LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #2

LARANGAN

Lumpur hitam di ujung sepatu Lyra telah mengering dan pecah menjadi serpihan debu, mengotori lantai marmer Royal Academy yang berkilau bagai cermin.

Zykbrad Royal Academy adalah akademi paling bergengsi yang berdiri di setiap negara di bawah kekaisaran Zykbrad. Setiap negara memiliki satu akademi utama dengan kurikulum dan standar yang sama, yang setiap tahunnya mencetak calon pejabat, ilmuwan dan pemimpin masa depan. Lyra adalah satu-satunya murid dari Distrik Lefyard yang berhasil mendapatkan beasiswa akademi di Negara Ruky. Setiap langkah yang ia ayunkan di koridor panjang akademi berarsitektur pilar-pilar tinggi itu seolah meninggalkan jejak noda yang salah di tempat yang salah.

"Bau asap batu bara dari kereta fajar masih menempel di jubahnya," bisik seorang mahasiswi berambut ikal pirang, sengaja tidak mengecilkan suaranya saat Lyra berjalan melewati kelompok mereka.

"Bagaimana bisa dewan akademi membiarkan anak distrik kumuh duduk di barisan yang sama dengan kita? Menjijikkan," timpal yang lain, sambil mengibaskan kipas sutranya dengan gestur seolah-olah udara di sekitar mereka mendadak beracun.

Lyra tidak menoleh. Ia menatap lurus ke depan, mengabaikan tatapan-tatapan sinis yang menghujam punggungnya. Sifat cuek yang bercampur ego masa muda menjadi perisai terbaiknya di tempat ini. Namun, genggaman tangannya pada tali tas kainnya yang kusam mengencang.

Saat jam istirahat tiba, pelataran akademi dipenuhi oleh aroma daging panggang berbumbu dan roti mentega hangat yang disajikan oleh para pelayan mereka untuk anak-anak Rigyard. Lyra memilih berjalan jauh ke sudut taman belakang yang sepi, duduk di kursi yang sudah  berlumut.

Ia membuka tasnya, mengeluarkan sepotong roti gandum kering yang keras bekalnya dari rumah. Lyra mengunyahnya pelan, lalu meneguk air dari botol kulitnya yang terasa anyep. Dinginnya angin musim gugur di Ibu Kota membuat roti itu terasa semakin hambar di tenggorokannya. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar tawa para mahasiswa bangsawan yang sedang memamerkan arloji saku perak baru mereka. Lyra menatap rotinya yang tinggal setengah, menelannya dengan berat, lalu memasukan sisanya kembali ke dalam tas. Ketika Lyra membuka tasnya tidak sengaja ia melihat buku bertuliskan “Ilmu Antropoligi Imperial. Mata Pelajaran favoritku.” Lyra tersenyum.

Lyra berjalan untuk menuju ruang kelas terakhir hari ini, seseorang berdiri tepat di jalurnya.

Pemuda itu bertubuh tegap, mengenakan jubah beludru biru tua dengan sulaman emas murni di bagian kerah—menandakan kasta tertinggi di antara kaum bangsawan. Rambut pirangnya yang tertata rapi memantulkan cahaya matahari, kontras dengan sepasang bola mata berwarna biru jernih yang menatap Lyra dengan binar ketertarikan yang ganjil.

"Kau berjalan terlalu cepat untuk seseorang yang baru selesai makan siang, nona," ucap pemuda itu. Suaranya bariton, halus, dan penuh percaya diri yang hanya dimiliki oleh mereka yang tidak pernah tahu rasanya kelaparan.

Lyra menghentikan langkahnya, menatap pemuda itu dengan sorot mata yang dingin. "Singkirkan tubuhmu dari jalanku, Ricky Rayndale."

“Kau tahu namaku?”

“Tak perlu jadi pintar untuk mengetahui siapa kau, mahasiswa jurusan Hukum Imperial paling bersinar tahun ini, yang mewakili Negara Ruky di ajang akademi Royal Imperial. Sekaligus anak bangsawan penikmat pajak” ketus Lyra.

Ricky tidak tersinggung. Ia justru tersenyum menawan. "Aku hanya ingin menyapa satu-satunya mahasiswi dari Lefyard yang berhasil menembus seleksi yang ketat akademi. Lyra Libey dari Distrik Lefyard.”

Lyra sedikit kaget pemuda bangsawan ini tahu namanya, namun dia sadar kenapa pemuda ini tahu namanya dari alasan dia menyapanya barusan. Kemudian Lyra teralihkan oleh pertanyaan Ricky.

“Aku melihatmu minggu lalu di perpustakaan. Setahuku itu jam pelajaran Literasi Imperial. Apa yang kau lakukan di tengah pelajaran, apa profesor Roy tidak mencarimu?"

"Itu bukan urusanmu."

"Tentu saja tidak akan menjadi urusanku jika dewan akademi mengetahuinya dan mulai mempertanyakan kelayakan beasiswamu," Ricky melangkah lebih dekat, menurunkan volume suaranya. Ayahnya, seorang yang memiliki otoritas di Negara Ruky, baru saja memperingatkannya semalam tentang adanya dokumen terlarang yang dicuri dari arsip perpustakaan bawah tanah, dan naluri Ricky berkata gadis di hadapannya ini rela meninggalkan kelas Literasi Imperial demi membaca di perpustakaan bukan hanya sekedar membaca. "Emmm….Jurusan Hukum memiliki banyak pengaruh di negara ini. Jika kau butuh seorang teman agar beasiswa mu aman, kau hanya perlu meminta padaku." Tanpa basa-basi Ricky mengatakan hal yang membuat Lyra merasa tidak nyaman dan bingung.

Lihat selengkapnya