LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #9

ATAP

Dunia tidak hancur dengan suara ledakan. Bagi Lyra, dunia hancur dalam keheningan yang pekak.

Suara-suara bergema di dalam kepalanya, memantul di dinding kepalanya yang terasa kosong. Lyra bersimpuh membeku di mulut gang. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Tak ada satu tetes air mata pun yang keluar dari pelupuk matanya. Tubuhnya melumpuh total, terkunci oleh gelombang kebas yang luar biasa dingin.

Dari jarak beberapa meter di mulut gang, pandangannya terpaku pada empat hal.

Cairan merah pekat yang perlahan merambat merusak kertas Segel Merah di ambang pintu.

Tubuh Suky yang terkulai kaku di atas tanah basah.

Sam—sahabat setianya yang selama ini selalu ada untuk membantunya—bersimpuh di dekat pintu, memegangi Zyfir yang meraung histeris hingga suaranya serak.

Dan, Komandan Kael Draven duduk di atas kuda hitamnya. Diam. Tak bergeming. Wajahnya setenang batu nisan.

BRAAAK!

Dentum benturan keras memecah keheningan yang mencekik. Sol sepatu besi prajurit Legion mendobrak sisa pintu kayu rumah keluarga Libey hingga terbelah dua.

"Penyisiran total! Periksa setiap sudut!" gertak seorang perwira.

Lima prajurit berzirah hitam menerobos masuk. Dalam hitungan detik, suara kehancuran membahana dari dalam. Lemari kayu kusam dibalikkan hingga pecah berantakan. Kasur jerami disobek menggunakan ujung pedang. Dinding-dinding papan dihantam hingga retak untuk mencari ruang rahasia.

"Hentikan! Jangan sentuh rumah mereka!" jerit Sam.

Sam yang sejak tadi memegangi Zyfir akhirnya tak mampu lagi menahan diri. Dia mengayunkan pedang kayu latihannya ke arah prajurit terdekat. Namun, sebelum kayu itu sempat mengenai zirah, sebuah pukulan keras dari gagang tombak besi mendarat telak di dada Sam.

BHUK!

Sam tersungkur ke tanah basah, memuntahkan darah dan menahan napasnya yang tercekik. Seorang prajurit langsung menahan pergerakan Sam.

Sementara Zyfir, langsung berlari ke tubuh ibu nya. Memeluknya erat. Memanggil-manggil ibunya. Berharap ini hanya mimpi.

Segala barang kenangan belasan tahun keluarga Libey dihancurkan tanpa ampun di bawah tumit besi Legion.

Langkah kaki berzirah menapak pelan. Kael Draven turun dari kudanya, melangkah membelakangi rumah yang sedang diacak-acak dan berjalan mendekati mulut gang—tempat Lyra membeku.

Suara gemerincing zirahnya berhenti tepat tiga langkah di hadapan Lyra.

Tepat di ujung lutut Lyra yang basah, lencana perunggu yang terlepas dari genggamannya tergeletak setengah terbenam di dalam genangan air bercampur lumpur. Hampir tak terlihat.

Namun, dalam kondisi syok yang luar biasa, mata Lyra hanya menatap kosong ke arah jasad ibunya. Otaknya mati rasa. Benda di dalam lumpur itu tak lagi berarti apa-apa saat ini.

Lihat selengkapnya