Ada hal-hal yang paling aku hindari dalam hidup. Salah satunya adalah perseteruan yang tidak memiliki alasan. Bahkan jika kutilik masa laluku yang suram itu, aku hanya melakukan perkelahian untuk mempertahankan diri. Dan itu cukup sekali untuk pembelajaran, bahwa memiliki masalah dengan orang lain merusak separuh ketenangan bagaimanapun caraku mengabaikan itu.
Semasa sekolah menengah atas, aku pernah menghadapi sekelompok anak yang suka merundung di sekolah. Mereka tak hanya merundungku, tapi juga beberapa temanku yang terlihat lemah. Aku tak akan pernah lupa itu, saat buku matematikaku dibakar mereka hanya perkara aku tak mau memberikan contekan. Sialnya lagi guru sekolah tak pernah percaya padaku, dan murid kelas yang tahu kejadiannya tidak mau mengambil resiko sebagai korban rundungan berikutnya oleh kelompok perundung itu.
Aku marah, bersitegang dengan guru mata pelajaran matematika. Mungkin itu pertama kalinya aku melakukan konfrontasi, bukan sebab aku dirundung saja, tapi sebab seorang dewasa yang aku sebut guru malah memojokkanku dan mengatakan bahwa itu akal-akalanku saja. Jika mengingat itu, ternyata memang lebih banyak guru yang meninggalkan kesan buruk dalam kenanganku.
Sejak itu aku berjanji akan membalas si perundung hingga mereka mengakui kesalahan mereka kepada guru matematika tersebut.
Saat itu aku masih kelas dua, berumur enam belas tahun. Sedang yang kuhadapi adalah orang dewasa yang seharusnya mengayomi dan sekelompok murid pembuat onar yang berani bertingkah karena tahu orang tuanya berpengaruh.
Aku mulai menyusun strategi perang hari itu. Sungguh jika harus mengakui, mungkin itu adalah buah amarah dari perasaan yang kupendam bertahun-tahun. Bagaimana aku harus menghadapi kenyataan hidup akhirnya memiliki wadah untuk melampiaskan.
Hal pertama yang kulakukan adalah mengumpulkan bala tentara, aku mulai merekrut diam-diam korban perundungan kelompok tersebut dengan iming-iming aku akan membantu mereka untuk mata pelajaran yang mereka kesusahan di dalamnya. Tentu saja banyak yang menolak, ada yang menolak karena tak mau berurusan ada juga yang menolak karena merasa penawaranku tidak menggiurkan. Ya, tidak semua pelajar suka dengan belajar, ini miris tapi terjadi di banyak sekolah yang aku rasa hingga sekarang juga masih terjadi.