LYRA LIBEY : SANG PEWARIS

B.C.X
Chapter #15

CANGKIR

DUA HARI SEBELUMNYA

Seorang wanita muda berjalan menuju halaman depan. Ia mengenakan jubah panjang berwarna putih gading dengan lapisan hitam pada bagian bahu. Rambutnya disanggul sederhana dan ditutup kain tipis berwarna gelap. Sebuah lambang Zykbrad terpasang di dada kirinya.

Langkahnya berhenti ketika melihat seorang pria berdiri di dekat gerbang.

Wanita itu menundukkan kepala. "Komandan Kael."

Kael menatapnya sebentar. "Tetua Agung menungguku?"

"Beliau sudah menerima kabar kedatangan Anda."

Wanita itu berbalik. "Silakan ikut saya."

Kael berjalan mengikutinya.

Mereka memasuki bangunan utama.

Pintu kayu besar tertutup perlahan di belakang mereka.

KLIK.

Di dalam, suasananya jauh lebih tenang.

Lorong-lorong batu dihiasi ukiran sejarah Kekaisaran.

Beberapa lukisan tua menggambarkan Kaisar Zykbrad berdiri di hadapan rakyat.

Di beberapa sudut, dupa tipis mengepul dari wadah-wadah kecil.

Tidak ada suara percakapan.

Hanya bunyi langkah kaki mereka yang bergema di lantai batu.

Wanita itu berhenti di depan sebuah pintu besar.

Ia mengetuk dua kali.

TOK. TOK.

"Masuk."

Suara tua terdengar dari balik pintu.

Wanita itu membukanya.

"Komandan Kael telah tiba."

Seorang duduk di dalam ruangan. Jubah hitam panjang menutupi tubuhnya. Lambang Zykbrad berwarna emas terpasang di dada.

Ia adalah Tetua Agung. Pemimpin tertinggi Kultus Zykbrad.

Ruangan itu jauh lebih indah daripada bagian luar kuil. Lantainya terbuat dari batu putih mengilap. Pilar-pilar tinggi menopang langit-langit berkubah. Di sepanjang dinding terdapat ukiran emas yang menggambarkan sejarah Kekaisaran.

Sebuah meja rendah berada di tengah ruangan.

Di atasnya terdapat teko perak, dua cangkir porselen, dan sebuah wadah kecil berisi buah kering.

Tetua agung mengangkat tangannya. "Terima kasih."

Wanita itu menundukkan kepala.

Ia kemudian meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup.

KLIK.

Tetua agung menunjuk kursi di hadapannya.

"Silakan duduk, Komandan."

Kael duduk.

Ia mengambil teko dan menuangkan minuman hangat ke dalam cangkir. Ia mendorong salah satunya ke arah Kael.

"Teh?"

Kael menatap cangkir itu. Tidak menyentuhnya.

Tetua tersenyum tipis. "Tenang. Tidak beracun."

"Aku tidak khawatir."

"Bagus." Tetua mengambil cangkirnya sendiri.

"Kalau begitu, ada apa? Seorang komandan Legion datang jauh-jauh ke pinggiran kota pada malam hari."

Tetua menatapnya. "Haruskah aku menganggap kau datang untuk berdoa?"

Kael mendengus.

"Atau mengaku dosa?" Sudut bibir tetua agung terangkat.

Kael menggeleng. "Cih." Ia melihat sekeliling ruangan. "Aku ragu jika dewa akan mengabulkan doaku."

Tetua tidak menjawab. "Dan dosa?"

Kael menatapnya. "Apa itu dosa?"

Hening.

"Aku tidak percaya." Ia menyandarkan tubuhnya. "Atau apa pun yang kalian percaya di tempat ini."

Tetua mengamati wajahnya. "Kau tidak percaya kepada dewa."

"Tidak."

"Kau juga tidak percaya kepada dosa."

"Tidak."

"Lalu apa yang kau percaya?"

Kael menjawab tanpa ragu.

"Kekaisaran."

Tetua terdiam.

"Kaisar Zykbrad adalah penguasa mutlak." Nada suara Kael datar. "Itu satu-satunya hal yang perlu dipercaya."

Tetua menatapnya beberapa saat.

Kemudian tersenyum.

"Menarik."

"Apa?"

"Sudah lama aku tidak mendengar seseorang mengatakannya dengan keyakinan seperti itu."

Kael tidak menjawab.

Tetua menyesap tehnya.

"Lima belas tahun terakhir, semakin banyak orang datang kemari mencari pengampunan."

Ia menatap Kael. "Kau justru datang tanpa membawa keyakinan apa pun."

"Aku tidak datang untuk bicara tentang keyakinan."

"Benar." Tetua meletakkan cangkir.

Lihat selengkapnya