Maaf! Setannya Lagi Cuti

PapaDi_YSELnury
Chapter #8

AIR MATA 3 WANITA

Pagi ini, Jakarta masih sama. Masih macet, masih berpolusi, dan masih tidak ramah bagi pemilik Honda Vario yang cicilannya sisa dua puluh bulan lagi.

Hanif duduk di kubikelnya dengan mata yang lebih mirip panda kena insomnia. Sedekah sepuluh ribu semalam memang memberikan kedamaian sesaat, tapi kedamaian itu menguap begitu dia bangun sahur dan sadar bahwa saldo M-Banking-nya sekarang benar-benar hanya cukup untuk beli kuota internet dan paket nasi kucing selama sisa bulan.

"Gimana, pahlawan kesiangan? Udah dapet balesan dari Allah atas investasi sepuluh ribu lo?"

Suara Qarin muncul dari balik layar monitor. Dia lagi tiduran melayang, kepalanya nyender di atas tumpukan berkas revisi. Rantai emasnya bergemerincing malas.

"Diem lo, Q. Gue lagi nggak mau debat," jawab Hanif pendek. Jarinya mengetik password komputer dengan gerakan robotik.

"Gue nggak ngajak debat. Gue cuma lagi monitoring grafik harapan lo yang terjun bebas," ledek Q sambil nyengir. "Inget ya, Nif. Doa kakek tadi malem emang bagus, tapi kayaknya malaikat lagi sibuk ngurusin orang yang sedekahnya pake kartu kredit unlimited, bukan pake duit kembalian gorengan."

Hanif baru mau membalas, tapi suasana kantor mendadak berubah. Suara ketikan keyboard yang biasanya malas-malasan, tiba-tiba berhenti. Ada bisik-bisik yang menjalar secepat api di padang rumput kering.

"Nif! Liat Twitter! Trending nomor satu!" Rian, si desainer grafis yang biasanya cuma peduli sama shortcut Photoshop, tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan wajah pucat.

Hanif mengerutkan dahi, membuka tab Twitter (X). Di sana, sebuah nama produk terpampang nyata di urutan pertama Trending Topic: #BeautyGlowBuset.

Hanif mengklik tagar itu. Jantungnya seketika merosot ke lambung.

Sebuah video TikTok yang di-repost ke Twitter sedang viral gila-gilaan. Video itu dibuat oleh seorang beauty vlogger mikro dengan nama akun @GlowGuru. Di video itu, wajah si cewek—yang tadinya mulus—terlihat penuh dengan bercak merah meradang, mengelupas parah, dan membengkak seperti disengat tawon satu kompi.

"Guys, tolong hati-hati banget sama brand BeautyGlow by Bunda Skincare," suara si cewek bergetar sambil menangis. "Aku pake krim siangnya dua hari, dan muka aku hancur kayak gini. Perih banget, panas, dan pas aku komplain ke adminnya, mereka malah bilang mukaku yang nggak cocok karena kurang ibadah. Ini beneran skincare atau racun?!"

Video itu sudah di-retweet lebih dari 20 ribu kali. Komentarnya? Isinya sumpah serapah semua.

"Mampus gue," bisik Hanif. Ini bukan lagi keteledoran admin. Ini adalah kiamat bagi seorang PR Consultant.

Tiba-tiba, pintu ruangan Direktur Stratosphere Agency—Pak Bram, pria berkepala plontos yang suaranya bisa meruntuhkan mental singa—terbuka dengan bantingan keras.

"SARAH! MASUK KE RUANGAN SAYA SEKARANG!" teriakan Pak Bram mengguncang seluruh lantai 12.

Hanif menoleh ke arah meja Mbak Sarah. Seniornya itu, yang biasanya selalu terlihat flawless dan angkuh, tampak tersentak. Dia merapikan blazer pink gonjrengnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia berjalan menuju ruangan Pak Bram seperti orang yang sedang berjalan menuju kursi eksekusi mati.

"Wuih, si Ular Senior dipanggil Raja Hutan," Q bersiul senang, melayang mengikuti arah pandangan Hanif. "Gue bau-bau bakal ada yang kena pecat hari ini. Seru nih!"

Karena posisi kubikel Hanif tidak jauh dari ruangan Pak Bram yang berdinding kaca buram, dia bisa melihat siluet Pak Bram yang berdiri sambil gebrak meja berkali-kali. Suaranya terdengar sampai luar, meski kata-katanya tidak begitu jelas.

"...BODOH! ...KALIAN KERJA APA SAJA?! ...KLIEN MARAH BESAR! ...DANA MARKETING MILIARAN TAPI CRISIS MANAGEMENT NOL!"

Lima menit kemudian, Mbak Sarah keluar.

Tapi dia bukan Mbak Sarah yang biasanya. Bahunya turun. Kepalanya menunduk. Saat dia melewati Hanif, Hanif melihat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya: maskara Mbak Sarah luntur. Dia menangis.

Mbak Sarah masuk ke arah pantry yang sedang sepi. Hanif, entah karena insting ingin tahu atau rasa empati yang muncul dari sisa sedekah semalam, beranjak dari kursinya dan mengikuti.

Di pantry, Mbak Sarah berdiri membelakangi pintu, bahunya berguncang. Dia sedang menatap jendela besar yang menghadap gedung-gedung tinggi di Kuningan.

Lihat selengkapnya