Jam dinding digital di ujung ruangan open space Stratosphere Agency menunjukkan angka keramat: 13.15 WIB.
Dalam kamus fisiologis budak korporat, ini dikenal sebagai "Jam Rawan Koma". Di hari biasa, jam segini adalah waktunya kantin kantor penuh sesak, aroma soto ayam Lamongan beradu dengan asap rokok di smoking area, dan gosip hangat tentang siapa selingkuh dengan siapa bertebaran di udara. Tapi saat Ramadan, kantor berubah total menjadi set lokasi syuting film The Walking Dead versi syariah.
Hening. Suram. Dingin.
Suara yang terdengar cuma ketikan keyboard yang males-malesan (tak... tak... jeda 5 menit buat bengong... tak...) dan suara perut keroncongan yang saling bersahutan kayak orkestra kodok musim hujan. AC sentral yang disetel di suhu 18 derajat bikin suasana makin mendukung buat hibernasi massal.
Kalau bisa diukur pakai alat pendeteksi RPG, status Hanif saat ini mengenaskan: Energi sisa 15%, Kemampuan Basa-basi bertahan di 90%, tapi tingkat Kejujuran anjlok ke angka 5%.
Penyebab anjloknya moral Hanif siang ini sederhana: Prank Klien.
Masih ingat perintah Mbak Sarah tadi pagi? "Kirim sebelum jam 12 siang, Klien mau post pas jam makan siang!"
Hanif sudah melakukan itu. Dia memeras otak kopyornya, menulis copywriting ketiak islami itu dengan jari keriting, dan menekan tombol Send tepat pukul 11.55 WIB. Dia pikir dia bisa napas lega.
Tapi, tepat pukul 12.05 WIB, Mbak Sarah muncul lagi di kubikelnya dengan wajah tanpa dosa. "Nif, pending post ya! Bunda Lisa baru chat, katanya dia males baca email. Dia maunya kamu presentasiin langsung filosofinya via Zoom jam 2 nanti. Katanya dia butuh 'Chemistry' sama penulisnya."
Hanif rasanya pengen nelen mouse saat itu juga. Jadilah di jam rawan koma ini, alih-alih tidur siang di mushola, dia harus nyiapin deck presentasi untuk menjelaskan filosofi ketiak.
Hanif ngelirik sekeliling kubikelnya. Pemandangannya tragis.
Di sebelah kanannya, Rian (Graphic Designer) lagi tidur dengan posisi duduk tegak tapi matanya merem total di balik kacamata item—sebuah skill tingkat dewa yang cuma bisa dikuasai setelah 5 tahun kerja di agensi. Di sebelah kirinya, Mbak Tati (Finance) lagi sholat Dzuhur di mushola kecil pojokan, tapi sujud terakhirnya udah jalan sepuluh menit. Hanif curiga itu bukan khusyuk, tapi ketiduran. Sementara itu, anak-anak magang di meja bundar lagi scrolling Shopee nyari baju lebaran, padahal puasa baru hari pertama dan hilal THR masih jauh di ufuk timur.
Hanif? Hanif sedang berjuang mati-matian mempertahankan kesadarannya agar tidak shutdown. Kelopak matanya rasanya diganjel pake korek api imajiner.
Di layar monitornya yang lebar, terpampang deck presentasi PowerPoint yang harus selesai sebelum jam 2 siang. Kliennya kali ini adalah "Bunda Skincare" (induk perusahaan dari produk BeautyGlowSis.. yang dibilang Sarah tadi pagi), sebuah brand kecantikan lokal milik pengusaha tajir dari pinggiran kota yang ambisinya mau viral kayak brand Korea, tapi budget marketingnya seharga brand curah di pasar malam.
Hanif menghela napas panjang, bau mulutnya sendiri mental balik ke masker medis yang dia pake (biar nggak ketauan kalau lagi nguap).
"Nif," panggil suara datar dari arah printer.
Hanif nggak nengok. Dia lagi fokus tingkat tinggi ngedit grafik Growth Projection di slide 4. Dia lagi nyari cara gimana caranya garis grafik yang aslinya datar kayak jalan tol Cipali itu bisa terlihat menanjak estetik menuju kesuksesan semu.
"Nif, woy. Budak korporat."
Hanif akhirnya nengok dengan gerakan leher patah-patah. "Apaan? Gue lagi kerja. Jangan ganggu orang jihad."
Q, yang lagi duduk sila di atas mesin printer Fuji Xerox sambil mainin kertas HVS yang baru keluar anget-anget, langsung ketawa ngakak. Suaranya mecahin keheningan kubikel (untung cuma Hanif yang denger, kalau nggak dia udah dikira kesurupan jin ifrit).
"Jihad? Lo bilang ini jihad?" Q nunjuk layar monitor Hanif pake jempol kakinya yang transparan dan bercahaya redup. "Lo lagi manipulasi data, Bambang. Itu grafik lo tarik ke atas pake fitur Shapes di PowerPoint, bukan pake data asli dari Excel. Itu namanya nipu, bukan jihad. Malaikat Raqib sampe bingung mau nyatetnya di kolom mana."
Hanif ngelirik Q tajem, matanya merah kurang tidur. "Diem lo. Ini namanya optimisme terukur. Gue memvisualisasikan masa depan yang cerah buat klien. Lagian gue kerja buat siapa? Buat nyokap di kampung biar bisa beli gamis baru. Buat bayar kosan biar gue nggak diusir Bu Kost. Buat sedekah ke kotak amal masjid. Mencari nafkah yang halal itu jihad, Q. Lo setan mana paham konsep ekonomi syariah."
"Halal mata lo peyang," bales Q santai, sekarang dia malah sibuk ngelipet kertas HVS itu jadi pesawat-pesawatan. "Lo bohongin klien biar kontrak diperpanjang. Duitnya lo pake buat apa? Buat top up diamond Mobile Legends kan? Buat beli skin hero biar lo keliatan jago padahal noob. Jihad dari Hongkong?"
"Itu self-reward!" desis Hanif, suaranya naik satu oktaf, bikin Rian di sebelahnya terusik sedikit dari tidur cantiknya. Hanif buru-buru nurunin volume suara. "Manusia butuh hiburan biar waras! Lo nggak tau rasanya diteken deadline!"
"Terserah lo deh, Pak Ustadz Hanif," Q ngibasin tangan, nerbangin pesawat kertasnya ke arah Hanif (yang tentu aja nembus kepala Hanif). "Gue cuma mau ingetin. Malaikat di bahu kanan-kiri lo lagi bingung. Yang kanan mau nyatet 'Mencari Nafkah', yang kiri mau nyatet 'Penipuan Publik'. Kayaknya mereka lagi suit batu-gunting-kertas buat nentuin lo masuk kategori mana hari ini."
Hanif milih buat nyumpel kupingnya pake earphone (meski nggak nyetel lagu, cuma biar keliatan sibuk). Dia harus fokus. Bentar lagi meeting keramat. Dia harus masuk ke mode "Hanif si Konsultan Profesional" dan mengubur dalam-dalam nuraninya di laci meja paling bawah.
Waktu bergulir lambat seperti siput yang lagi puasa. Akhirnya, jarum jam menunjuk pukul 14.00 WIB.
Hanif menarik napas panjang, merapikan kerah kemejanya yang agak kusut, dan menyisir rambutnya pake jari di pantulan layar laptop yang gelap. Dia masang senyum andalannya. Senyum paling manis, paling palsu, dan paling meyakinkan yang sudah dia latih selama 2 tahun kerja di agency. Senyum yang secara implisit bilang: "Saya setuju sama semua omongan Bapak/Ibu, meskipun itu ide paling bodoh sedunia, asalkan invoicenya cair tepat waktu."
Dia mengklik link Zoom. Connecting...
Ting.
Wajah Bunda Lisa (45 tahun) muncul memenuhi layar laptop Hanif. Pemandangan yang... wow.