Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #3

JIHAD PAGI DI JALUR NERAKA

Jam digital di dashboard motor Hanif berkedip mengejek, menunjukkan pukul 08.15 WIB. Lokasinya saat ini adalah simulasi neraka duniawi bernama Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Casablanka—tepatnya di jalur bawah arah Karet-Sudirman yang macetnya nggak ngotak. Kalau ada status bar di atas kepala Hanif kayak di game RPG, isinya pasti mengenaskan: Nyawa tinggal 40%, Kesabaran sisa 5%, dan Haus sudah tembus 1000%.

Ada sebuah teori konspirasi yang beredar di kalangan anak motor Jakarta: Matahari di ibukota saat bulan puasa itu punya tombol turbo boost rahasia. Kayaknya, malaikat penjaga matahari sengaja nurunin posisinya lima sentimeter lebih deket ke aspal khusus di bulan Ramadan, cuma buat nguji seberapa kuat iman—dan seberapa tebel kulit—warga ibukota.

Hanif lagi ngerasain validasi teori itu sekarang.

Dia kejebak macet total di jalur bawah Casablanka, tepat di titik pertemuan arus yang lebih ruwet daripada benang kusut di kotak jahit Ibu. Di atas motor matic cicilan yang joknya udah panas kayak wajan teflon martabak, Hanif ngerasa kayak ayam yang lagi di-presto. Keringet ngucur deras di punggung, bikin kemeja kerjanya lepek dan nempel di kulit sebelum nyampe kantor. Helm full-face yang harusnya ngelindungin kepala, sekarang fungsinya berubah jadi oven portable yang manggang otak Hanif pelan-pelan.

Pemandangan di depannya adalah definisi neraka duniawi: Lautan helm, knalpot, dan emosi.

Di depan mukanya persis: Knalpot Kopaja tua yang batuk-batuk, nyemburin asep item pekat yang baunya kayak campuran solar busuk dan dosa masa lalu. Asep itu nerobos masuk sela-sela masker medis Hanif, bikin paru-parunya protes keras.

Di kirinya: Seorang Ibu-ibu naik motor matic warna merah cabe. Lampu sen kirinya kedip-kedip genit dari lima menit lalu, tapi gerak-gerik stangnya mencurigakan banget mau motong ke kanan. Ini adalah ras terkuat di bumi yang nggak boleh diganggu gugat. Hanif milih ngalah, ngejauh dikit biar nggak kualat.

Di kanannya: Mobil Pajero item plat "RF" yang klakson-klakson arogan minta jalan, padahal jalanan lagi mampet total sampe semut aja susah lewat.

Tiiiin! Tiiiin! TIIIIIIIN!

"Sabar... Sabar... Orang sabar disayang Tuhan, orang marah cepet tua, orang klakson mulu cepet stroke..." gumam Hanif di balik helm. Dia ngerapalin mantra anti-emosi yang dia pelajarin dari medsos soal mindfulness.

Tapi susah, Bos.

Tenggorokannya kering kerontang. Efek sahur mie instan yang kebanyakan micin dan kurang air putih tadi pagi mulai nendang. Rasanya kayak nelen amplas kasar. Setiap kali dia nelen ludah, rasanya pait dan seret.

Dia ngelirik jam di dashboard motor. 08.20. Masuk jam 09.00. Jarak masih 5 km lagi. Secara matematis Jakarta, ini mustahil.

"Woy! Minggir dong! Jalan tuh lega! Bego banget sih!"

Tiba-tiba, seorang ngabers (anak motor pake helm batok dan knalpot brong yang suaranya mecahin gendang telinga) nyalip kasar dari celah sempit di kiri, nyenggol spion motor Hanif sampe miring. Si ngabers malah melotot, seolah Hanif yang salah karena napas di jalanan itu.

Darah Hanif langsung mendidih naik ke ubun-ubun. Ilang sudah mantra mindfulness-nya. Refleks "Anak Jalanan"-nya keluar. Dia buka kaca helm, siap melontarkan satu kata sakti pemungkas segala emosi, nama hewan berkaki empat yang haram tapi sering disebut:

"ANJ—"

"Eits. Tahan, Bos. Tahan. Sayang pahalanya."

Suara itu muncul pas di kuping kiri Hanif. Jelas. Jernih. Tanpa noise knalpot.

Hanif nengok kaget, hampir ngegas motornya nabrak bumper Kopaja.

Di stang kiri motornya, duduk dengan santai kayak lagi naik komidi puter Dufan, ada Q.

Si Qarin masih setia dengan outfit kebesarannya: kaos kutang putih belel dan rantai emas yang ngelilit badan. Rambutnya ketiup angin (padahal dia hantu, harusnya nggak kena aerodinamika), dan dia lagi nyedot minuman bubble tea ukuran Large yang boba-nya warna-warni transparan. Entah dapet dari alam gaib mana.

"Lo...!" Hanif keselek ludahnya sendiri.

"Lo mau ngomong apa tadi?" tanya Q sambil ngunyah boba dengan nikmat. "Anjing? Anjir? Anjrit? Atau Anjasmara? Coba diselesaikan kalimatnya, biar malaikat di bahu kiri lo ada kerjaan nyatet dosa."

Hanif ngerem mulutnya paksa. Mukanya merah padam, campuran antara panas matahari dan panas ati.

"Astaghfirullah..." ralatnya cepet, meski nadanya masih penuh dendam kesumat.

"Nah, gitu dong. Istighfar," ledek Q sambil nyeruput minumannya. Sluuuurp. Suaranya nyaring banget. "Inget, puasa itu bukan cuma nahan laper. Tapi nahan cangkem. Kalau lo teriak 'Anjing' barusan, pahala puasa lo langsung diskorting 50%. Rugi bandar, Nif. Udah sahur mie instan setengah mateng, nahan aus, eh pahalanya nol. Mending lo batal sekalian, makan di Warteg sono."

Hanif nutup kaca helmnya kasar. "Diem lo! Lo enak nggak berasa panas! Lo enak nggak perlu absen fingerprint!" batin Hanif (dia mulai belajar ngomong dalem hati biar nggak dikira orang gila yang ngomong sama stang motor).

"Kata siapa gue nggak panas?" Q ngibasin kaos kutangnya. "Tapi ya... panas dunia mah trial version doang, Nif. Gue sih biasa di tempat yang full version. Ini mah itungannya sauna gratis. Enjoy aja, itung-itung detoks dosa."

Perjalanan berlanjut dengan siksaan batin yang makin menjadi-jadi. Hanif harus ngelewatin deretan cobaan visual yang lebih berat dari godaan setan.

Dia ngelewatin warteg yang gordennya kebuka setengah—sengaja banget, kayaknya teknik marketing S3—menampilkan paha ayam goreng kuning kecoklatan yang keliatan seksi banget di mata orang puasa. Minyaknya berkilauan kena sinar matahari.

Dia ngelewatin baliho iklan sirup Marjan di jembatan penyeberangan. Gelasnya berembun. Buah melonnya keliatangerak. Es batunya bening. Hanif sampe harus ngalihin pandangan biar nggak ngeces.

Dan sepanjang jalan, Q terus jadi komentator running text yang nggak bisa di-mute.

Lihat selengkapnya