LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #13

KURSI

Dermaga Daangard terbentang sunyi di bawah naungan malam Lefyard.

Lampu-lampu minyak dari kapal dagang berayun perlahan diterpa angin laut, memantulkan garis-garis cahaya ke permukaan air yang gelap. Ombak kecil bergerak menuju tepian dermaga, menghantam tiang-tiang kayu tua dengan suara lembut dan berulang.

Di ujung dermaga, Zyfir duduk sendirian. Kedua kakinya menggantung di atas air, sementara kedua tangannya menopang tubuhnya di belakang.

Sam berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kau tahu, dari semua tempat di Daangard, cuma ada satu tempat yang selalu kau datangi kalau sedang ingin menyendiri."

Zyfir tidak menoleh.

"Aku sedang tidak ingin bicara."

"Aku tahu."

Sam merapatkan mantelnya. Angin laut malam terasa semakin dingin.

"Kakakmu sudah menceritakan semuanya kepadaku."

Zyfir akhirnya menoleh.

"Dia datang?"

Sam mengangkat dagunya, menunjuk ke belakang.

Lyra berdiri beberapa meter dari mereka. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, membiarkan angin malam menerpa rambutnya.

"Kalian harus menyelesaikan ini berdua, tidak baik berlama-lama saudara bertengkar" ujar Sam.

Setelah itu Sam kembali ke arah Lyra, tetapi berhenti sebentar di sampingnya.

"Kalian bersaudara."

 

"Jangan membuatku menyesal sudah membantu."

Lyra hanya mengangguk.

Sam kemudian berjalan meninggalkan mereka, menembus kegelapan dermaga.

Lyra menatap punggung sahabatnya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan mendekati Zyfir.

Ia duduk di samping adiknya.

Tidak ada yang berbicara.

Beberapa menit berlalu.

Hanya suara ombak yang menghantam tiang-tiang kayu mengisi ruang di antara mereka.

"Kau masih sering datang ke sini?" tanya Lyra akhirnya.

"Kadang."

"Dulu kita juga sering ke sini."

"Lebih tepatnya, kau yang selalu menyeretku ke sini."

Lyra tersenyum tipis.

"Karena kau selalu menangis kalau Ibu memarahimu."

"Aku tidak pernah menangis." Zyfir langsung menoleh.

"Benarkah?" Lyra menatapnya dengan mata yang mulai dipenuhi nostalgia. Kalau begitu, siapa yang menangis ketika kau memasukkan ikan kecil ke dalam ember cucian Ibu?"

Sudut bibir Zyfir perlahan terangkat.

"Itu karena kau bilang ikannya bisa jadi hewan peliharaan!. Memangnya aku tahu ikan itu bakal mati terkena sabun?" Zyfir terkekeh.

"Ibu hampir membunuh kita berdua waktu itu."

"Dia menyuruh kita mencuci semua pakaian di rumah selama tiga hari." Pungkas Lyra.

"Dan kau malah kabur."

"Aku masih kecil!"

"Aku juga!"

Tawa mereka pecah.

Untuk beberapa saat, dunia terasa sederhana.

Tidak ada Legion. Tidak ada pajak. Tidak ada Kekaisaran. Tidak ada kematian.

Hanya dua anak yang pernah melalui hari-hari bahagia bersama ibunya yang kadang membuat seorang ibu kerepotan menghadapi kenakalan mereka dulu.

Namun tawa itu perlahan mereda.

Zyfir kembali menatap laut.

"Aku sangat rindu Ibu." Suaranya jauh lebih pelan.

Lyra menatap permukaan laut yang berkilauan diterpa cahaya bulan. "Ya...” Lyra menarik napas. "Aku juga."

Hening kembali turun. Kali ini terasa lebih berat.

"Jadi..." Zyfir akhirnya berkata, "bagaimana kau bisa mendapatkan surat akademi itu, Kak?"

Lyra terdiam.

"Kenapa kau tidak pernah menceritakannya kepada Ibu?" Nada suara Zyfir tidak lagi marah. Hanya kecewa.

"Padahal Ibu percaya sepenuhnya kepadamu."

Lyra menundukkan kepala. "Aku tidak bermaksud membohongi siapa pun, Zyfir."

"Namun kau tetap melakukannya kak."

Lyra tidak membantah.

"Ada banyak kesempatan untuk mengatakannya kepada Ibu," lanjutnya pelan. "Tapi aku tidak sanggup menambah beban pikirannya ketika keadaan rumah kita semakin terdesak."

"Dia tetap berhak tahu kak."

"Aku tahu." Lyra menatap laut. Dan itulah hal yang paling kusesali."

Zyfir terdiam cukup lama. Ia mengusap hidungnya yang terasa mampet sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Yah... sudahlah."

Ia menatap langit.

"Ibu pasti sedih kalau melihat kita terus bertengkar."

Senyumnya muncul tipis. “Aku tidak mau membuat Ibu sedih lagi di sana."

Zyfir menoleh kepada kakaknya. "Maafkan aku, Kak."

Lyra menatap adiknya. "Tidak." Suaranya bergetar.

"Aku yang minta maaf."

Zyfir tidak menjawab.

Ia hanya membuka kedua tangannya.

Lyra langsung memahami maksudnya.

Mereka berpelukan.

Erat.

Air mata yang sejak tadi mereka tahan akhirnya jatuh begitu saja.

Untuk pertama kalinya sejak kematian Suky, mereka tidak mencoba terlihat kuat di depan satu sama lain.

Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan.

Keduanya buru-buru mengusap air mata masing-masing.

"Kau menangis," ledek Zyfir.

Lihat selengkapnya