Bayangan hitam berkelebat di antara pilar-pilar Ruang Arsip Bawah Tanah. Obor-obor di dinding bergetar, bayangannya menari liar di antara etalase yang menyimpan perkamen kuno.
PRANG!
Jemari bersarung tangan hitam meraup perkamen kuno bermeterai merah dari balik pecahan kaca etalase. Dalam keheningan terlarang yang mencekik, rasa panik yang membakar membuat sosok itu bergerak terlalu terburu-buru. Napasnya memburu, gerakannya tergesa-gesa.
Tepat saat ia berbalik menerobos kegelapan untuk melarikan diri, sebuah logam kecil terlepas dari bajunya akibat gerakannya yang panik—berdenting halus di atas lantai batu sebelum akhirnya sunyi kembali menelan segalanya.
Seminggu setelah insiden rumah Lyra.
Keheningan di Sektor Empat Karengard masih terasa dingin dan pekak.
Di dalam rumahnya—yang sudut-sudutnya masih berantakan akibat penggeledahan kasar pasukan Legion seminggu lalu—Lyra duduk membisu. Di telapak tangannya terbaring lencana perunggu kusam yang sudah dibersihkan dari lumpur. Tanpa bersuara, ia memasukkan benda itu ke dalam saku tas akademinya dan menarik ritsletingnya rapat-rapat.
"Kak..."
Suara Zyfir memecah kesunyian. Bocah itu duduk di kursi kayu di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya. Wajahnya pucat dan tirus, matanya yang sembap menatap kosong ke lantai.
"Aku mau berangkat ke akademi," ucap Lyra pelan, merapikan tali tasnya.
Zyfir menengadah sebentar, suaranya keluar bagai bisikan yang hampir tak terdengar. "Setelah ini...apa yang kita lakukan, Kak?"
Lyra terhenti. Ia melihat bagaimana jemari adiknya bergetar di atas kain celananya. Zyfir berusaha keras menutupi keterpurukannya, berpura-pura kuat di hadapan Lyra. Tapi Lyra sadar betul betapa hancurnya perasaan adiknya itu.
"Aku tetap harus kuliah," jawab Lyra lembut. "Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan nanti, tapi kita harus bertahan. Tetaplah di rumah bersama Sam. Sepertinya petugas pajak sudah tidak memperdulikan rumah yang sudah menjadi sasaran komandan legion.”
Zyfir hanya mengangguk pelan dan kembali menyandarkan dagunya di atas lutut.
"Kau yakin ingin ke akademi, Lyra?" tanya Sam pelan. “Aku masih melihat para Legion, masih menyisir semua sektor di Lefyard. Sepertinya mereka belum menemukan apa yang mereka cari.”
Lyra menatap Sam sejenak, lalu menjawab singkat, "Tolong jaga Zyfir."
Sam mengangguk.
Di sepanjang jalan Karengard menuju stasiun, para penduduk memperhatikan Lyra. Tidak ada yang bersuara atau mencemooh. Yang ada hanyalah pandangan kasihan dan empati yang dalam dari balik pintu dan jendela rumah mereka. Namun, ketakutan pada cengkeraman Kekaisaran membuat semua orang hanya bisa bungkam dalam diam.
Di dalam gerbong kereta besi menuju Rigyard, Lyra menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Gemuruh roda kereta bergetar teratur, membawa ingatannya melayang sejenak.
Lyra terpejam. Ia bisa merasakan kehangatan lengan ibunya merengkuh tubuhnya saat badai menimpa Karengard bertahun-tahun lalu. Bau harum gandum kering dari pakaian Suky, usapan lembut tangannya di kepala Lyra, dan bisikan tenang sang ibu: "Selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja, Lyra..."
Getaran kereta menariknya kembali ke kenyataan. Kehangatan itu telah sirna selamanya.