LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #4

SEGEL

Ketukan keempat tidak pernah datang. Sebagai gantinya, daun pintu kayu yang rapuh itu didorong paksa dari luar hingga engsel karatannya terangkat.

Angin malam yang membawa rintik hujan dan bau amis lumpur seketika menerobos masuk, membuat nyala lampu minyak di atas meja berkedip liar sebelum akhirnya padam. Di ambang pintu, siluet tiga pria berdiri menghalangi cahaya rembulan yang pucat.

Suky buru-buru melangkah maju. Tangannya merentang sedikit ke belakang, sebuah gestur keibuan yang secara naluriah muncul demi melindungi Lyra dan Zyfir di punggungnya. Tubuh kurus wanita itu gemetar, namun ia memaksakan sebuah senyum yang kaku dan memelas.

"S-selamat malam, Tuan-tuan..." suara Suky bergetar menahan dingin dan takut.

Pria paruh baya di depan—sang petugas pemungut pajak—melangkah masuk tanpa ekspresi. Tidak ada gurat kebencian, tidak ada senyum merendahkan. Wajahnya sedingin bongkahan es di puncak Negeri Selatan. Ia membuka gulungan perkamen di tangannya dan mengeluarkan sebatang pena bulu.

"Keluarga Libey," ucap sang petugas datar, tanpa repot-repot menatap wajah Suky. "Tenggat waktu wilayah Lefyard sudah habis. Total pajak: delapan puluh Ryd."

Di sudut ruangan, Lyra menahan napas.

Suky bergegas meraup kepingan koin di atas meja. Empat keping emas dan tujuh keping perak. Delapan puluh Ryd terasa begitu jauh.

"Kami... kami baru memiliki empat puluh tujuh Ryd, Tuan," mohon Suky, suaranya nyaris seperti isakan. Perlahan, wanita paruh baya itu merendahkan tubuhnya, nyaris bersimpuh. "Tolong... saya memohon kebijakan Anda. Beri kami sedikit waktu untuk sisa tiga puluh tiganya."

Petugas pajak itu menatap koin di tangan Suky selama beberapa detik. Ia lalu menempelkan pena bulunya ke atas perkamen. Terdengar bunyi garukan kasar di atas kertas.

"Empat puluh tujuh. Kurang tiga puluh tiga," gumam pria itu monoton bak mesin. Ia lalu menatap kedua prajurit Legion berhelm baja di belakangnya. "Catat. Keluarga Libey. Status gagal membayar."

Begitu kata-kata itu keluar, salah satu prajurit Legion melangkah maju. Tanpa peringatan, ia menepis tangan Suky dengan gagang pedangnya. Sangat keras.

Koin-koin perak dan emas hasil keringat itu jatuh berhamburan ke lantai, menggelinding ke sudut-sudut ruangan yang gelap. Suky terjerembap ke belakang.

"Ibu!" Zyfir berteriak ngeri. Ia melangkah maju menempatkan dirinya di antara ibunya dan prajurit itu. "Apa yang kalian lakukan?! Aku ini calon pendaftar Legion! Aku akan mengabdi pada Kekaisaran, kalian tidak bisa memperlakukan—"

Prajurit Legion itu bahkan tidak membiarkan Zyfir menyelesaikan kalimatnya. Dengan sebuah tendangan brutal berlapis sepatu bot besi, ia menghantam perut Zyfir hingga anak laki-laki itu terlempar ke belakang, menabrak meja makan hingga patah menjadi dua.

Lihat selengkapnya