Hujan menghantam atap rumah kayu itu dengan suara yang tak beraturan.
Angin malam menyusup melalui celah-celah dinding, membuat api kecil di tungku bergoyang-goyang.
Lyra kecil meringkuk di sudut ruangan. Usianya baru tujuh tahun. Kedua tangannya menutup telinga, sementara suara petir menggelegar di luar.
DUARRR!
Ia tersentak. "Ibu..."
Suky segera berlutut di hadapannya. "Jangan takut, Lyra." Perempuan itu menarik tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Tubuh kecil Lyra tenggelam di antara kedua lengan ibunya.
"Petirnya besar sekali..."
"Ibu di sini." Suky mengusap rambut Lyra perlahan.
"Selama kita bersama, semuanya akan baik-baik saja."
Di sudut lain ruangan, Zyfir yang baru berusia satu tahun tertidur pulas.
Lyra memeluk ibunya semakin erat. "Kalau rumah kita rusak bagaimana?"
Suky terdiam sebentar. kemudian ia tersenyum. "Rumah bukan cuma dinding dan atap, Lyra."
"Kalau begitu... rumah itu apa?" Tanya polos Lyra.
Suky mencium kening putrinya. "Apapun bentuknya... selama kita selalu bersama, itu tetap akan menjadi sebuah rumah."
Lyra menatap ibunya. "Jadi kita tidak akan kehilangan rumah?"
Suky memeluknya lebih erat. "Tidak akan."
Hening sesaat.
Namun kemudian wajah Suky berubah. Senyumnya perlahan menghilang. Ia menatap putrinya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Lindungi..." Lyra mengerutkan dahi.
"Apa, Bu?"
"Lindungi..."
Suara Suky terdengar semakin jauh. "...Lyra..."
DUARR!
Petir kembali menggelegar.
"Lindungi rumah..."
Lyra tersentak bangun. Napasnya memburu.
Ia membuka mata dan menatap langit-langit yang asing. Beberapa detik ia hanya terdiam, kemudian ia menyadari bahwa dirinya tidak berada di rumah.
Ia tertidur di sofa ruang perpustakaan kediaman Profesor Kynd.
Cahaya pagi menyelinap melalui jendela-jendela tinggi, menyinari rak-rak buku dan meja yang masih dipenuhi perkamen.
Lyra mengusap wajahnya. Mimpi tadi masih terasa nyata. Namun ketika ia mencoba mengingat kalimat terakhir ibunya, ingatan itu justru menghilang seperti kabut.
"Sudah bangun?" suara Profesor Kynd terdengar dari belakang.
Lyra menoleh. Profesor itu berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa buku.
"Selamat pagi, Profesor."
"Pagi." Kynd meletakkan buku-buku tersebut di atas meja. "Bagaimana tidurmu?"
Lyra tersenyum tipis. "Kurasa... tidur terbaikku selama hidupku."
Profesor Kynd menaikkan alis. "Di sofa tua itu?"
"Lebih nyaman daripada tempat tidurku di rumah."
Kynd terkekeh kecil. Sofa ini sudah lebih tua daripada sebagian besar mahasiswa di akademi."
Lyra tersenyum tipis, kemudian ia melihat sekeliling. "Mana Ricky?"
"Dia pulang pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum matahari terbit."
Lyra langsung mengernyit. "Sepagi itu?"
"Setelah kau tertidur, semalaman dia masih mencoba menyambungkan segala kemungkinan yang terjadi dalam kasus pencurian dokumen itu." Profesor Kynd berhenti sejenak. "Oh, satu lagi."
"Apa?"
"Katanya dia meminjam lencana pelayan yang kau temukan di Ruang Arsip Bawah Tanah."
Mata Lyra langsung membesar. "Lencananya?"
Kynd mengangguk. "Dia membawanya."
Lyra segera berdiri. "Aku harus pergi."
"Kemana?" tanya profesor.
Lyra sudah meraih tasnya. "Terima kasih sudah mengizinkan aku menginap, Profesor. Dan maaf sudah mengotori sofa Anda."
"Tunggu, Lyra." Kynd mengangkat tangan. "Aku membuat omelet."
Lyra berhenti.
"Setidaknya sarapanlah dulu." Kynd berjalan menuju dapur. "Atau kau mau langsung ke akademi?"
Lyra tidak menjawab. Ia sudah membuka pintu.
"Lyra?"
Pintu tertutup.
BLAM.
Profesor Kynd hanya bisa berdiri sambil menatap pintu. "Anak itu..."
Lyra berjalan cepat menyusuri jalan utama Rigyard. Langkahnya semakin cepat.
Apa maksudmu, Ricky? Apa yang kau rencanakan?