Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #1

Q

Hanif menendang pintu kamar kosnya—sebuah kotak beton ukuran 3x4 meter di jantung Tebet yang lebih pantas disebut "Kaleng Sarden" daripada hunian manusia. Jam dinding plastik di tembok yang catnya mulai mengelupas menunjukkan pukul 20.45 WIB. Di luar sana, gema selawat sisa-sisa tarawih perdana masih sayup-sayup terdengar, namun Hanif justru sibuk bertarung dengan pintu menggunakan tumit sepatu pantofel yang kulit bagian ujungnya sudah terkelupas—sebuah simbol status pekerja entry-level di Jakarta: ingin terlihat fancy, tapi dompet masih mercy (merana sekali).

Brak! Pintu terbuka.

Tangannya penuh. Tangan kanan mencengkeram erat plastik kresek berisi sate padang yang kuahnya mulai mengental dingin karena AC minimarket tadi, sementara tangan kiri menjepit kunci motor, id card kantor yang talinya sudah bladus, dan segelas es kopi susu gula aren yang es batunya sudah mencair total menjadi air keruh yang menyedihkan.

"Assalamualaikum..." ucapnya pelan pada kamar kosong yang gelap dan pengap itu. Kebiasaan lama yang sulit hilang, meski tak ada yang menjawab.

Hanif melempar kunci motor ke atas kasur. Suara besi beradu dengan per springbed murah terdengar nyaring.

"Hah... gila. Tarawih apa lomba lari? Imamnya nge-rap apa gimana?" gerutunya sambil mengusap peluh di dahi.

Napasnya masih sedikit memburu. Baru lima menit yang lalu dia kabur dari masjid komplek di belakang kosan. Niat hati ingin menjadi pemuda soleh di malam pertama Ramadan dengan ikut sholat Tarawih, tapi realita iman Hanif berkata lain. Dia hanya ikut 4 rakaat super kilat, lalu diam-diam melipir keluar saat jamaah lain berdiri untuk rakaat kelima.

Tanpa witir, tanpa doa, tanpa zikir. Langsung kabur cari sate padang.

Yang penting setor muka sama Allah, batinnya, mencoba merasionalisasi ibadahnya yang secepat kilat checkout barang flash sale. Baginya, Allah pasti maklum. Allah kan Maha Tahu kalau Hanif adalah Junior PR Consultant yang lelah dan besok harus bangun pagi untuk sahur perdana.

Kamar itu gelap. Bau khas kamar bujang—campuran aroma pewangi pakaian laundry kiloan, sisa uap mie instan tadi pagi, dan sedikit bau lembap dari tembok yang rembes kalau hujan—langsung menyergap hidungnya.

Hanif meraba dinding, mencari saklar lampu.

Klik.

Lampu neon putih berkedip sekali, berdengung malas seakan protes karena disuruh bekerja lembur, lalu menyala terang. Menyinari kamar ukuran 3x4 meter yang menjadi saksi bisu kehidupan ganda Hanif.

Di sudut kanan, ada "Sudut Pencitraan". Sebuah meja kerja estetik dengan background tembok yang ditempeli wallpaper bata putih palsu, lengkap dengan tanaman monstera plastik dan ring light. Itu adalah satu-satunya sudut yang boleh dilihat oleh klien saat Zoom meeting atau oleh ibunya saat video call.

Sisanya? Zona bencana. Tumpukan baju kotor menggunung di kursi belajar seperti instalasi seni modern bertajuk "Depresi", kardus paket e-commerce berserakan di lantai, dan laptop yang masih terbuka menampilkan deck presentasi berjudul "CRISIS MANAGEMENT PLAN: Klarifikasi Influencer X".

Hanif menghela napas panjang, bersiap melepas kemeja kerjanya yang lengket oleh keringat dan dosa ibukota, ketika matanya menangkap sesuatu yang ganjil.

Ada orang di atas lemari pakaiannya.

Bukan hantu. Bukan bayangan. Orang. Benar-benar orang dalam bentuk tiga dimensi yang solid.

Hanif terlonjak mundur tiga langkah. Tumitnya tersandung kardus sepatu, membuatnya nyaris terjengkang. Sate padang di tangannya melayang sesaat—dalam gerak lambat yang dramatis—sebelum Hanif dengan refleks ninja (atau refleks orang pelit yang nggak mau rugi Rp 25.000) berhasil menangkapnya kembali.

"ASTAGFIRULLAHALADZIM! MALING!" teriak Hanif refleks. Suaranya pecah, melengking seperti anak kucing kejepit pintu.

Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuh. Otak lulusan Jurnalistik Fikom Unpad-nya langsung bekerja memproses data visual di depannya dengan kecepatan tinggi.

Analisis Situasi:

1.                     Lokasi: Di atas lemari plastik portable merek "Lion Star" yang tingginya dua meter.

2.                     Logika Fisika: Lemari itu terbuat dari plastik tipis. Diduduki kucing saja meleyot. Diduduki manusia dewasa harusnya hancur lebur. Tapi sosok ini duduk bersila di sana seolah berat badannya nol.

3.                     Wajah Pelaku: ...Tunggu.

Lihat selengkapnya