Dalam ajaran Islam, sepuluh hari pertama di bulan Ramadan disebut sebagai fase Rahmat atau kasih sayang Tuhan. Di fase ini, pintu ampunan konon dibuka selebar-lebarnya, rahmat diturunkan bagai hujan deras bagi mereka yang berpuasa dengan iman dan perhitungan.
Tapi di lantai 12 gedung Stratosphere Agency siang ini, Hanif sama sekali tidak merasakan turunnya rahmat. Yang dia rasakan hanyalah hawa panas neraka yang merambat naik dari ujung jari-jarinya yang menempel di keyboard.
Jam di sudut kanan bawah monitor Windows Hanif menunjukkan angka 11.59 WIB.
Satu menit menuju eksekusi.
Di layar kanannya, sebuah dashboard aplikasi pihak ketiga untuk mengelola ribuan akun Twitter (X) anonim sudah terbuka. Ini adalah dashboard hitam para buzzer, senjata pemusnah massal di era digital yang bisa mengubah seorang pahlawan menjadi pesakitan, atau mengubah produk sampah menjadi emas murni hanya dalam hitungan jam.
Mbak Sarah berdiri di belakang kursi Hanif. Tangannya bersedekap di dada, napasnya terdengar memburu. Aroma parfum Baccarat-nya menguar kuat, bercampur dengan bau keringat dingin ketegangan. Di layar kiri Hanif, aplikasi Zoom menyala, menampilkan wajah Bunda Lisa yang tegang menggigit kuku-kukunya yang berpoles nail art mahal.
"Nif. Udah jam dua belas pas," bisik Sarah, suaranya tajam seperti ujung pisau bedah. "Sikat."
Hanif menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti dilapisi pasir gurun. Dia memejamkan mata sedetik, menarik napas panjang, lalu mengklik satu tombol berwarna merah di layar dashboard itu.
[EXECUTE CAMPAIGN]
Klik.
Dalam sekejap mata, algoritma iblis itu bekerja. Ratusan akun bot yang sudah diprogram dengan script buatan Hanif memuntahkan ribuan tweet secara serentak.
Tagar #GlowGuruTukangFitnah dan #BeautyGlowKorbanBlackCampaign melesat naik menembus Trending Topic Indonesia. Dari urutan ke-20, melompat ke urutan 10, lalu ke urutan 5, dan dalam waktu lima belas menit... memuncaki daftar.
Hanif membuka tab Twitter aslinya untuk memantau "ledakan" yang baru saja dia picu.
Hasilnya mengerikan. Sangat brutal.
Video influencer @GlowGuru yang kemarin viral menunjukkan wajahnya yang meradang dan mengelupas, kini tenggelam oleh ribuan komentar makian. Pasukan buzzer Hanif membombardir kolom komentar gadis itu dengan narasi yang sangat kejam.
@AkunAnonim99: "Alah, muka rusak gara-gara pake krim abal-abal merk lain, yang disalahin Bunda Skincare! Dasar influencer miskin nyari panggung!"
@NetizenJulid01: "Ini cewek emang problematik dari dulu. Gue denger dia dibayar 50 juta sama kompetitor buat jelekin BeautyGlow. Cek aja mutasi rekeningnya kalo berani!"
Tangkapan layar palsu—hasil editan Rian yang sangat rapi—mulai tersebar liar. Menunjukkan seolah-olah GlowGuru memeras admin BeautyGlow meminta uang damai. Narasi itu ditelan mentah-mentah oleh netizen asli yang mudah tersulut emosinya. Fitnah itu menggelinding seperti bola salju beracun.
Hanif me- refresh halaman TikTok milik GlowGuru. Akun gadis itu, yang tadinya berisi ratusan video makeup tutorial yang dibuat dengan susah payah selama bertahun-tahun... mendadak hilang. Lenyap. Muncul tulisan: "Account Not Found".
Gadis itu tidak kuat menahan cyberbullying massal berskala nasional. Dia menonaktifkan akunnya. Dia hancur.
"YESSSS!!!"
Teriakan histeris Bunda Lisa pecah dari speaker laptop. Wanita itu melompat-lompat kegirangan di kamarnya. "Ilang, Mbak Sarah! Akun cewek sialan itu ilang! Ya Allah, alhamdulillah, doa orang terdzalimi emang diijabah!"
Hanif nyaris muntah mendengar Bunda Lisa membawa-bawa nama Tuhan dan dalil "orang terdzalimi" untuk merayakan fitnah keji ini.
Mbak Sarah tertawa lega, tawa yang melepaskan beban berton-ton dari pundaknya. Dia menepuk punggung Hanif dengan keras, sangat antusias.
"Hanif! Kamu jenius! Ini Crisis Management paling gila yang pernah saya liat!" puji Sarah bertubi-tubi. "Bunda, sesuai kesepakatan ya. Kontrak kita aman, kan?"
"Aman, Mbak Sarah! Lanjut terus!" balas Bunda Lisa semringah. "Mas Hanif, Bunda transfer bonus spesial buat kamu siang ini juga. Tiga puluh juta bersih, langsung ke rekening pribadi kamu, potong kompas dari agensi! Ini hadiah dari Bunda karena kamu udah nyelamatin rumah tangga Bunda!"
Tiga puluh juta.
Angka itu berdengung di telinga Hanif. Itu adalah jumlah yang dia butuhkan untuk membayar denda dan bunga Pinjol Mas Hafiz agar para penagih utang itu berhenti meneror keluarganya. Skenarionya berhasil sempurna. Hanif memenangkan permainannya. Dia menjadi "Pemain Catur" yang sukses membela rajanya.
Tapi kenapa dadanya terasa seperti dihantam palu godam?
"Makasih, Bun. Makasih, Mbak," suara Hanif keluar seperti robot. Datar, tanpa intonasi, tanpa jiwa. Matanya masih terpaku pada tulisan "Account Not Found" di layar monitornya.
Di balik wajah seorang influencer itu, ada seorang gadis manusia. Mungkin dia seusia Hanif. Mungkin dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli ring light dan kamera bekas. Mungkin wajahnya sekarang masih meradang perih, tapi rasa perih di kulitnya kini ditambah dengan hancurnya mental dan reputasi yang dia bangun bertahun-tahun. Dan Hanif membunuhnya secara digital, hanya dengan satu klik mouse.
Sarah mematikan Zoom, lalu berjalan kembali ke ruangannya sambil bersenandung kecil. Kemenangan korporat hari ini miliknya.
Saat lorong kubikel itu kembali sepi, Q merayap turun dari atas lampu neon di langit-langit. Setan itu mendarat tepat di samping Hanif.