Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #7

BUKBER BERDARAH DI SENOPATI (AJANG FLEXING TAHUNAN)

Buka Puasa Bersama, atau yang lebih akrab disapa "Bukber", adalah sebuah institusi budaya di Indonesia yang niat awalnya sangat mulia: menyambung tali silaturahmi yang terputus.

Tapi di dunia nyata, terutama di ekosistem urban Jakarta Selatan, Bukber telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan kompetitif. Bukber bukan lagi ajang kangen-kangenan. Bukber adalah The Hunger Games versi kerah putih. Ini adalah arena gladiator di mana kesuksesan finansial, status relationship, dan merk outfit diadu sampai ada yang pulang dengan rasa insecure sampai ubun-ubun.

Dan sore ini pada hari ke-7 Ramadhan, Hanif sedang berjalan menuju ring tinju mematikan itu: Restoran Meat & Greet di kawasan Senopati.

Ini adalah acara Bukber angkatan kuliah Ilmu Komunikasi (Fikom) angkatannya dulu. Di grup WA, panitianya (si Siska, cewek hits yang dulu tiap ke kampus pake make-up full coverage) udah woro-woro dari sebulan sebelum puasa.

Harga per pax (per kepala): Rp 250.000. Belum termasuk pajak dan servis.

Bagi Hanif, nominal segitu setara dengan biaya hidup lima hari pake menu warteg lauk ayam sayur. Apalagi sekarang, otaknya masih kusut, muter-muter nyari cara gimana nutupin utang Pinjol Mas Hafiz yang ampun-ampunan itu. Angka "Lima Puluh Delapan Juta" masih terngiang-ngiang di kupingnya kayak kaset rusak.

"Nif, muka lo tolong dikondisikan," komentar Q yang sedari tadi melayang ngikutin Hanif di trotoar Senopati. Rantai emas setan itu bunyi kling kling pelan beradu dengan angin sore. "Lo mau masuk ke sarang flexing, tapi aura lo udah kayak gembel kena gusur. Senyum dikit napa."

Hanif narik kerah kemeja flanelnya yang agak lecek (belum disetrika, cuma dipewangi pake Kispray). "Gue lagi pusing, Q. Tadi pagi gue baru ngecek limit PayLater gue. Cuma sisa sejuta. Ini kalau gue makan di sini, fix gue harus idup pake promag sampe gajian."

Q ketawa ngeledek. "Makanya, siapa suruh lo sok-sokan ikut? Udah tau kantong lo kering kerontang, pake alesan sibuk lembur aja kan kelar. Harga diri lo terlalu tinggi sih buat ngaku kismin."

"Bukan masalah gengsi doang!" Hanif membela diri dengan suara tertahan. "Si Siska itu mulutnya ember. Kalau gue nggak dateng dua tahun berturut-turut, pasti gue diomongin. Dibilang sombong lah, dibilang ansos lah. Mending gue dateng, pasang muka sukses bentar, abis maghrib gue kabur alesan ada meeting dadakan."

"Halah," Q muter bola matanya. "Strategi klasik kaum UMR. Dateng ke Senopati, pesen air mineral botol kaca, terus sibuk main HP seolah-olah klien internasional lagi nyariin. Basi lo, Nif."

Hanif mengabaikan mulut pedas Qarin-nya. Dia merapikan rambutnya sebentar di pantulan kaca spion mobil Porsche yang parkir sembarangan di pinggir jalan, lalu mendorong pintu kaca restoran Meat & Greet.

Ting. Lonceng pintu berbunyi.

Hawa dingin AC yang wangi aroma truffle oil dan daging panggang langsung menampar wajah Hanif. Interiornya remang-remang, aesthetic, industrialist, banyak besi hitam dan lampu bohlam gantung muram yang cahayanya seadanya. Musik jazz pelan mengalun di latar belakang.

Ini bukan tempat buat makan kalap. Ini tempat buat foto cantik, di- upload ke Story, terus ngeluh laper lagi pas nyampe kosan.

Hanif memindai ruangan. Di sudut VIP yang dibatasi kaca, dia melihat mereka. Gerombolan Fikom Angkatan 2018.

Suara tawa melengking si Siska terdengar menembus kaca pembatas. Mereka berdelapan duduk melingkar di meja panjang. Semuanya terlihat... glow up. Terlalu glow up sampai Hanif merasa insecure mendadak.

Ada Reza, mantan ketua BEM yang dulu dekil suka demo, sekarang pake kemeja slim-fit Zara, jam tangan chronograph berkilau, dan potongannya undercut rapi. Ada Dita yang dulu selalu numpang nge-print tugas, sekarang bawa tas Tory Burch yang ditaruh dengan sangat sengaja di atas meja biar semua orang liat logonya.

Hanif menarik napas dalam-dalam. "Mode PR: On."

Dia melangkah masuk ke area VIP dengan senyum selebar mungkin.

"Woyyy! Maaf guys telat! Gila, Sudirman macetnya udah kayak simulasi Padang Mahsyar!" sapa Hanif dengan volume suara yang sengaja diatur ceria dan dominan.

Semua kepala menoleh.

"Hanif!!" Siska langsung berdiri cipika-cipiki (di udara, nggak nempel). Wangi parfum Baccarat Rouge KW super-nya nyengat banget. "Ya ampun, makin subur aja lo, Nif! Pipinya chubby ih gemes!"

Dalam kamus basa-basi Jakarta, dibilang "subur" atau "chubby" adalah penghalusan dari "Lo gendutan, Bro". Hanif menelan ludah pait, tapi senyumnya tetap terpaku.

"Biasa lah Sis, tuntutan kerja," Hanif duduk di satu-satunya kursi kosong, diapit oleh Reza dan seorang cowok bernama Kevin yang dulu pendiam tapi sekarang berotot nge- gym.

"Wah, anak Agency emang beda ya aura-nya," Reza menepuk pundak Hanif. "Gimana Nif di Stratosphere? Lo megang brand apa aja sekarang? Gue denger klien lo ngeri-ngeri."

Inilah momennya. Momen di mana Hanif harus menggelar karpet merah ilusinya sendiri.

"Ah, standar lah Rez. Gue sekarang lagi handle campaign-nya Bunda Skincare. Tau kan? Yang iklannya lagi di mana-mana itu. Gue yang lead concept-nya." Hanif berbohong dengan sangat mulus. Padahal dia cuma cecunguk copywriter yang disuruh bikin caption soal ketiak, bukan nge-lead apapun.

"Widih... Lead concept euy. Udah Manager dong lo sekarang?" kejar Dita, matanya berbinar tertarik. Di dunia Fikom, jabatan adalah kasta.

Hanif tersenyum misterius, tidak mengiyakan tapi tidak juga membantah. "Ya... gitulah. Doain aja surat SK-nya cepet turun."

KLING!

Suara rantai Q beradu sangat keras tepat di telinga kiri Hanif.

Setan itu tiba-tiba sudah duduk sila di tengah-tengah meja panjang, tepat di depan piring steak Wagyu kosong milik Reza. Dia bersidekap dada, menatap Hanif dengan ekspresi jijik yang luar biasa.

"Gila lo, Nif," bisik Q pelan, suaranya menembus riuhnya tawa anak-anak di meja. "Lo bohongnya natural banget sumpah. Nggak ada ragu-ragunya. Lead Concept? Manager? Hahaha! Gaji UMR aja belagak sok eksekutif lo. Malaikat di kanan lo sampe resign kayaknya nyatet kehaluan lo."

Hanif pura-pura garuk-garuk alis buat nutupin muka paniknya denger ocehan Q.

"Eh Nif," Kevin tiba-tiba nyeletuk. "Terus lo pake mobil apa sekarang? Tadi parkir di mana? Parkiran sini valet-nya ribet banget anjir, Land Cruiser bokap gue sampe hampir kegores tadi."

Skakmat.

Lihat selengkapnya