Ruangan kerja Master Josh Hardsun nyaris tidak memiliki warna selain hitam dan emas. Dinding batu obsidian memantulkan cahaya api dari tungku besar di sudut ruangan, sementara lambang Zykbrad Empire terukir raksasa di belakang kursi tinggi tempat Utusan Agung termuda Kekaisaran itu duduk. Di usia dua puluh delapan tahun, Josh Hardsun telah memimpin lebih banyak operasi negara daripada kebanyakan pejabat senior yang berusia dua kali lipat darinya.
Di atas meja kayu hitamnya terbentang sebuah laporan tebal bercap segel merah.
ARSIP TERLARANG — STATUS: HILANG
Josh menutup laporan itu perlahan. Ketukan jemarinya di atas meja memutus hening. “Sudah dipastikan?” tanyanya datar.
Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi dengan jubah Legion abu tua dan zirah hitam tanpa hiasan berlebihan. Kael Draven. Di usianya yang menginjak empat puluh tahun, wajah penuh bekas luka tipis itu menegaskan reputasinya sebagai komandan yang tidak pernah gagal dalam perburuan. Seorang prajurit yang loyal sepenuhnya pada Kekaisaran, bukan pada permainan politik para bangsawan.
Kael menundukkan kepala pendek. “Ya, Master Josh. Yang dicuri adalah sebuah perkamen asli dari Arsip Bawah Tanah. Catatan sejarah sebelum revisi Kekaisaran.”
Josh terdiam. Keheningan di ruangan itu mendadak terasa menekan dada. “Isinya?”
Kael menggeleng pelan. “Bagian itu diklasifikasikan tingkat Dewan Elite Kekaisaran.”
Josh berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap hamparan gemerlap cahaya malam Rigyard. “Jika seseorang mencuri dokumen itu, berarti ada orang yang sedang mencari masa lalu yang tidak ingin kita bangkitkan,” gumam Josh. Ia menoleh setengah badan, menatap Kael dengan mata kelamnya. “Temukan pencurinya sebelum dokumen itu dibaca oleh orang yang salah.”
_____
Jauh sebelum matahari tenggelam sore tadi, saat Ricky Rayndale telah memberikan kunci kepada Lyra.
“Masuklah sendiri,” kata Ricky sore itu.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Lyra.
Ricky menjelaskan serius. “Jika kau melihat suatu rak atau etalase kaca yang janggal seperti di buka paksa, kau carilah sesuatu yang bisa menjadi alat bukti pencurian di dekatnya dan bawa kepadaku.”
“Kenapa tidak kau saja yang masuk dan mencarinya ?” tanya Lyra lebih dalam.
“Ayolah. Jangan bercanda Lyra.”
Saat itu Lyra sadar, Ricky bukanlah teman atau pelindung. Pemuda itu hanya bangsawan cerdik yang tidak ingin mengotori tangannya sendiri. Ricky butuh seseorang yang cukup putus asa untuk mengambil risiko menggantikannya—dan Lyra adalah orang yang tepat untuk dikorbankan.
Hembusan angin malam di pelataran Royal Academy membuyarkan lamunan Lyra. Ia tersadar, merapatkan mantel lusuhnya, lalu bergegas menuju bangunan perpustakaan.
Menara utama Royal Academy berdentang berat sebanyak sepuluh kali. Suaranya bergema panjang, membelah keheningan malam dan menandakan bahwa perpustakaan utama telah resmi ditutup sejak satu jam yang lalu.