LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #5

RUMAH

Segel Merah itu masih menempel di dinding rumah keluarga Libey. Lilin merahnya telah mengering, tetapi ancaman yang dibawanya justru terasa semakin hidup.

"Kau harus tetap bersekolah, Lyra," suara Suky terdengar parau namun tidak menerima bantahan pagi itu.

Di dalam rumah mereka yang pengap di Lefyard, Suky berdiri di depan pintu, menghalangi jalan Lyra yang sudah siap melepaskan jubah akademinya. Bagi Lyra, pergi ke Rigyard untuk belajar di saat rumah mereka di ambang penyitaan dalam waktu dua hari adalah sebuah kegilaan.

"Ibu, kita punya waktu dua hari lagi," Lyra mendesak, suaranya bergetar oleh kecemasan. "Sam sedang di pelabuhan, dan aku bisa memintanya mencarikan kerja serabutan di distrik bawah. Berada di kelas tidak akan menghasilkan satu Ryd pun untuk membayar sisa utang kita!"

Suky menggeleng kepala perlahan. Tangan tuanya yang kasar meraih pundak Lyra, meremasnya dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki. "Akademi itu adalah satu-satunya jalan keluar kita dari jelaga Lefyard, Nak. Jika kita menyerah sekarang, kita benar-benar akan kehilangan rumah. Dan kalau rumah ini tidak bisa diselamatkan, setidaknya dengan ilmu yang kau dapat di akademi kau bisa membangun rumahmu sendiri di masa depan."

Ibunya menatap dalam-dalam mata anaknya itu. “Temukan rumahmu.”

Tatapan mata ibunya yang penuh harap—namun sekaligus menyimpan kehangatan—membuat Lyra tidak punya pilihan. Dengan berat hati, ia melangkah keluar, menembus kabut asap Lefyard menuju stasiun kereta.

Namun, begitu Lyra menginjakkan kaki di perbatasan Distrik Rigyard, langkahnya langsung terhenti.

Jalan utama Boulevard Rigyard yang biasanya dipenuhi kereta kuda mewah kini ditutup total. Barisan prajurit Legion berhelm baja dengan jubah hitam berlambang elang emas kekaisaran yang bermahkota dan dikelilingi enam permata berwarna berbaris rapat di sepanjang trotoar, membentuk barikade besi yang memisahkan jalanan dari masyarakat sipil. Bendera-bendera merah tua berukuran raksasa berkibar angkuh di atas tiang-tiang tinggi, menciptakan atmosfer yang mencekam sekaligus agung.

Masyarakat dan para mahasiswa Royal Academy berjejer di tepi jalan, menatap dengan pandangan takjub sekaligus ngeri.

"Ada apa ini?" bisik seorang penjual buah di dekat Lyra.

"Kau tidak tahu? Utusan Agung dari pusat Kekaisaran sedang melintas," sahut seseorang di sebelah penjual buah itu dengan suara setengah berbisik. "Itu kereta Master Josh..."

Dari kejauhan, sebuah kereta hitam besar yang dilapisi baja hitam mengkilap dan ditarik oleh enam ekor kuda jantan hitam melintas perlahan. Kereta itu dikawal oleh puluhan kavaleri bersenjata lengkap. Kaca jendela kereta itu dilapisi pembatas tebal yang gelap, menyembunyikan rapat-rapat sosok yang berada di dalamnya.

Lyra hanya bisa menatap iring-iringan itu dari kejauhan di balik kerumunan. Ia tidak bisa melihat wajah yang berada di dalam kereta itu, tetapi seluruh Rigyard menahan napas saat iring-iringan itu melintas.

Setelah barikade dibuka dan kerumunan mulai bubar, Lyra melanjutkan langkahnya. Ia berjalan melewati Crystal Fountain yang megah di tengah alun-alun kota. Airnya yang jernih memancar tinggi, memantulkan cahaya matahari pagi.

Di tepi kolam marmer itu, seorang anak bangsawan kecil berpakaian sutra putih sedang bermain miniatur kapal. Karena kurang hati-hati, sebuah koin emas yang ia pegang sebagai mainan tergelincir dari jemarinya dan jatuh ke dalam air jernih kolam.

Si anak bangsawan hanya mengerucutkan bibirnya manja. Detik itu juga, seorang pelayan tua yang mendampinginya langsung berlutut, dengan tergesa-gesa merogohkan tangannya ke dalam air dingin demi mengambil koin emas tersebut dan mengusapnya hingga kering sebelum dikembalikan ke tangan sang tuan muda.

Lyra terpaku menatap adegan itu. Satu koin emas yang dijatuhkan dengan begitu ceroboh oleh seorang anak kecil nilainya setara dengan sepuluh koin perak Ryd. Nilai yang bagi kaum bangsawan mungkin tidak lebih dari sekadar mainan yang bisa dibuang, sementara di Lefyard, tiga puluh tiga Ryd adalah angka yang sungguh tidak masuk akal.

Situasi saat ini terasa begitu nyata dan menyakitkan, membakar sisa-sisa harga diri Lyra saat ia melangkah memasuki kompleks akademi.

Ruang kelas Geografi Imperial hari itu terasa luar biasa hening. Peta raksasa Negara Ruky tergantung di depan mimbar kayu tempat Profesor Gary berdiri. Pria paruh baya itu mengetukkan penggaris kayunya ke papan tulis hitam.

"Siapa yang bisa menjelaskan mengapa Rigyard, pusat pemerintahan kita, sengaja dibangun di atas dataran tinggi dan dikelilingi oleh tembok batu berlapis?" tanya Profesor Gary, matanya menyapu seisi ruang kelas.

Seorang mahasiswa bangsawan di barisan depan langsung mengacungkan tangan dengan penuh percaya diri. "Untuk menegaskan kedaulatan militer dan memudahkan pengawasan terhadap distrik bawah, Profesor. Ketinggian secara psikologis menanamkan rasa hormat dan kepatuhan pada wilayah-wilayah di bawahnya."

Lihat selengkapnya