Lyra berdiri kaku di pelataran Royal Academy. Di kejauhan, obor-obor pasukan Legion mulai bergerak menuruni bukit utama Rigyard seperti ular api yang membelah kegelapan malam.
Napas Lyra terengah-engah memburu. Tangan kirinya meremas erat lencana perunggu dingin di dalam saku mantel. Namun sebelum ia sempat melompat menuruni tangga batu, sebuah tangan mencengkeram lengan mantelnya dengan kuat, menariknya masuk ke balik bayangan pilar pualam.
“Lyra!”
Ricky Rayndale berdiri di hadapannya dengan napas agak memburu. Matanya yang biasa tenang kini memancarkan keterdesakan yang jarang terlihat.
“Kau gila?” bisik Ricky menekan suaranya. “Kau mau menyerobot barisan Legion di tengah malam?”
“Lepaskan aku, Ricky!” gertak Lyra. “Pasukan itu menuju Lefyard!”
“Kau sudah masuk?” potong Ricky cepat, matanya menatap tajam ke arah saku mantel Lyra. “Apa yang kau temukan di bawah tanah?”
Lyra menahan napas. Dengan tangan bergetar, ia menarik keluar benda perunggu kusam yang ditemukannya di celah kaca etalase. Ia memperlihatkannya di bawah pendar remang lentera.
Ricky menyipitkan mata. Ia maju, mengamati garis cetakan di tepi lencana tersebut. Tatapannya mendadak mengeras.
“Bukan sekadar lencana pelayan biasa,” desis Ricky, suaranya berubah menjadi bisikan berbahaya. “Ini lencana khusus akses arsip malam. Seseorang di dalam akademi memberikan akses ini.”
Pencurinya adalah orang dalam.
“Serahkan itu padaku,” Ricky mengulurkan tangannya. “Lencana ini cukup untuk membuat ayahku menunda perintah penyitaan rumahmu.”
“Tidak sekarang!” tolak Lyra, menyembunyikan lencana itu rapat-rapat. “Komandan Legion bergerak ke Lefyard tanpa peduli siapa pencuri sebenarnya! Dia hanya butuh kambing hitam!”
“Aku yang akan menyerahkan bukti ini langsung pada mereka.”
Tanpa menunggu balasan Ricky, Lyra menghempaskan genggaman pemuda itu dan berlari menuruni tangga batu menuju arah Stasiun Rigyard.
“Lyra! Tunggu!” teriak Ricky.
Di perbatasan bukit akademi, Komandan Kael Draven memacu kuda hitam besarnya memasuki Jalur Militer Utama. Ia tidak membawa bukti, juga tidak membutuhkan petunjuk. Bagi Kael, menjalankan perintah Master Josh untuk menemukan pencuri perkamen cukup diselesaikan dengan satu asumsi sederhana: sampah distrik bawah selalu menjadi akar masalah.
Kael berniat menyisir pemukiman Lefyard dari rumah ke rumah—terutama rumah-rumah miskin yang telah ditandai Segel Merah karena menunggak pajak. Mereka yang terdesak hutang adalah yang paling punya alasan kuat untuk mencuri.
PWOOOOT!
Peluit lokomotif terakhir meraung. Roda-roda besi berdecit berat menghantam rel, memuntahkan uap panas ke udara yang menusuk tulang. Lyra melompati tangga peron yang licin dan mencengkeram besi pegangan gerbong paling belakang tepat saat kereta uap meluncur menuruni terowongan tebing Rigyard. Perjalanan memutar mengitari tebing menuju Lefyard butuh waktu tiga puluh menit.
Pukul 22.30
Derap kaki puluhan kuda berzirah memancarkan percikan api saat menghantam batuan cadas di pertengahan Jalur Militer Utama. Jalur ini adalah potongan rute ekstrim—sebuah jalan setapak buatan yang dipahat langsung di tebing terjal Rigyard. Panjangnya hanya separuh dari rute melingkar rel kereta uap, namun kemiringannya yang curam mematikan.
Di bawah pendar obor yang meliuk-liuk dihantam angin lembah, Kael Draven memimpin di barisan paling depan. Jalur sempit itu hanya dibatasi jurang kelam di satu sisi dan dinding batu hitam yang meneteskan air di sisi lain. Bau belerang dan kabut basah Lefyard mulai tercium keras. Kael tidak memperlambat laju kudanya sedikit pun. Ringkik kuda dan gemerincing zirah besi berdentang berisik di antara gema tebing.
Pukul 22.40
Di dalam gerbong kereta yang meliuk menembus terowongan gelap, Lyra mencengkeram besi jendela. Bau batu bara yang membakar tenggorokan tak lagi ia pedulikan. Kereta terasa bergerak terlalu lambat. Setiap detak jarum jam terdengar sangat jelas di telinganya. Ia menatap kegelapan di luar jendela, membayangkan wajah ibunya dan adiknya. Setiap kali kereta melambat ketika melewati tikungan tebing, jantung Lyra ikut terasa melambat. Ia bahkan sempat berharap masinis menambah kecepatan, meski risikonya kereta itu keluar rel, asalkan ia bisa tiba beberapa menit lebih cepat.
"Lebih cepat... tolong lebih cepat..." bisik Lyra parau, matanya memerah menahan tangis.
Selama tiga puluh menit perjalanan di dalam gerbong yang berbau batu bara dan jelaga, dada Lyra terus bergemuruh. Kereta uap itu membelah ketinggian seribu meter, membawa Lyra dari keheningan pualam Rigyard menuju kerawanan Lefyard di dasar lembah.
Sementara itu, di Lefyard. Derap kuda Kael Draven telah menembus batas Sektor Empat, Blok Timur Lefyard.