Peluit kereta uap senja menjerit panjang, membelah kabut tebal yang menyelimuti perbatasan wilayah Ibu Kota Ruky. Di dalam gerbong kelas tiga yang pengap oleh bau asap arang dan keringat dingin, Lyra Libey menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang bergetar.
Lyra membaca sebuah kertas dengan lambang elang emas di atasnya. Lyra membaca isinya. Sedetik kemudian, ia melipatnya dan memasukan ke saku celananya. Perjalanan pulang kali ini terasa jauh lebih muram dari biasanya. Di setiap stasiun yang disinggahi kereta, atmosfer keputusasaan terasa mencekik. Melalui celah jendela, Lyra menyaksikan kesibukan yang menyakitkan di sepanjang jalur utama menuju Ibu kota Ruky. Kereta-kereta barang bertingkat melintas ke arah berlawanan, mengangkut berton-ton bijih besi dan batubara murni dari perut bumi Negara Ruky menuju pusat perdagangan Ibu kota. Gudang-gudang besar milik kekaisaran tampak penuh sesak, dijaga ketat oleh prajurit Legion berhelm baja. Kekayaan alam negara ini terus dikeruk tanpa henti, tetapi tidak ada sedikit pun yang tersisa untuk rakyatnya.
Di dalam gerbong, tidak ada lagi tawa atau obrolan ringan antar pedagang pasar. Semua orang membicarakan satu hal yang sama dengan suara berbisik penuh ketakutan. Pajak wilayah naik lagi.
Di bangku seberang Lyra, seorang pria paruh baya menangkup wajahnya dengan tangan berlapis jelaga, menangis tanpa suara. Di tangannya ada seutas tali kekang seekor sapi sepertinya dia habis menjual hewan ternaknya demi melunasi upeti bulan ini. Beberapa baris di belakangnya, sepasang suami istri saling berpelukan erat, menatap kosong dokumen penggusuran rumah karena tanah mereka disita oleh kekaisaran. Penderitaan ini bukan lagi sekadar masalah keluarga Libey di sudut Lefyard, seluruh Distrik Lefyard sedang merangkak di bawah cambuk besi yang sama.
Saat kereta akhirnya berhenti di Karengard, pemandangan yang menyambut Lyra jauh lebih parah daripada pemandangan beberapa minggu lalu.
Pasar distrik yang biasanya bising oleh teriakan para pedagang kini sunyi senyap. Lebih dari separuh kios kayu tutup, meninggalkan papan-papan kosong yang mulai berlumut. Beberapa rumah di sepanjang jalan setapak tampak melompong dengan pintu terbuka lebar—ditinggalkan pemiliknya yang memilih melarikan diri ke hutan perbatasan wilayah antar negara atau berakhir di kamp kerja paksa.
Anak-anak kecil dengan tulang rusuk menonjol sedang bermain di tanah becek, tatapan mereka kosong dengan mata cekung. Di dekat kedai kopi tua, beberapa pria dewasa berbicara dengan nada getir tentang kemungkinan terburuk, menjual anak-anak mereka sebagai buruh pembersih cerobong asap di Rigyard agar sisa keluarga bisa bertahan hidup dari kelaparan. Dunia di sekitar Lyra sedang sekarat, kehilangan sisa-sisa harapannya.
Lyra mempercepat langkah kakinya, mencengkeram tali tas kulitnya erat-erat untuk mengusir rasa cemas yang mulai merayap ke dadanya. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang menghadang jalannya di persimpangan gang.
Itu Sam.
Namun, tidak ada lompatan konyol dari atas peti kayu hari ini. Tidak ada lelucon garing atau banyolan tentang topi bekas lagi. Pemuda berambut berantakan itu berdiri tegak dengan tatapan mata cokelat yang lelah. Di kedua tangannya, ia mendekap sebuah karung goni kecil yang tampak berat.
"Kau sudah pulang, Lyra," ucap Sam rendah, memaksakan sebuah senyuman tipis yang tidak sampai ke matanya. Ia menyodorkan karung itu ke pelukan Lyra. "Ini... titipan. Ada sedikit beras, kayu bakar kering, dan beberapa ekor ikan kecil."
Lyra menerima karung itu, merasakan kehangatan yang asing. "Dari mana kau mendapatkan ini semua, Sam? Seluruh pasar bahkan hampir mati."
"Ibuku," dusta Sam cepat, sambil menggaruk tengkuknya dan membuang muka ke arah lain. "Ibuku yang menyuruhku mengantarnya ke rumahmu pagi ini. Katanya, Ibumu sedang tidak enak badan."
Lyra menatap jemari tangan Sam. Kulit di sekitar kuku pemuda itu pecah-pecah dan berdarah, bekas luka khas dari mereka yang menjadi buruh batubara di dermaga Daangard sepanjang malam. Lyra tahu betul ibu Sam sudah lama sakit-sakitan dan tidak mungkin mampu memberikan barang-barang semewah ini. Ini adalah hasil keringat dan darah Sam sendiri, yang diberikan tanpa mengharapkan balasan. Untuk pertama kalinya, Lyra menyadari bahwa di balik topeng badut yang selalu ia cemooh, Sam adalah dinding kokoh yang diam-diam menahan runtuhnya dunia Lyra.
"Terima kasih, Sam. Sampaikan pada ibumu," bisik Lyra melembut.
Sam hanya mengangguk, menepuk bahu Lyra pelan dengan canggung, lalu berbalik berjalan pergi dengan langkah kaki yang sedikit pincang akibat kelelahan.
Ketika Lyra mendorong pintu rumah kayunya yang berderit, kehangatan tipis segera menyambutnya. Di atas meja makan yang rapuh, Suky Libey sedang duduk di bawah temaram lampu minyak yang berkedip. Jemarinya yang kurus dan pucat tengah menyusun beberapa keping koin Ryd emas.
Di sampingnya, Zyfir berdiri tegak, memperhatikan jemari ibunya dengan rahang yang mengencang.