LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #6

TAWARAN

Empat keping Ryd jatuh ke atas meja kayu dengan bunyi nyaring yang terdengar terlalu kecil untuk menyelamatkan sebuah rumah.

Zyfir membuka telapak tangannya perlahan. Kulit di sekitar kukunya pecah-pecah dan menghitam oleh debu pelabuhan.

Sambil memikirkan penawaran Ricky sebelum pulang kuliah hari ini. Lyra menatap angka itu dalam diam.

Empat Ryd.

Di luar rumah, langit sore Lefyard hari ini tampak pucat dan rapuh, seolah malam akan runtuh lebih cepat dari biasanya. Di dalam, mereka hanya punya satu hal yang akan meruntuhkan dinding rumah mereka: waktu.

Suky tertidur di sudut dipan kayu dengan napas berat yang terengah-engah, tubuhnya terlalu lelah setelah seharian membungkus sisa makanan pasar. Lyra menggeser empat keping koin hasil zyfir bekerja. Menyatukannya dengan beberapa koin kusam sisa kemarin. Totalnya tidak berubah banyak. Angka di atas meja masih terpuruk jauh dari tiga puluh tiga Ryd yang diminta Kekaisaran.

Kekurangan mereka masih terlampau besar. Dan Segel Merah di pintu depan seolah menyerap seluruh udara dingin malam ini, mencekik mereka perlahan dari luar.

Di kejauhan, suara derap sepatu bot besi berdentang berat dari gang utama Lefyard. Lampu minyak lentera memantulkan cahaya suram ke dinding-dinding kayu yang basah oleh hujan.

Zyfir bangkit tanpa suara, melangkah pelan menuju celah jendela kayu. Lyra memperhatikan punggung saudaranya yang menegang. Dari balik tirai lusuh, nampak serombongan prajurit Zykbrad Legion berpatroli, membawa pedang dan lambang elang emas yang terpatri di dada zirah mereka.

Zyfir menatap mereka tanpa berkedip. Mata pemuda itu redup, menampung bayangan pasukan yang dulu begitu dipujanya.

“Aku dulu berpikir ingin menjadi salah satu dari mereka, Lyra,” bisik Zyfir, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan. “Menolak bekerja di Pelabuhan untuk berlatih pedang kayu sampai tanganku kapalan... hanya agar bisa pakai zirah besi itu.”

Ia mengepalkan tangannya yang terluka.

“Aku pikir mereka melindungi rakyat,” lanjut Zyfir, matanya mengikuti langkah kaki patroli yang menghilang di kegelapan gang. “Tapi setiap kali mereka datang ke Lefyard, yang hilang selalu rumah orang miskin.”

Zyfir memalingkan wajahnya dari jendela.

 

Malam makin pekat, di tengah lamunannya Lyra mengingat satu nama: Sam.

Lyra menuju bagian timur distrik. Langkah kakinya bergegas membawa sisa harapan terakhirnya menuju rumah Sam.

Rumah keluarga Sam sedikit lebih baik daripada milik Libey—berdinding papan tebal dengan atap genteng tanah yang tidak bocor. Namun begitu Sam membukakan pintu, interior ruangan itu menyapa mata Lyra. Ini pertama kalinya dia melangkah masuk setelah sekian lama berteman.

Dinding ruang tamu Sam dipenuhi atribut Zykbrad Legion. Poster rekrutmen bergaris emas yang sudah menguning, helm latihan dari kulit keras, lencana kayu bentukan sendiri, dan dua pedang latihan murah bersandar di sudut ruangan. Sam benar-benar hidup untuk mimpi itu.

Melihat tatapan heran Lyra, Sam tersenyum tipis.

“Kau seperti melihat hantu Lyra. Aku dulu yakin Legion bisa membuat keluargaku aman, Lyra,” ujar Sam pelan, menatap lencana kayu di dinding dengan sorot mata kosong. “Tapi sekarang aku bahkan tidak tahu apakah mimpi itu masih bisa dibeli.”

Lyra hanya bisa diam mematung mendengarnya. Lyra tidak pernah membayangkan dinding rumah Sam dipenuhi simbol yang selama ini ia benci.

Lamunannya terpecah ketika Sam melangkah ke sudut meja dan mengambil sebuah kotak kayu kecil. Ia membukanya. Isinya hanya beberapa koin perak. Sam menggeser kotak kayu itu perlahan ke hadapan Lyra. “Aku tahu kenapa kau datang Lyra.”

“Aku sebenarnya mau ke rumahmu besok pagi,” katanya dengan suara berat. “Aku dengar petugas pajak akan mulai penyitaan rumah-rumah yang bersegel merah dari blok timur. Aku mau ikut berjaga di rumahmu.”

Lihat selengkapnya