Bagi Abid (30), rumah peninggalan orang tuanya di Bekasi kini tak lebih dari sebuah kotak sepi yang penuh gema masa lalu. Setelah kehilangan Bapak di tahun 2016 tepat setelah ia lulus SMK, Abid harus mengubur mimpinya. Selama hampir sepuluh tahun, ia menjalani hidup yang serba menjepit: keluar-masuk perusahaan kontrak, menembus panas-hujan Bekasi sebagai driver ojek online, demi menopang ekonomi.
Titik terang perlahan muncul di tahun 2025 saat Abid diterima sebagai kitchen assistant di sebuah restoran F&B di Bekasi. Meski gajinya pas-pasan dan ritme kerjanya menguras fisik, Abid bersyukur roda hidupnya mulai stabil. Namun, badai tak pernah benar-benar pergi. Juni 2026, Mama mengembuskan napas terakhirnya akibat komplikasi penyakit. Sebagai anak bungsu, Abid kini benar-benar sebatang kara di rumah itu, sementara kedua kakaknya telah sibuk dengan kehidupan keluarga mereka sendiri.
Di tengah duka yang belum pulih, tubuh Abid mulai mengkhianatinya. Rasa lelah ekstrem, nyeri sendi yang hebat, dan ruam merah di wajahnya dianggap sekadar efek kelelahan dapur. Hingga akhirnya, vonis medis menjatuhkan kenyataan pahit: Abid mendiami tubuh yang sedang menghancurkan dirinya sendiri melalui penyakit Lupus.
Tepat di bulan Oktober 2026, di hari ulang tahunnya yang ke-31, Abid mengambil hari libur dari bisingnya dapur restoran. Ia melangkah menuju tempat peristirahatan terakhir Mama dan Bapak. Di depan gundukan tanah yang senyap, di bawah langit, Abid melepaskan seluruh topeng ketegaran yang selama sepuluh tahun ini ia pakai sendirian. Ia bersimpuh, membawa kado ulang tahun berupa rasa sakit yang paling jujur, dan berbisik: “Ma, Pa. Hari ini aku ulang tahun... dan aku sakit.”