Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #5

TA"JIL BALAS DENDAM

Jarum jam di lobi Stratosphere Agency akhirnya menunjuk angka keramat: pukul 17.00 WIB. Waktunya pulang kantor. Waktunya The Great Escape. Kalau di-scan pakai radar, status Hanif saat ini sangat memprihatinkan: energi sisa 5%, nafsu makan tembus 1000%, tapi insting bertahan hidupnya menyentuh level maksimal.

Ada satu fenomena alam di Jakarta yang jauh lebih indah—dan jauh lebih ganas—daripada pemandangan sunset di Bali atau sunrise di Bromo: Momen ketika jarum jam dinding kantor menyentuh angka 5 sore di bulan Ramadan.

Itu adalah detik-detik proklamasi kemerdekaan bagi jutaan budak korporat ibukota.

Di ruangan open space Stratosphere Agency, atmosfer berubah drastis dalam hitungan detik. Yang tadinya hening kayak kuburan angker, tiba-tiba berubah jadi pit stop Formula 1. Suara laptop ditutup serentak (klep, klep, klep) terdengar berirama seperti efek domino yang menjatuhkan beban pekerjaan hari itu. Tas-tas ransel disandang dengan gerakan militer, dan mata para karyawan yang tadinya redup kayak lampu bohlam 5 watt, mendadak nyala terang benderang.

Itu adalah tatapan mata liar. Tatapan predator. Tatapan orang yang siap membunuh demi mendapatkan kursi kosong di Kopaja, spot berdiri di KRL, atau gorengan bakwan terakhir di pinggir jalan.

Hanif adalah salah satu pejuang garis depan di medan perang ini.

"Duluan ya, Mbak, Mas!" pamit Hanif cepat, bahkan sebelum pantatnya bener-bener lepas dari kursi kerja. Dia nggak nunggu jawaban. Dia udah lari kecil menuju lift.

Di depan lift, antrean udah mengular kayak pembagian sembako. Orang-orang berdiri gelisah, ngetuk-ngetuk kaki, ngecek jam tangan tiap tiga detik sekali. Bau parfum mahal pagi hari udah pudar, diganti sama bau apek keringet campur AC dan bau mulut orang puasa yang mulai semerbak.

Ting. Pintu lift terbuka.

"Kosong! Serbu!" teriak batin Hanif.

Hanif nyelip masuk pake teknik body checking pemain basket, berhasil nyempil di pojokan lift di antara Bapak-bapak IT yang tasnya segede kulkas dan Mbak-mbak HRD yang heels-nya tajem.

"Tahan napas, Nif," komentar Q yang tiba-tiba udah nempel di langit-langit lift kayak Cicak-Man. "Bau napas orang puasa emang kasturi di surga, tapi di lift sempit gini baunya kayak naga kena radang tenggorokan."

Hanif nahan napas beneran. Lift turun lambat banget, berhenti di tiap lantai, nambah muatan sampe sensor beban bunyi tiiiit protes. Tapi nggak ada yang mau keluar. Semua punya satu tujuan: Lantai Dasar. Kebebasan.

Nyampe di basement yang suram alias The Dungeon, udara pengap langsung nyergap. Bau bensin, karet ban, dan debu beton bikin napas makin sesek.

Hanif lari ke arah motor matic-nya yang kejepit di antara dua motor sport gede. Dia pake helm full-face-nya yang bau apek (lupa dicuci, as always), masang jaket, dan nyalain mesin.

Brummm.

Suara mesin menderu, bersatu dengan ratusan motor lain yang juga ingin kabur dari penjara beton ini. Suaranya kayak tawon ngamuk.

"Nif, pelan-pelan," komentar Q yang sekarang duduk anteng di boncengan (tembus pandang, kakinya ngegantung nembus knalpot). "Lo nyetir kayak orang kesurupan. Inget, gue setan, gue immortal. Tapi lo manusia, tulang lo bisa patah kalau nyium pilar beton."

"Diem lo," Hanif ngegas motornya keluar dari ramp parkir yang nanjak muter-muter. "Gue punya misi suci. Gue harus nyampe di Pasar Takjil Tebet sebelum risol mayones-nya abis diborong ibu-ibu. Risol itu limited edition, Q!"

"Misi suci apaan? Itu namanya Panic Buying level dewa," cibir Q. "Nafsu lo tuh dikendaliin dikit napa. Katanya puasa."

Hanif nggak peduli. Begitu ban motornya nyentuh aspal jalan raya Kuningan, dia langsung masuk mode Mad Max: Fury Road.

Dia melesat membelah kemacetan sore dengan manuver "selip kanan, potong kiri, naik trotoar dikit (maaf pejalan kaki), lalu potong lagi ke kanan". Spionnya nyaris nyenggol spion Alphard, kakinya nyaris kelindes bus Transjakarta. Tapi Hanif nggak gentar.

Di kepalanya cuma ada satu visualisasi yang nge-loop terus-terusan: Es Pisang Ijo yang sirupnya merah merona, berenang dalam lautan santan kental, bubur sumsum lembut, dan es serut yang menggunung.

Air liurnya hampir netes di balik masker medis yang udah lecek.

"Awas lobang!" teriak Q.

Hanif banting stang ke kiri. Settt. Lolos.

"Gila lo," Q geleng-geleng kepala, pegangan (imajiner) ke behel motor. "Gue baru tau laper bisa bikin manusia jadi pembalap MotoGP. Kalo lo nyetir ginian pas berangkat kerja, lo nggak bakal telat, Nif."

"Bedanya, pas berangkat kerja tujuannya penderitaan. Pas pulang kerja tujuannya kemenangan," jawab Hanif filosofis sambil ngeklakson Angkot yang ngetem sembarangan.

Setengah jam kemudian, tepat pukul 17.30 WIB, Hanif sampai di Tanah Perjanjian: Pasar Kaget Takjil Tebet. Ini bukan sekadar pasar, ini adalah The War of Takjil, sebuah medan pertempuran yang sesungguhnya.

Pasar kaget Tebet sore itu adalah definisi chaos yang indah. Jalanan macet total bukan karena mobil, tapi karena lautan manusia yang tumpah ruah ke jalan.

Asap sate ayam mengepul tebal kayak fogging nyamuk, bercampur aroma manis gula merah dari panci kolak biji salak, wangi gurih gorengan yang baru diangkat dari wajan item, dan aroma segar sirup marjan. Simfoni bau ini menciptakan parfum surga duniawi yang langsung bikin perut Hanif auto-demo minta diisi.

Hanif standar motor sembarangan di depan toko bangunan yang udah tutup. Dia turun, buka helm, dan matanya... oh, matanya langsung berubah.

Pupil matanya membesar. Fokusnya menajam. Ini bukan mata Hanif si karyawan lemas. Ini mata elang yang baru nemu ladang kelinci.

Ini adalah fenomena klasik Ramadan: Lapar Mata (The Hungry Eyes Syndrome).

Secara biologis, perut Hanif sebenernya cuma butuh segelas air teh anget dan tiga butir kurma buat ngebalikin kadar gula darah. Kapasitas lambungnya juga terbatas, apalagi abis kosong 13 jam. Tapi mata Hanif? Mata Hanif merasa dia butuh seluruh isi pasar ini buat gantiin energi yang ilang gara-gara revisi "Ketiak Glowing" tadi siang.

Mata Hanif mengirim sinyal palsu ke otak: "Beli semuanya, Nif. Lo laper banget kan? Lo butuh gorengan itu. Lo butuh es itu. Lo butuh lontong itu. Lo butuh semuanya biar bahagia."

Dan Hanif, budak nafsunya sendiri, menuruti sinyal itu tanpa debat.

Hanif berhenti di lapak pertama: Gorengan Bang Jali. Ini lapak legendaris. Minyaknya item pekat—konon minyaknya adalah minyak warisan leluhur yang nggak pernah diganti dari puasa tahun lalu—tapi justru itu yang bikin rasanya gurih nendang.

"Bang Jali! Serbu!" Hanif nyempil di antara emak-emak dasteran yang lagi rebutan bakwan udang.

"Sabar, Mas! Sabar! Masih digoreng!" teriak Bang Jali sambil nyerok tempe mendoan panas.

Hanif ngambil saringan stainless. Tangannya bergerak cepet kayak copet profesional. Pluk. Pluk. Pluk.

"Bang! Bakwan 5, Tahu Isi 5, Risol 5, Cireng 5, Tempe 5!" pesen Hanif kalap. Total 25 biji gorengan.

Q melayang turun, berdiri di samping Hanif sambil meluk dada. Dia geleng-geleng kepala ngeliat gunungan gorengan di saringan Hanif.

"Woy, Nif. Istighfar," tegur Q. "Lo mau buka puasa apa mau hajatan RT? Itu gorengan 25 biji buat siapa? Lo makan sendiri? Lo mau bunuh diri pake kolesterol?"

"Biarin!" bisik Hanif sambil ngeluarin duit 50 ribuan. "Ini buat stok, Q. Siapa tau nanti malem gue laper lagi abis Tarawih. Lagian gue seharian disiksa Sarah. Gue butuh comfort food. Gue butuh crunchy."

"Stok apaan? Gorengan dingin itu rasanya kayak sandal jepit, Nif. Lo pasti nggak bakal abisin. Mubazir," Q ngingetin.

Hanif pura-pura nggak denger. Dia bayar, nyamber kresek item gede itu dengan senyum lebar.

Lanjut ke lapak kedua: Es Buah Prasmanan "Seger Waras".

Warna-warninya membius. Merah, ijo, kuning, pink. Hanif ngambil mangkok plastik. Dia nyerok segala macem isian tanpa pandang bulu. Melon, semangka, jelly, cincau item, kolang-kaling, nata de coco, sampe bubur mutiara yang nggak jelas bentuknya.

"Bang, sirupnya banyakin!" Crooot. Sirup merah dituang barbar. "Susu kental manisnya juga Bang, jangan pelit!" Cruuuut. Susu kental manis dituang sampe luber.

Gelas plastik jumbo itu sekarang beratnya hampir sekilo. Warnanya pink neon menyala.

"Gula darah lo nangis liat itu, Nif," komentar Q lagi, nadanya mulai khawatir (atau ngejek, beda tipis). "Itu bukan es buah, itu diabetes cair. Lo minum seteguk, pankreas lo langsung resign."

"Diem lo, setan. Setan nggak bisa ngerasain manisnya berbuka," Hanif bayar lagi.

Lanjut ke lapak ketiga: Lontong Isi Oncom. Beli 5. "Buat ganjel perut," alibinya. Lanjut ke lapak keempat: Lemper Ayam. Beli 3. "Buat dessert gurih." Lanjut ke lapak kelima: Kue Putu. Beli sebungkus. "Baunya enak, sayang kalau nggak dibeli."

Sepuluh menit kemudian, stang motor Hanif udah penuh gantungan kresek warna-warni. Kiri kanan seimbang beratnya.

Hanif jalan balik ke motor dengan senyum puas, ngerasa kayak raja minyak Arab yang abis borong saham Apple. Padahal aslinya cuma borong tepung dan minyak jelantah.

"Liat belanjaan lo," Q nunjuk kantong kresek di stang motor yang udah overload sampe hampir nutupin lampu sen. "Lo laper mata doang, Bambang. Gue jamin, nanti pas buka, lo minum es segelas, makan bakwan dua biji, lo udah begah. Sisanya? Mubazir. Dan lo tau kan, orang mubazir itu temennya siapa?"

Lihat selengkapnya