LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #1

GERBANG

Gerbang marmer Royal Academy bukan sekadar pintu masuk sekolah tinggi. Ia adalah batas antara mereka yang dilahirkan untuk memerintah dan mereka yang dilahirkan untuk patuh.

Berada di Distrik Rigyard pelataran luasnya yang bersih dari debu, sekelompok mahasiswa berseragam beludru biru berhias sulaman perak khas Rigyard tengah berkumpul. Salah satu dari mereka tertawa renyah, melambaikan beberapa keping koin perak berkilau ke arah seorang pelayan tua yang membungkuk terlalu dalam hingga dahinya hampir menyentuh sepatu mahal mengkilat sang majikan.

"Kubilang bawa anggur dari perkebunan timur, orang tua, bukan air beras seperti ini," cemooh pemuda bangsawan itu, menyepak botol tanah liat di dekat kaki si pelayan hingga pecah. Teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

Lyra memperhatikan pemandangan itu dari balik pilar. Wajahnya yang Anggun dan putih kemerahan dengan sorot mata hitamnya menajam, dingin menembus kerumunan. Menyaksikan pelayan tua itu gemetar memunguti pecahan tembikar di bawah kaki sang bangsawan, sebaris kalimat pahit terlintas di kepala Lyra, Tak ada yang lebih hina daripada dipaksa berlutut demi bertahan hidup.

Sambil membuang muka. Rambutnya yang panjang dan agak ikal di ujungnya sedikit bergoyang karena hentakan kepalanya, ia mempercepat langkah kakinya yang jenjang, keluar dari kawasan akademi menuju stasiun kereta uap batas distrik. Lyra menaiki tangga gerbong, Dengan jubahnya yang berlambangkan akademi dan sepatu kulitnya yang sudah terlihat kusam di bagian ujungnya. Di balik lengan bajunya yang longgar, sebuah gelang logam kusam melingkar di sana. Permukaannya kasar, dingin, dan tampak murahan. Ia tidak pernah benar-benar menyukai benda itu, karena itu membuat orang-orang di akademi melirik sinis dengan hanya melihat perhiasan yang ia pakai. Tetapi karena ibunya yang memberikannya dia tetap memakainya.

Begitu kereta uap melintasi batas wilayah antar distrik, kemegahan Ibu Kota seolah lenyap ditelan bumi. Udara bersih berganti kepulan asap jelaga yang pekat. Selamat datang di Lefyard. Sebuah distrik yang seolah tak pernah mengenal musim semi. Tanah di tempat ini selalu becek oleh lumpur, dinding-dinding rumah terbuat dari kayu lapuk yang menghitam, dan orang-orang berjalan dengan pakaian penuh tambalan serta wajah yang ditekuk oleh kelelahan.

"Wah, wah. Hati-hati, Tuan Putri. Nanti lumpur Lefyard mengotori sepatu bangsawanmu."

Suara cempreng memecah lamunan Lyra saat ia baru saja tiba di Karengard, sebuah kota kecil tempat tinggal Lyra. Seseorang melompat dari atas tumpukan peti kayu, hampir saja terpeleset jika tidak buru-buru menyeimbangkan badannya.

Itu Sam. Teman masa kecilnya yang berambut berantakan.

"Jika kau tidak punya hal penting untuk dibicarakan, mending menyingkir, Sam. Aku mau pulang," kata Lyra cuek, walau sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Galak sekali. Padahal aku ke sini mau memberi tahu, kalau hari ini aku memakai topi bekas yang baru kutemukan di pasar. Bagaimana? Jika begini, apa aku sudah pantas menjadi orang Rigyard?" Sam menaik-turunkan alisnya yang tebal, membetulkan topi kumal di kepalanya yang miring.

"Jangan mimpi Sam, kau tidak ada pantas-pantasnya sama sekali" balas Lyra ketus, lalu melangkah pergi meninggalkan Sam yang tertawa kecil di belakangnya. Di tengah distrik yang kehilangan harapan ini, kekonyolan Sam adalah sedikit dari hal yang bisa membuat Lyra melupakan beban di kepalanya.

Sesampainya di depan sebuah rumah kayu kecil yang miring di sudut terjauh distrik, Lyra menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu yang berderit. Angin malam yang lembab menyusup bebas melalui celah dinding kayu yang renggang, membawa rasa dingin yang menusuk tulang.

"Ibu, Zyfir, aku pulang."

Di dalam ruangan yang remang-remang, seorang wanita paruh baya sedang terbatuk kecil sambil merapikan tumpukan kain cucian milik orang-orang yang memakai jasanya. Suky, ibunya, terlihat jauh lebih tua dari usia empat puluh tahun karena diperas oleh kerja keras. Tubuhnya kurus, dan tangannya kasar.

Lihat selengkapnya