Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #33

BAB 33 — DUA PIKIRAN DALAM SUNYI

"Kalau kau menemukan satu orang bersalah membakar gudang gandum desamu, tapi menghukumnya berarti seluruh desa kelaparan musim itu karena dialah satu-satunya yang tahu cara memperbaiki saluran air—apa yang kau lakukan?"

Penguji di depan Lyra, seorang perempuan bertubuh kurus dengan rambut yang diikat sangat ketat sampai terlihat menyakitkan, tidak berkedip saat mengajukan pertanyaan itu. Di kedua sisinya duduk dua penguji lain, seorang pria tua yang sejak tadi hanya menulis tanpa mengangkat kepala, dan seorang lagi yang wajahnya sudah terlalu datar untuk ditebak sedang menilai atau sedang bosan.

Lyra diam sejenak, bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena ia tahu jawaban jujurnya akan terdengar tidak nyaman bagi telinga yang terbiasa dengan hukum yang tegas dan bersih.

"Aku akan memenjarakannya," katanya akhirnya, "tapi bukan di penjara biasa. Aku akan menahannya di dekat saluran air itu sendiri, memaksanya mengajari orang lain cara memperbaikinya sambil menjalani hukuman. Membiarkan satu desa kelaparan karena hukum yang kaku bukan keadilan. Itu cuma kemalasan yang menyamar jadi prinsip."

Perempuan penguji itu menatapnya lebih lama daripada yang dirasa nyaman oleh Lyra. "Dan kalau ia menolak mengajari siapa pun, memilih membiarkan pengetahuannya mati bersamanya sebagai bentuk pembalasan dendam terakhir?"

"Maka aku akan tahu aku salah menilai orangnya," kata Lyra, "dan aku akan mencari cara lain sebelum musim kelaparan itu tiba. Menunggu satu orang berbaik hati bukan strategi. Itu taruhan." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, karena bagian dari dirinya tidak pernah benar-benar bisa diam, "Tapi setidaknya aku sudah mencoba tidak menghukum seluruh desa demi kemarahanku pada satu orang."

Pria tua di sisi kiri akhirnya mengangkat kepala, sedikit—cukup untuk memperlihatkan sesuatu yang mungkin, kalau Lyra tidak terlalu gugup untuk menebak dengan benar, adalah rasa tertarik.

• • •

Ia keluar dari ruang ujian dengan kaki yang terasa seperti bukan miliknya sendiri, jantungnya masih berdegup dari ketegangan tiga puluh menit yang terasa seperti tiga jam. Sirene sudah menunggu di lorong, duduk di bangku kayu dengan lutut ditekuk sampai ke dada, gigitan kukunya jadi tanda seberapa gugup ia menunggu gilirannya sendiri.

"Bagaimana?" tanya Sirene, berdiri cepat begitu melihat Lyra.

"Aku tidak tahu apa jawabanku benar," kata Lyra, jujur. "Tapi aku tahu itu jawabanku sendiri, bukan jawaban yang kupikir mereka ingin dengar."

"Itu terdengar seperti hal bagus atau hal yang akan membuatmu gagal telak," kata Sirene, separuh bercanda, separuh serius.

"Mungkin keduanya," kata Lyra, dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, ia tersenyum kecil.

Nama Sirene dipanggil tidak lama kemudian, dan Lyra ditinggal sendirian di lorong itu, dikelilingi calon murid lain yang masing-masing tenggelam dalam kegugupan mereka sendiri—beberapa bergumam mengulang jawaban dalam hati, yang lain diam saja menatap lantai seolah lantai itu bisa memberi jawaban yang lebih baik daripada kepala mereka sendiri.

Lyra tidak sanggup duduk diam. Ia berjalan menyusuri lorong, lalu keluar menuju halaman, lalu—tanpa benar-benar memutuskan untuk melakukannya—kakinya membawanya kembali ke arah Perpustakaan Voston.

• • •

Sudut gelap perpustakaan itu masih seperti yang ia ingat: jendela-jendela kecil tertutup tirai berdebu, rak-rak dengan buku bersampul using yang tersusun kurang rapi, udara yang terasa lebih dingin dibanding bagian lain perpustakaan, seolah cahaya matahari sendiri enggan singgah terlalu lama di sana.

Ia baru saja hendak menaiki tangga kecil menuju rak paling atas ketika sebuah suara membuatnya membeku di tempat.

"Kau kembali."

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Lyra berbalik cepat, dan di sanalah dia—anak laki-laki yang sama yang ia lihat sekilas dua hari sebelumnya, bayangan yang menghilang terlalu cepat untuk bisa ia amati dengan jelas. Kali ini ia tidak menghilang. Ia berdiri bersandar pada rak di seberang lorong sempit itu, lengan bersilang, mengamati Lyra dengan tatapan yang sulit dibaca—bukan permusuhan, tapi juga bukan keramahan yang mudah dipercaya.

Rambutnya gelap, agak berantakan, seolah ia terbiasa mengacaknya sendiri saat berpikir. Pakaiannya sederhana, tidak menunjukkan tanda-tanda kekayaan atau kemiskinan yang jelas—jenis pakaian yang bisa dipakai siapa saja tanpa mengungkap apa pun tentang siapa mereka sebenarnya. Sesuatu tentang cara ia berdiri, cara bahunya sedikit tegang meski suaranya santai, mengingatkan Lyra pada dirinya sendiri di hari-hari pertama di rumah Vaesa—seseorang yang terbiasa waspada, bahkan ketika berpura-pura tidak.

"Aku tidak tahu kau memperhatikan," kata Lyra, berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja, meski jantungnya masih belum sepenuhnya tenang dari ujian lisan.

"Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang menyelinap ke sudut paling sepi perpustakaan dua hari berturut-turut," katanya, satu sudut bibirnya terangkat, hampir seperti senyum tapi tidak sepenuhnya. "Kebanyakan orang menghabiskan waktu luang mereka di bagian yang lebih terang. Bagian dengan buku-buku yang, kau tahu, sebenarnya ingin dibaca orang."

"Mungkin aku suka buku yang tidak ingin dibaca orang lain," kata Lyra, tidak mau kalah.

Ia tertawa, pendek, hampir tak terdengar, seolah tertawa itu sendiri jarang ia lakukan dan tidak sepenuhnya yakin bagaimana melakukannya dengan benar. "Itu jawaban yang aneh."

Lihat selengkapnya