Lyra Avelis

Chafid Firman
Chapter #34

BAB 34 — NAMA ASING DI ANTARA HALAMAN

Ia kembali ke sudut gelap perpustakaan itu keesokan paginya, lebih awal dari biasanya, berharap bisa membaca lebih banyak catatan Yenora Corvin sebelum jadwal ujian praktik yang akan menyita seluruh siang harinya. Tapi begitu ia membelok ke lorong sempit itu, ia sudah tidak sendirian.

Gribson duduk di lantai, punggung bersandar pada rak paling bawah, sebuah buku terbuka di pangkuannya dan lilin kecil menyala di sampingnya meski jendela-jendela berdebu itu sebenarnya sudah cukup membiarkan cahaya pagi masuk.

"Kau lagi," katanya, tidak mengangkat kepala, seolah sudah mengenali suara langkah Lyra sebelum melihatnya.

"Ini perpustakaan umum," kata Lyra, meski suaranya tidak sepenuhnya yakin dengan alasan itu sendiri. "Aku boleh ke mana pun aku mau."

"Aku tidak bilang kau tidak boleh." Ia akhirnya mengangkat pandangan, dan ada sesuatu yang lebih lunak di matanya pagi itu dibandingkan hari sebelumnya, seolah semalam membawa pikirannya ke tempat yang membuatnya sedikit kurang waspada. "Aku hanya bilang kau kembali. Kupikir mungkin kau menemukan sesuatu yang cukup penting untuk membuatmu datang sebelum matahari benar-benar terbit."

Lyra tidak menjawab langsung, memilih duduk di lantai berseberangan dengannya, jarak yang cukup jauh untuk terasa sopan tapi cukup dekat untuk bisa bicara tanpa berbisik. "Kau juga di sini sebelum matahari terbit."

"Aku tidak pernah tidur banyak," katanya, seperti itu adalah fakta biasa tentang dirinya, bukan sesuatu yang layak dikasihani. "Lebih mudah membaca saat tidak ada orang lain yang bertanya kenapa aku membaca."

"Orang macam apa yang bertanya kenapa seseorang membaca?" tanya Lyra, benar-benar penasaran.

Sesuatu mengeras sebentar di rahangnya, cepat sekali, sebelum ia menjawab dengan nada yang sengaja dibuat ringan. "Orang yang berpikir waktu seharusnya dipakai untuk hal-hal yang lebih... berguna."

Lyra ingin bertanya lebih jauh, tapi ingat kesepakatan tak terucap mereka kemarin—batas yang mereka berdua hormati tanpa perlu menegaskannya dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia melirik buku yang terbuka di pangkuan Gribson. "Buku apa itu?"

"Catatan taktik lama," katanya, menutup buku itu sedikit terlalu cepat, cukup untuk membuat Lyra menyadari bahwa ia tidak ingin Lyra melihat isinya secara detail. "Membosankan. Kau tidak akan tertarik."

"Kau tidak tahu apa yang membuatku tertarik," kata Lyra, sedikit tersinggung oleh asumsi itu.

"Benar," katanya, dan kali ini senyumnya muncul lebih cepat, lebih jujur. "Aku tidak tahu. Maafkan aku."

Permintaan maaf yang begitu mudah keluar dari mulutnya mengejutkan Lyra sedikit—ia sudah terbiasa dengan orang-orang yang mempertahankan kesalahan mereka sampai titik darah penghabisan, terutama di tempat seperti ini, di antara calon murid yang masing-masing berusaha terlihat sempurna di depan yang lain.

• • •

Mereka duduk dalam diam beberapa saat, masing-masing kembali ke buku mereka sendiri—Lyra berpura-pura membaca sebuah risalah tua tentang sistem irigasi Kesteron yang ia ambil asal dari rak terdekat, sebenarnya lebih sibuk mencuri pandang ke arah Gribson daripada benar-benar membaca.

Lonceng menara berbunyi dari kejauhan, menandai jam yang mengingatkan Lyra bahwa waktu bergerak lebih cepat daripada yang ia sadari.

"Aku harus pergi," kata Gribson tiba-tiba, berdiri cepat, hampir terburu-buru, seolah lonceng itu mengingatkannya pada sesuatu yang jauh lebih mendesak daripada sekadar jadwal ujian. "Ada... urusan yang harus kuselesaikan."

"Urusan macam apa?" tanya Lyra, tidak benar-benar berharap dijawab.

"Urusan keluarga," katanya, singkat, wajahnya tiba-tiba tertutup lagi seperti pintu yang dibanting. Ia meraih buku-bukunya dengan tergesa, dan dalam ketergesaan itu, sesuatu terjatuh dari tumpukan yang ia bawa—sebuah buku catatan kecil bersampul kulit gelap, jatuh terbuka di lantai batu di antara mereka berdua.

Gribson tidak menyadarinya, sudah melangkah menjauh dengan langkah cepat menuju pintu keluar, terlalu terburu-buru untuk memeriksa apa yang mungkin tertinggal.

"Gribson—" Lyra memanggil, tapi ia sudah menghilang di ujung lorong sebelum sempat mendengar.

Lihat selengkapnya