LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #14

BEL

Kebisingan terdengar dari luar. Derit engsel besi terdengar saat Kynd mendorong pintu kayu yang tebal.

Suara tawa justru terdengar dari dalam.

Kynd berhenti.

Lyra mengernyit.

Mereka saling berpandangan.

"Dia sedang mengajar." ucap Lyra.

Kynd menghela napas.

"Seharusnya tidak."

"Kenapa?"

"Karena kalau dia sedang mengajar, berarti ada mahasiswa yang sedang menderita."

Lyra menahan senyum.

Kynd mendorong pintu lebih lebar.

Suara seorang pria terdengar dari ujung ruangan.

"Dan inilah alasan mengapa simbol Kaisar Zykbrad selalu ditempatkan di sebelah kanan."

Beberapa mahasiswa tertawa.

"Profesor, bukankah tadi Anda mengatakan sebelah kiri?"

Pria itu terdiam. "Oh."

Ia memandang papan tulis. Kemudian kembali menatap mahasiswanya. "Kalau begitu, kita anggap itu ujian."

Tawa kembali pecah.

Lyra akhirnya bisa melihat ke dalam.

Di balik pintu itu terhampar sebuah ruang kelas beratap tinggi dengan pencahayaan keemasan yang menerobos dari jendela-jendela lengkung khas Imperial.

“Kelas Literasi Imperial.” batin Lyra

seorang pria berusia sekitar lima puluhan berdiri di depan papan tulis besar. Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian, tetapi wajahnya masih terlihat penuh energi.

Jubah akademiknya tidak sepenuhnya rapi.

Salah satu lengan bahkan sedikit terlipat.

Di belakangnya terpampang berbagai simbol dan bentuk tulisan aksara Kekaisaran Zykbrad.

Pria itu mengambil sepotong kapur.

"Baiklah. Sebelum kalian pulang, satu pertanyaan."

Ia menunjuk sebuah simbol.

"Siapa yang tahu arti lambang ini?"

Seorang mahasiswa mengangkat tangan.

"Simbol kewenangan militer?"

"Bagus."

Pria itu mengangguk.

"Jawabanmu salah."

Kelas langsung tertawa.

Mahasiswa tersebut menatapnya tidak percaya.

"Profesor!"

"Aku bilang pertanyaan. Tapi bukan pertanyaan yang mudah."

Tawa semakin ramai.

Pria itu ikut tertawa.

"Baiklah, cukup. Kalian semua terlalu mudah tertawa."

Ia kemudian melirik ke arah pintu.

Tatapannya langsung berhenti pada Kynd.

Senyumnya melebar.

"Ah."

Ia meletakkan kapur. "Sepertinya aku kedatangan tamu."

Beberapa mahasiswa menoleh. Pria itu menunjuk Kynd. "Dan dari wajahnya, sepertinya tamuku membawa masalah."

Kelas kembali tertawa.

Kynd memasang wajah datar.

"Roy."

"Jangan begitu, Kynd."

Roy berjalan mendekati pintu.

"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu datang ke kelas tanpa membawa setumpuk catatan untuk mengoreksi kesalahanku."

"Kau masih sama menyebalkannya."

"Dan kau masih sama buruknya dalam memuji."

“Aku tadi ke ruang kerjamu. Tapi terkunci.” ucap Kynd. Lyra berdiri diam di belakang Kynd.

Roy baru menyadari keberadaannya.

Matanya bergerak dari Kynd kepada Lyra.

Kemudian kembali kepada Kynd.

"Ah."

Ia menyipitkan mata.

"Jadi ini masalahnya."

Kynd menghela napas.

"Roy, kita bicara setelah kelas."

Roy melihat jam dinding.

Kemudian membalikkan badan.

"Baiklah, semuanya. Kelas selesai."

Seorang mahasiswa mengangkat tangan.

"Profesor, bukankah masih ada dua puluh menit?"

Roy menunjuknya.

"Justru karena itu."

Mahasiswa itu kebingungan.

Roy tersenyum.

"Kalian sudah cukup pintar untuk hari ini."

Tawa kembali pecah.

Bel kelas berbunyi beberapa saat kemudian.

Para mahasiswa mulai membereskan buku dan keluar dari ruangan.

Beberapa masih tertawa dan berbicara satu sama lain.

Roy berdiri di depan pintu, menunggu sampai kelas benar-benar kosong.

Ketika mahasiswa terakhir melewati mereka, Roy menutup pintu.

Ia kemudian menatap Kynd.

"Baik."

Senyumnya menghilang.

"Ada apa?"

Kynd menatapnya beberapa saat.

"Aku membutuhkan bantuanmu."

Roy mengangkat alis.

"Seorang ahli sejarah terkemuka dari Negeri Timur datang jauh-jauh ke ruanganku dan mengatakan dia membutuhkan bantuanku?"

Ia melirik Lyra.

"Ini pasti serius."

Lyra mengerutkan dahi.

"Negeri Timur?"

Kynd langsung menatapnya.

"Jangan dengarkan dia."

Roy terkekeh.

"Diam kau, Kynd. Dasar kutu sejarah."

"Kau kutu bahasa."

Roy menunjuk dirinya sendiri.

"Dan aku bangga."

Ia menatap Lyra.

"Kau jauh-jauh datang ke sini, jangan bilang kau tidak bisa membaca huruf kuno."

Tawa kecil keluar dari mulutnya.

Kynd dan Lyra sama-sama diam.

Roy masih tersenyum.

Beberapa detik berlalu.

Senyumnya perlahan menghilang.

"Oh."

Ia melihat wajah keduanya.

"Jangan-jangan..."

Roy menunjuk Lyra.

"Kau memang tidak bisa membacanya."

Tidak ada jawaban.

Roy menatap Kynd.

Kemudian Lyra.

Lalu kembali kepada Kynd.

"Oh, sial."

Ia menggeleng pelan.

"Ternyata benar."

 

TING!

Sebuah bel berbunyi ketika Roy membuka pintu dan beranjak masuk.

Lyra spontan melihat keatas pintu. Ada sebuah bel kecil di atas pintu yang di desain berbunyi jika pintunya bergerak.

Ruang kerja Profesor Roy Noryn sama sekali tidak terlihat seperti ruang kerja seorang akademisi biasa.

Dindingnya dipenuhi rak-rak kayu tinggi yang hampir mencapai langit-langit.

Buku-buku tua bertumpuk tidak beraturan.

Beberapa gulungan perkamen disimpan dalam tabung kaca.

Artefak kecil dari berbagai wilayah memenuhi rak-rak lainnya.

Ada topeng tua.

Pecahan batu bertuliskan simbol.

Koin dari kerajaan yang sudah tidak ada.

Bahkan sebuah pedang pendek berkarat tergantung di salah satu dinding.

Di antara semua itu terdapat puluhan foto dan lukisan.

Roy berjabat tangan dengan ilmuwan.

Roy bersama para pemimpin negara.

Roy berdiri di depan perpustakaan kuno.

Roy menerima penghargaan.

Roy memegang buku.

Roy kembali menerima penghargaan.

Dan.

Sebuah kumpulan bel-bel kecil yang di gantung di atas langit-langit yang talinya tepat menjulur di atas meja kerjanya.

Lyra berhenti di depan salah satu foto.

"Anda punya banyak foto diri sendiri."

Roy yang sedang menuangkan teh menoleh.

Lihat selengkapnya