Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #6

TELEPON DARI LUBANG HITAM

Ada sebuah siklus psikologis yang sudah disepakati secara diam-diam oleh seluruh umat muslim di Jakarta setiap kali masuk bulan puasa. Sebuah siklus yang tak pernah tertulis di buku panduan manapun, tapi selalu terjadi dengan akurasi layaknya hukum fisika.

Hari ke-1 sampai ke-3 adalah "Fase Euforia". Ini adalah masa kejayaan iman musiman. Masjid penuh sampai tumpah-tumpah ke bahu jalan raya, bahkan tukang parkir dadakan panen rezeki. Sahur dipersiapkan dengan lauk pauk lengkap empat sehat lima sempurna—ada sayur, protein, buah, susu, sampai suplemen vitamin C. Instastory warga ibukota penuh dengan quotes hadist bernuansa senja, foto pamer sedekah takjil di lampu merah, atau minimal foto bubar tarawih pakai filter aesthetic. Di tiga hari pertama ini, semua orang mendadak merasa sekelas Wali Songo. Tingkat kesabaran di jalan raya juga masih lumayan tinggi. Diklakson sedikit, balasannya senyum sambil dada diusap. "Lagi puasa, astaghfirullah."

Tapi begitu masuk Hari ke-5... selamat datang di "Fase Zombie".

Fase di mana gravitasi bumi terasa sepuluh kali lipat lebih kuat, terutama saat mencoba mengangkat kepala dari bantal di jam 3 pagi. Masjid yang tadinya penuh sampai ke jalan raya, kini mulai lowong, shaf maju merosot hingga tiga baris ke depan. Sahur yang tadinya nasi padang lauk rendang berubah jadi effort minimalis kaum pasrah: menelan air putih segelas, makan sisa kurma yang sudah agak keras, lalu merem lagi sebelum muadzin selesai mengumandangkan adzan Subuh.

Boro-boro mau update Instastory religius, buka mata buat ngecek instruksi dari bos di grup WhatsApp kantor aja rasanya kayak disuruh ngangkat barbel 50 kilo pake kelopak mata.

Di Fase Zombie ini, pesona Jakarta sebagai kota metropolis yang dinamis tiba-tiba menguap tak berbekas. Digantikan oleh pemandangan kota mati yang isinya mayat-mayat hidup berkalung ID Card (Lanyard) Coach yang berdesakan di gerbong KRL, menatap kosong ke arah pintu dengan mata berkantung gelap.

Hanif sedang mengalami fase itu di meja kerjanya. Punggungnya bungkuk membentuk huruf 'C' yang sangat tidak ergonomis. Matanya merah, kering, dan menatap kosong ke layar monitor yang menampilkan deretan draf caption pesanan klien yang makin lama dibaca makin tidak masuk akal.

"Nif, napas dikit napa. Lo keliatan kayak mayat hidup yang dipaksa lembur sama malaikat maut buat ngerekap dosa."

Suara itu muncul dari atas dispenser air galon di pojok kubikel. Q lagi duduk nongkrong di sana dengan posisi jongkok ala preman terminal. Rantai emasnya menyala redup, berkedip seirama dengan napasnya. Setan satu ini dari tadi sibuk memainkan tumpukan gelas plastik kertas, disusun menjadi piramida tinggi, lalu dihancurkan lagi dengan satu sentilan jari gaibnya. Gabut tingkat dewa.

Hanif nggak merespons godaan itu. Dia hanya menghela napas kasar dari hidung, menghasilkan suara desisan lelah.

Hari ke-5 ini terasa berat banget. Semalam, Klien Bunda Lisa ngamuk besar-besaran di grup WhatsApp gara-gara engagement post Instagram-nya turun drastis. Bunda Lisa menuntut revisi content plan malam itu juga.

Tuntutan Bunda Lisa sungguh absurd. Dia minta Hanif bikin desain carousel (postingan slide bergeser) dengan judul clickbait bombastis: "Apakah Ketiak Gelap Menghalangi Jodoh Dunia Akhirat? Temukan Solusinya di Slide ke-3!". Hanif harus merevisi itu sampai jam 11 malam, berdebat panjang lebar dengan Graphic Designer (si Rian) yang juga sudah setengah mati menahan kantuk. Buntutnya, Hanif kesiangan, sahur berantakan, dan sekarang otaknya terasa seperti bubur sumsum basi yang diaduk sembarangan.

"Serius, Nif," Q melayang turun dari atas dispenser, melayang pelan menembus partisi kaca kubikel, lalu mendarat di atas keyboard Hanif. Layar Word Hanif mendadak mengetik huruf "ghjkll" dengan sendirinya akibat pantat Q yang menempel (meski tembus pandang, entah kenapa elektromagnetiknya berfungsi).

"Singkirin pantat lo dari kerjaan gue," desis Hanif, buru-buru menekan tombol Backspace.

"Lo butuh tidur, Bos. Atau minimal lo butuh marah-marah," Q menyeringai, menampilkan deretan gigi yang persis seperti Hanif tapi entah kenapa terlihat lebih licik. "Aura lo sekarang warnanya abu-abu butek. Kayak air cucian piring warteg. Nggak ada gairah maksiatnya sama sekali. Gue sebagai setan ngerasa terhina liat lo selemes ini."

"Gue puasa," jawab Hanif singkat, matanya kembali fokus ke file presentasi.

"Puasa dari makan minum doang, tapi otak lo dipaksa ngerjain tipu-tipu ketiak," cibir Q. "Btw, lo perhatiin nggak si Rian dari tadi ngorok matanya melek setengah? Ngeri banget, anjir. Kantor lo emang sarang hantu beneran."

Hanif mengabaikan ocehan Q. Dia bersiap mengetik caption penutup untuk kampanye ketiak Bunda Lisa. Tangannya baru saja terangkat...

Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt...

HP Hanif yang tergeletak di samping mousepad bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan nomor tak dikenal. Tidak ada nama kontak, tidak ada foto profil WhatsApp, hanya deretan angka panjang berawalan 0812.

"Siapa tuh? Jodoh lo nyasar? Atau pinjaman online nawarin limit?" ledek Q sambil menyilangkan kaki di udara.

Hanif mengerutkan dahi. Insting Public Relations-nya langsung memindai berbagai kemungkinan logis. Nomor nggak dikenal di jam kerja? Bisa jadi klien baru yang dapat referensi, vendor printing yang mau konfirmasi warna mockup, abang paket Shopee yang nyasar di lobi bawah, atau... HRD mau ngabarin pemotongan gaji.

Mengingat dia hidup di dunia agensi yang serba tak terduga, menolak panggilan telepon di jam kerja adalah sebuah dosa administratif.

Hanif menggeser tombol hijau di layar. Mengingat tenggorokannya kering, dia berdehem pelan sebelum bicara.

"Halo, selamat siang. Dengan Hanif di sini," sapanya. Suaranya disetel otomatis ke mode profesional tingkat dewa: ramah, renyah, tapi punya ketegasan seorang konsultan.

"Siang. Bener ini dengan Saudara Muhammad Hanif?"

Suara di seberang sana seketika membuat bulu kuduk Hanif berdiri serentak. Ini bukan suara klien yang manja minta revisi. Ini bukan suara abang Gojek yang kebingungan nyari titik jemput. Suaranya serak, berat, nadanya sangat cepat, ngegas dari detik pertama, dan sama sekali tidak ada intonasi "Customer Service" yang ramah. Rasanya seperti didamprat preman di perempatan Senen yang lagi PMS.

"Iya, betul, saya sendiri. Ini dari mana ya, Pak?" jawab Hanif, refleks punggungnya yang tadinya bungkuk langsung tegak lurus menempel di sandaran kursi.

"Saya dari aplikasi Dana Syariah Berkah," tembak suara itu tanpa basa-basi, tanpa jeda napas. "Ini nomor Anda dicantumkan sebagai Kontak Darurat atau Emergency Contact atas nama Saudara Muhammad Hafiz. Hubungannya apa sama Anda? Kakak kandung? Saudara? Atau temen kongkalikong?"

Jantung Hanif terasa seperti skip satu detakan penuh. Berhenti sesaat, lalu memompa darah dengan kecepatan dua kali lipat. Darah yang tadinya berkumpul di kaki akibat terlalu lama duduk, mendadak naik semua ke kepala, membuat pandangannya sedikit berkunang-kunang.

"Hah? Maaf, dari mana tadi? Dana... Syariah Berkah? Maksudnya apa ya Pak?" Hanif mulai gelagapan. Suaranya yang tadinya renyah profesional mendadak pecah, naik setengah oktaf.

Mbak Sarah, Senior Account Manager yang super toxic itu, kebetulan sedang lewat di lorong membawa tumbler Starbucks-nya. Dia melirik Hanif dengan tatapan sinis yang seolah berkata: Jam segini malah asik telponan pribadi, pantesan kerjaan lelet.

Hanif segera menunduk, menutupi mulutnya dengan telapak tangan, berusaha meredam suaranya agar tidak menggema di open space.

"Jangan pura-pura budeg, Mas!" suara si penelepon makin nyolot. Kasar dan penuh intimidasi. "Aplikasi Pinjaman Online! Kakak Anda, si Muhammad Hafiz ini, punya tunggakan tagihan yang udah telat 45 hari! Jatuh tempo bulan lalu! Ditelepon puluhan kali nggak diangkat-angkat. WhatsApp dari tim kami di-blokir semua. Tim lapangan kami nyamperin rumahnya di Buah Batu, Bandung, eh katanya lagi dinas luar kota! Kosong! Dia ngehindar!"

Si DC (Debt Collector) mengambil napas sedetik, lalu melontarkan peluru selanjutnya.

"Dia masukin nomor Anda sama nomor kantor dia sebagai kontak darurat. Tolong sampaikan ke kakak Anda, jadi laki-laki jangan pengecut! Kalo berani ngutang buat gaya, berani bayar dong! Jangan cuma berani minjem pas butuh, pas ditagih ngumpet di ketek istri!"

Ruangan Stratosphere Agency siang itu terasa sangat dingin karena AC sentral yang tersetel 18 derajat. Tapi Hanif bisa merasakan keringat dingin seukuran biji jagung mulai menetes dari pelipisnya, meluncur melewati pipinya, dan membasahi kerah kemejanya.

Telinganya mendengung hebat. Hafiz? Mas Hafiz ngutang di Pinjol?

Otak Hanif error. Saraf logikanya menolak memproses frasa "Hafiz" dan "Pinjol" dalam satu kalimat yang sama. Itu seperti menyatukan air dan minyak. Tidak masuk akal.

"Bapak... Bapak jangan sembarangan ngomong ya!" Hanif setengah berbisik tapi penuh penekanan marah. Dia benar-benar menekan suaranya agar tak terdengar Rian di meja sebelah. "Kakak saya itu Pegawai Negeri! Gajinya jelas! Ibadahnya rajin! Mana mungkin dia main aplikasi Pinjol! Bapak pasti komplotan penipuan ya?! Yang suka nyedot saldo rekening itu kan?! Saya laporin polisi nih atas pencemaran nama baik!"

Tawa meremehkan meledak di seberang telepon. Tawa yang sangat keras, parau, dan menghina. Tawa yang membuat harga diri Hanif rasanya sedang diinjak-injak dengan sepatu boots berduri.

"Hahaha! Laporin aja, Mas! Silakan! Bawa polisinya ke kantor kami! PNS? Rajin ibadah? Alah, Mas, buka mata Anda lebar-lebar! Di database sistem kami itu nggak ada kolom rajin sholat lima waktu! Nggak ada kolom pahala! Adanya kolom KTP, mutasi rekening gaji, sama bukti transfer pencairan dana ke rekening BCA atas nama dia pribadi!"

Hanif menelan ludah. Keringatnya makin deras.

Lihat selengkapnya