Ma, Pa. Hari ini aku ulang tahun

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #2

BAB 1: Riuh Dapur, Sepi Rumah

Aroma bawang putih yang ditumis di atas wajan baja raksasa menyengat hidung Abid, berbaur dengan hawa panas yang mengepul dari deretan kompor bertekanan tinggi. 

Di dalam dapur restoran fnb yang terletak di salah satu pusat keramaian Kota Bekasi ini, waktu tidak berjalan, melainkan melompat. Bunyi dentang sudip yang beradu dengan logam, desis minyak panas, dan bentakan pelayan yang menuntut pesanan segera siap, membentuk simfoni bising yang merajai kepala Abid sejak enam jam lalu.

“Bid! Chicken cordon bleu meja nomor empat, cepat sedikit!” Gema suara itu memotong lamunan Abid.

Itu suara Chef Baskoro. Pria paruh baya bertubuh tegap dengan celemek hitam bernoda minyak itu menunjuk konter saji dengan dagunya yang kukuh. Matanya yang tajam tidak pernah mentoleransi keterlambatan meski hanya satu menit.

“Siap, Chef!” Abid menyahut tangkas.

Abid menarik napas dalam-dalam, mengusir penat yang mulai menggelayuti pundaknya. Dengan cekatan, tangannya yang terbungkus sarung tangan plastik menata potongan daging ayam berbalur tepung panir yang baru saja matang di atas piring porselen. Ia menambahkan sejumput kentang goreng dan sekop kecil sayuran rebus di sisi lain piring. Estetika adalah segalanya di restoran ini, bahkan untuk kelas asisten dapur seperti dirinya, kerapian adalah harga mati.

Namun, tepat saat jemarinya mengangkat piring porselen yang tebal dan berat itu, sebilah rasa ngilu yang tajam mendadak menusuk pergelangan tangan kirinya. Rasanya dingin sekaligus menyengat, seolah ada jarum es yang ditancapkan paksa ke sela-sela sendinya. Cengkeraman Abid melonggar seketika. Piring itu miring, hampir menumpahkan sauskeju yang baru saja ia siram di atas daging.

Abid memekik tertahan. Ia buru-buru menahan dasar piring dengan tangan kanan sebelum benda itu membentur lantai granit dapur. Jantungnya bertalu hebat.

“Lu kenapa, Bid? Tangan lu gemeteran begitu?” Tegur salah satu rekan kerjanya yang sedang memotong bawang di sebelah konter.

Abid memaksakan sebuah senyuman tipis, menggeleng cepat seraya menggeser piring tersebut ke area penyerahan pesanan. “Enggak apa-apa. Cuma agak kaget tadi, licin.”

“Jangan lemes. Malam minggu ini, pengunjung lagi padat-padatnya. Gaji UMR kita ini kudu dibayar pakai keringat setimpal, tahu sendiri Chef Bas gimana kalau liat ada yang loyo,” bisik temannya lagi, lalu kembali sibuk dengan pisaunya.

Lihat selengkapnya