Suara itu nggak kedengeran kayak panggilan ibadah yang syahdu. Suara itu lebih mirip simulasi kiamat jalur darat.
"SAHUUUR! SAHUUUR! BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, MANGGA ATUH SAHUUURRR... JANGAN LUPA NIATNYA, JANGAN LUPA MAKANNYA, JANGAN LUPA UTANGNYA..."
Teriakan dari TOA masjid di belakang tembok kosan Hanif ini bukan sekadar himbauan, tapi serangan fisik ke gendang telinga. Speaker masjid itu—yang kayaknya volumenya diputer sampe mentok kanan sampe membrannya mau jebol—menciptakan suara pecah yang bikin orang mati pun mungkin bakal bangun buat request lagu, atau seenggaknya bikin orang hidup pengen mati suri bentar biar bisa tidur tenang.
Belum lagi ditambah parade "Pasukan Galon Bernada". Itu tuh, gerombolan bocah kampung yang mukulin galon kosong pake semangat 45. Dung-tak-dung-tak. Kaca jendela kosan Hanif sampe geter.
Hanif ngerang panjang. Panjang banget.
Badannya sih kebangun, kaget, tapi nyawanya masih ketinggalan lima menit di alam mimpi. Matanya lengket, kayak ada lem Aibon di kelopak mata. Mulutnya pait, sisa rasa sate padang semalem yang micinnya nggak ngotak.
Otak Hanif yang baru nyala (itu pun paling cuma 15%) langsung mikir satu hal: Mimpi.
"Pasti cuma mimpi," gumam Hanif. Suaranya serak-serak basah, matanya masih merem rapet. "Semalem itu fix mimpi. Mana ada Qarin. Mana ada setan pake boxer SpongeBob. Itu pasti cuma halusinasi gara-gara gue kebanyakan nyesep asep knalpot di Tebet."
Dia narik napas dalem-dalem, nyoba nipu dirinya sendiri. Otaknya muter cari alibi yang masuk akal: Hanif, dengerin gue. Lo kemaren capek parah. Lo stres revisi klien yang mau murah tapi minta viral. Lo makan sate padang yang dagingnya mencurigakan. Wajar kalo lo mimpi aneh. Sekarang, buka mata lo, ambil wudhu, sahur kayak manusia normal.
Dengan keyakinan palsu itu, Hanif beraniin diri buka mata.
Dia nengok ke langit-langit kamar yang berjamur. Aman. Nggak ada rantai emas yang nembus plafon. Dia nengok ke pintu kamar. Aman. Ke kunci rapet. Dia nengok ke atas lemari plastik portable-nya.
Kosong.
Hanif ngehembusin napas lega. Lega banget, kayak abis lunas cicilan motor. "Alhamdulillah... Gue cuma gila sesaat," bisiknya. Ternyata bener, dia cuma butuh tidur. Hantu itu nggak nyata. Hidupnya balik normal jadi budak korporat biasa.
Hanif ngeraba-raba kasur, nyari HP buat ngecek jam.
Layar HP nyala. Angkanya bikin jantungan: 04.13.
Cahaya layarnya nusuk mata. Dan notifikasinya lebih nyeremin lagi: 12 missed call dari "Ibu Negara (Bandung)", 3 stiker jempol dari "Bapak Negara", dan 5 alarm yang udah tewas mengenaskan gara-gara di-snooze paksa sama jari Hanif yang gerak sendiri pas tidur.
"Anjir... telat! Imsak bentar lagi!" umpatnya panik. Imsak jam 04.33, berarti dia cuma punya waktu 20 menit buat masak, makan, dan minum.
Dia nyoba bangun, tapi kepalanya pening. Kliyengan. Efek samping tidurnya nggak tenang. Semalem, abis pertemuan (yang dia anggep mimpi) itu, Hanif emang sengaja nggak langsung tidur. Dia nyalain lampu terang-terangan, muter murottal YouTube volume maksimal, terus scroll TikTok berjam-jam sampe otaknya mati rasa, cuma biar nggak takut. Dia baru ketiduran jam 2 pagi pas HP-nya jatoh nimpa muka.
Hanif duduk di pinggir kasur, ngumpulin nyawa yang masih tercecer. Dia nyamber botol air mineral di meja, nenggak rakus kayak orang abis nyebrang gurun.
"Haus banget, Bos? Abis lari marathon di alam mimpi?"
PYAAR!
Botol air mineral di tangan Hanif lepas. Jatoh ke lantai. Air tumpah ngebasahin karpet bulu aesthetic murahan miliknya.
Hanif nge-freeze. Lehernya kaku, males banget mau nengok. Jantungnya yang tadi udah tenang, sekarang deg-degan lagi kayak lagi nunggu giliran sidang skripsi.
Jangan nengok. Jangan nengok. Itu suara tetangga. Itu suara kucing.
"Gue di sini, Nif. Di atas tumpukan buku Public Relations lo yang berdebu itu. Samping laptop."
Pelan-pelan, patah-patah kayak robot kurang oli, Hanif nengok ke meja kerjanya.
Harapannya ancur lebur.
Di sana, duduk santai sambil silang kaki, ada Q.
Si Qarin masih pake setelan fashion show semalem: kaos kutang putih belel dan boxer SpongeBob kuning norak. Rantai emas bercahaya itu masih ngelilit badannya, nyala redup-redup gitu. Bedanya, sekarang dia lagi mainin yoyo transparan. Entah dapet dari mana itu yoyo.
Wusss. Wusss. Yoyo itu naik turun. Hipnotik. Tapi bikin mental Hanif down.
"Lo... lo... masih di sini?" tanya Hanif, suaranya geter. "Jadi... semalem itu... bukan mimpi?"
Q muter bola matanya, mukanya kayak tersinggung berat. "Mimpi? Lo pikir muka gue yang ganteng ini cuma imajinasi lo? Please deh. Gue nempel sama lo kayak daki, Nif. Lo pikir pas lo tidur gue nginep di hotel bintang lima? Gue duduk di sini, liatin lo ngorok sambil ileran dan ngigo nyebut nama mantan lo. Not a pretty sight, jujur aja."
Hanif mundur sampe punggungnya nabrak tembok dingin. Kakinya lemes. Realita nimpuk dia kayak truk tronton. Ini nyata. Dia punya setan pribadi yang bisa diliat, didenger, dan diajak ngobrol, yang sekarang lagi natap dia pake tatapan ngejek.
"Pergi..." desis Hanif, meluk lututnya sendiri. "Gue mau sahur... Gue mau normal..."
"Siapa yang ngelarang lo sahur?" Q nunjuk pantry mini di sudut kamar pake dagunya. "Mending lo buruan masak. Imsak jam 04.33, Bos. Lo punya 15 menit lagi sebelum sirine bunyi. Kecuali lo mau puasa polosan tanpa energi, terus nanti jam 10 pagi lo pingsan pas brainstorming konten."
Hanif ngelirik jam dinding. 04.18.
Sialan. Dia nggak punya waktu buat krisis eksistensi sekarang. Perutnya harus diisi atau karirnya tamat hari ini. Insting bertahan hidup (survival mode) Hanif ambil alih. Urusan setan nanti aja, urusan perut prioritas utama.
"Minggir," Hanif berdiri sempoyongan, usaha banget nggak natap mata Q. Dia jalan ke arah pantry mini—yang sebenernya cuma meja lipat isi dispenser, magic com mungil (yang nasinya udah kering dan kuning gara-gara lupa dicabut kemaren), dan tumpukan harta karun anak kos: mie instan.
"Masak apa? Wagyu A5 pake truffle oil?" sindir Q, masih asik main yoyo.
"Mie instan pake telor. Menu fine dining akhir bulan," jawab Hanif ketus, tangannya gemeter pas nyalain kompor listrik portable.
Sambil nunggu air mendidih (yang lamanya minta ampun gara-gara voltase listrik kosan lagi rebutan sama AC tetangga), Hanif buka HP. Dia butuh pengalihan. Dia butuh liat kehidupan manusia normal.