Dunia Public Relations dan Agensi Digital mengajarkan satu kemampuan fundamental yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah mana pun: Cara mencari jarum di tumpukan jerami digital, lalu mengubah jarum itu menjadi pedang.
Seorang konsultan PR yang handal bisa melacak riwayat hidup seseorang hanya dari satu likes nyasar di Instagram, atau dari pantulan kacamata hitam di foto liburan yang di-upload tiga tahun lalu. Di industri ini, jejak digital adalah komoditas, dan privasi hanyalah mitos urban yang dikarang untuk menenangkan orang awam.
Pagi ini, di hari ke-9 Ramadan, Hanif memutuskan untuk menggunakan ilmu hitam korporatnya itu. Bukan untuk klien. Tapi untuk darah dagingnya sendiri.
Hanif duduk di kubikelnya dengan postur yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi bahu yang melengkung lesu atau mata yang setengah terpejam. Dia duduk tegak. Layar monitor gandanya (dual monitor) menampilkan dua dunia yang bertolak belakang.
Di monitor sebelah kanan, terbuka software pengolah kata dan sebuah dashboard antarmuka hitam dari aplikasi pihak ketiga (SaaS) untuk mengelola ribuan akun buzzer Twitter.
Menjadi Junior PR Consultant di agensi yang perhitungan seperti Stratosphere berarti harus siap menjadi kuli digital serabutan. Pak Bram selalu menolak merekrut tenaga IT tambahan untuk mengoperasikan tools seperti ini, sehingga staf PR seperti Hanif dipaksa belajar secara otodidak. Bermodalkan trial and error selama berbulan-bulan, Hanif jadi sangat paham sela-sela mesin bot itu: bagaimana cara menulis ulang script perintah, memasukkan keyword pemicu (trigger), memanipulasi algoritma agar tidak terdeteksi spam, hingga mengatur jadwal unggah agar cuitan ribuan akun palsu itu terlihat organik. Ilmu paksaan yang dulunya sangat ia benci, kini justru menjadi kemudinya untuk proyek "Penyelamatan Bunda Skincare".
Di monitor sebelah kiri, terbuka layar penyamaran (Incognito Mode) berisi tab-tab media sosial: Instagram, Facebook, LinkedIn, dan portal direktori pegawai pemerintahan.
"Wuih, wajah lo serius amat, Bos. Udah kayak agen FBI lagi nyari buronan teroris."
Q muncul perlahan dari bawah meja, menembus kayu partisi seolah itu cuma asap tipis. Setan itu melayang naik, duduk bersila tepat di atas webcam monitor Hanif. Rantai emasnya menjuntai ke bawah, bergoyang pelan.
"Lagi ngapain lo? Nyiapin fitnah buat si cewek skincare itu? Ayo, ketik yang pedes! Ketik kalau mukanya hancur gara-gara azab sering ghibah, bukan gara-gara krim Bunda Lisa! Hahaha!" Q tertawa menyeringai, matanya menyala antusias melihat Hanif yang tampak fokus.
"Gue lagi ngerjain dua-duanya, Q," jawab Hanif dingin. Suaranya pelan, nyaris berbisik, agar tidak terdengar Rian yang kebetulan sedang meeting online pakai headset di meja sebelah.
"Dua-duanya?" Q memiringkan kepalanya, tertarik.
"Gue ngetik skenario fitnah di kanan, dan gue nyari kebenaran di kiri," Hanif menunjuk monitornya bergantian. "Kalo gue cuma bisa pasrah nungguin Debt Collector itu nelpon lagi, keluarga gue bakal hancur dari dalem tanpa gue tau penyebabnya. Gue harus tau seberapa dalem Mas Hafiz nyemplung ke lumpur Pinjol ini."
Q bersiul tanpa suara. "Cakep. Otak kelicikan lo akhirnya upgrade ke versi Pro. Main dua kaki, eh? Silakan, silakan. Gue mau nonton gimana seorang pendosa kelas teri nyoba ngebongkar aib pendosa kelas kakap."
Hanif mengabaikan ocehan Q. Jemarinya menari cepat di atas keyboard.
Target pertama: Akun Instagram Mas Hafiz (@Hafiz_SangPejalan).
Hanif meneliti feed kakaknya dengan mata elang. Tiga hari lalu, foto sajadah. Seminggu lalu, foto mobil HR-V. Sebulan lalu, foto makan malam romantis dengan istrinya di sebuah restoran mewah di kawasan Punclut, Bandung.
Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna.
Hanif mulai menggunakan teknik reverse image search dan mengecek kolom Tagged Photos (foto yang ditandai oleh orang lain). Di sinilah orang biasanya ceroboh. Seseorang bisa mengontrol feed-nya sendiri, tapi sangat sulit mengontrol apa yang di-upload oleh teman-temannya.
Nihil. Teman-teman Hafiz rata-rata adalah rekan sesama PNS yang feed-nya isinya cuma foto apel pagi pakai seragam Korpri atau foto sepeda lipat. Tidak ada yang mencurigakan.
Hanif mengerutkan dahi. Dia bersandar, memutar otaknya. Kalau Mas Hafiz yang rapi ini nggak ninggalin jejak... berarti gue harus nyari lewat titik butanya.
Mata Hanif tertuju pada satu nama yang selalu di-tag di setiap foto romantis Hafiz. Istrinya. Kakak ipar Hanif.
Target kedua: Akun Instagram Mbak Rina (@Rina_BoutiqueDiary).
Hanif membuka profil kakak iparnya itu. Mbak Rina adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki bisnis reseller baju butik kecil-kecilan. Setidaknya, itu status resminya. Tapi begitu Hanif menggulir feed Instagram wanita itu, matanya terbelalak.
"Buset..." gumam Hanif tanpa sadar.
"Wah, gila," Q yang ikut mengintip dari atas webcam langsung bersiul kagum. "Ini mah bukan Boutique Diary, Nif. Ini mah Flexing Diary."
Feed Instagram Mbak Rina adalah antitesis dari feed suaminya yang sok humble dan religius.
Jika Hafiz mem-posting kutipan hadist tentang kesederhanaan, di hari yang sama, Mbak Rina mem-posting unboxing tas Coach original seri terbaru. Jika Hafiz mem-posting foto ngopi di warkop pinggir jalan bersama bapak-bapak komplek, Mbak Rina mem-posting foto High Tea di hotel bintang lima Braga bersama geng sosialitanya, lengkap dengan macaron warna-warni dan cangkir keramik motif bunga yang harganya setara cicilan kosan Hanif.
Hanif membuka salah satu Highlight Story (Sorotan) yang diberi judul "Staycation 2025". Rentetan video pendek muncul. Liburan ke vila private pool di Lembang. Makan Omakase sushi yang koki aslinya didatangkan ke meja. Belanja bulanan di supermarket premium yang trolley-nya penuh dengan daging wagyu dan keju impor.
Otak Hanif langsung bekerja seperti kalkulator otomatis.
Gaji pokok PNS golongan III (seperti Hafiz) ditambah tunjangan kinerja daerah di Bandung, mentok-mentok berada di kisaran angka tujuh hingga delapan juta rupiah per bulan. Anggaplah ada tambahan honor sana-sini, mungkin menyentuh sepuluh juta. Bisnis reseller baju Mbak Rina? Paling untung dua atau tiga juta sebulan kalau lagi ramai.
Total pendapatan: Anggaplah lima belas juta sebulan dengan skenario paling optimis.
Hanif menatap layar. Biaya gaya hidup yang dipamerkan Mbak Rina di layar ini... minimal butuh tiga puluh juta sebulan hanya untuk bernapas dengan gaya. Belum lagi cicilan mobil HR-V baru itu. Belum lagi KPR rumah di Buah Batu. Belum lagi uang sekolah anak mereka yang sengaja dimasukkan ke International Islamic School.
Angkanya tidak masuk akal. Ini adalah persamaan matematika yang hasilnya minus, tapi dipaksakan menjadi plus menggunakan steroid bernama utang.
"Sekarang lo paham kan, Bos?" suara Q memecah keheningan pikiran Hanif. Setan itu menunjuk layar monitor dengan jari telunjuknya yang memancarkan pendaran cahaya redup.