masuk akal," kata suara lain, seorang anak laki-laki yang berjalan tidak jauh dari mereka, jelas mendengarkan percakapan itu tanpa diundang. "Kudengar mereka tidak hanya menilai jawaban yang benar, tapi juga cara berpikir yang tercermin dari jawaban salah. Elite Castle mencari orang yang bisa berpikir, bukan sekadar menghafal."

"Kau terdengar seperti sudah tahu banyak soal ini," kata Sirene, menatap anak laki-laki itu dengan penasaran.

"Kakakku pernah mencoba tahun lalu," katanya, mengangkat bahu. "Ia gagal di ujian praktik, tapi cerita-ceritanya cukup membantu mempersiapkan mentalku." Ia mengangguk singkat pada mereka berdua sebelum melangkah pergi, bergabung dengan kelompok calon murid lain yang tampak lebih akrab dengannya.

• • •

Sisa hari itu dan beberapa hari berikutnya diisi dengan menunggu—ujian lisan dan praktik dijadwalkan bergantian untuk kelompok-kelompok kecil calon murid, dan waktu tunggu di antaranya terasa seperti siksaan tersendiri bagi mereka yang belum mendapat giliran.

Untuk mengisi waktu, Lyra dan Sirene, bersama beberapa calon murid lain yang mulai mereka kenal, diizinkan mengunjungi area terbatas kompleks Elite Castle—termasuk Perpustakaan Voston, perpustakaan besar yang menjadi kebanggaan akademi, dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit berornamen rumit.

Lyra berdiri di ambang pintu perpustakaan itu untuk pertama kalinya, merasa kewalahan oleh skalanya—ribuan buku, mungkin puluhan ribu, tersusun rapi di rak-rak kayu gelap yang membentang sejauh mata memandang, cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi menciptakan kolom-kolom cahaya yang jatuh di antara lorong-lorong buku.

"Ini jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan," bisiknya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.

Sirene, yang berdiri di sampingnya, mendengus geli. "Kau bicara seperti belum pernah melihat perpustakaan sebelumnya."

"Aku belum pernah," Lyra mengakui, tidak malu oleh kejujuran itu. "Desaku tidak punya perpustakaan. Hanya beberapa buku yang dimiliki keluarga-keluarga tertentu, diwariskan turun-temurun."

"Tessane juga tidak jauh berbeda," kata Sirene, matanya sendiri menjelajahi ruangan dengan kekaguman yang sama. "Kami punya satu rak buku di balai desa, kebanyakan tentang cara mengawetkan ikan dan memperbaiki jaring. Ini—" ia menggerakkan tangannya mencakup seluruh ruangan, "—ini seperti dunia yang berbeda sepenuhnya."

Mereka berjalan bersama menyusuri lorong-lorong pertama, Sirene lebih tertarik pada buku-buku bergambar tentang kehidupan laut yang mengingatkannya pada rumah, sementara Lyra mulai menjelajah lebih jauh, matanya mencari label-label yang mungkin menunjukkan koleksi sejarah atau catatan hukum yang lebih tua.

• • •

Lihat selengkapnya