Pagi di hari ke-11 Ramadan dimulai dengan sebuah ironi yang rasanya ingin Hanif muntahkan bersama sisa sahur mie instan-nya.
Matahari Jakarta baru saja naik sepenggalah, sinarnya memantul menyilaukan dari gedung-gedung kaca di kawasan Sudirman. Di kamar kosnya yang sumpek tadi pagi, Hanif duduk bersila menatap layar smartphone-nya selama hampir setengah jam penuh. Matanya yang sembab dan bengkak akibat tangisan panjang semalam, kini menatap sederet angka yang terasa sangat tidak nyata.
Saldo Efektif: Rp 30.560.000,00.
Angka itu indah. Angka itu adalah mimpi basah setiap budak korporat bergaji UMR. Dengan uang segitu, Hanif bisa melunasi sisa cicilan Vario-nya seketika, membayar sewa kos setahun ke depan, membeli laptop gaming impiannya, dan masih sisa untuk mentraktir dirinya sendiri makan steak Wagyu di Senopati tanpa perlu menangis pas melihat tagihan pajak dan service.
Namun, di mata Hanif pagi ini, angka itu terlihat menjijikkan. Berdarah.
Itu adalah harga dari sebuah masa depan yang dia hancurkan. Harga dari mental seorang beauty vlogger bernama GlowGuru yang tadi malam akunnya lenyap dari muka bumi, dihancurkan oleh mesin fitnah yang Hanif operasikan. Itu adalah uang Dajjal.
Dengan jari yang bergetar hebat, Hanif membuka menu Transfer. Dia memasukkan nomor rekening Bank BJB milik kakaknya, Muhammad Hafiz.
Dia mengetik nominal: Rp 30.000.000. Kolom Berita: "Buat bayar Pinjol. Stop neror keluarga."
Hanif memejamkan matanya rapat-rapat. Dadanya sesak. Dia menekan tombol [KIRIM]. Dia memasukkan PIN-nya. Ting. Layar berubah hijau. Transfer Berhasil. Dalam waktu kurang dari lima detik, Hanif kembali menjadi pria miskin dengan saldo lima ratus enam puluh ribu rupiah. Uang haram itu telah berpindah tangan, masuk ke dalam rekening seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat rajin sholat jamaah di shaf terdepan.
Ironi itu terlalu lucu, sampai-sampai Hanif tidak bisa menangis lagi. Dia hanya tertawa hambar, suara tawa yang kering dan kosong.
Pukul 08.30 WIB. Hanif sudah berada di kantor Stratosphere Agency.
Begitu dia melangkah masuk ke ruangan open space, Mbak Sarah menyambutnya dengan senyum yang sangat lebar, secerah blazer kuning mustard yang dipakainya hari ini.
"Pagi, Hero!" sapa Sarah riang, meletakkan secangkir kopi hitam (yang tentunya Hanif tak bisa minum karena puasa) di meja Hanif sebagai simbol apresiasi. "Bunda Lisa nitip salam. Dia seneng banget. Berita pagi ini udah bergeser total, si GlowGuru udah nggak berani muncul lagi. Crisis averted. Bonus kamu udah mendarat aman kan?"
"Udah, Mbak. Makasih," jawab Hanif datar. Tanpa basa-basi, dia langsung meletakkan tas ranselnya di kursi dan berbalik arah. "Mbak, saya izin ke rooftop bentar ya. Mau nelpon keluarga. Urgent."
Sarah mengibaskan tangannya santai. "Silakan, silakan. Seharian ini kamu mau tidur di rooftop juga saya izinkan. Kerjaan kamu udah selesai kemaren."
Hanif berjalan cepat menuju tangga darurat, menaiki dua lantai terakhir menuju atap gedung ( rooftop ) yang biasanya digunakan sebagai area kumpul evakuasi jika terjadi kebakaran. Pintu besi berat dia dorong dengan bahunya.
Angin kencang Jakarta yang membawa bau polusi dan debu konstruksi langsung menerpa wajahnya. Di atas sini sepi. Hanya ada deru mesin kompresor AC raksasa yang berisik. Tempat yang sempurna untuk sebuah pertempuran.
Hanif mengeluarkan HP-nya. Dia mendial nomor Mas Hafiz.
Satu hal yang pasti hari ini: dinamika persaudaraan mereka tidak akan pernah sama lagi. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, Hanif selalu menjadi adik yang menunduk. Adik yang nakal, adik yang gajinya pas-pasan, adik yang selalu dibanding-bandingkan. Sementara Hafiz adalah Matahari di tata surya keluarga mereka.
Tapi hari ini, Matahari itu telah padam. Dan Hanif-lah yang baru saja membayar tagihan listriknya.
Tuuut... Tuuut...
Panggilan pertama tidak diangkat. Hanif tidak menyerah. Dia menekan redial.
Tuuut... Tuuut...
Di dering keempat, panggilan itu akhirnya tersambung. Terdengar suara napas yang berat dan kacau di ujung sana.
"Ha-halo... Nif?" suara Hafiz terdengar parau, pelan, dan gemetar. Seperti suara buronan yang sedang bersembunyi di dalam lemari yang sempit.
Hanif tidak menjawab sapaan itu. Rahangnya mengeras. Sisa-sisa kesabaran dan rasa hormat yang dia kumpulkan sejak kecil menguap tak berbekas.
"Uangnya udah masuk, A'," tembak Hanif langsung. Nada suaranya dingin, mengintimidasi, tanpa embel-embel kesopanan. Dia tidak lagi menggunakan tone "adik kecil". Dia menggunakan tone seorang Crisis Manager yang sedang menginterogasi klien bermasalah.
Hening yang panjang terjadi di seberang sana. Hanya terdengar helaan napas yang tercekat.
"Tiga... tiga puluh juta, Nif?" suara Hafiz pecah, terdengar tidak percaya. "Aa... Aa baru cek m-banking barusan. Ini... ini beneran uang kamu, Nif? Kamu... kamu dapet dari mana uang sebanyak ini dalam semalam?"
"Nggak penting gue dapet dari mana!" potong Hanif kasar. Penggunaan kata 'gue' alih-alih 'Hanif' membuat jarak di antara mereka semakin kentara. Ini bukan lagi obrolan keluarga. "Itu uang bonus gue. Hasil gue lembur ampe muntah, hasil gue ngelakuin kerjaan kotor yang bahkan setan aja males ngelakuinnya! Dan gue kasih semuanya ke lo."
"Astaghfirullah, Nif... jangan ngomong gitu," tegur Hafiz, refleks kakaknya yang sok suci masih mencoba mengambil alih. "Aa... Aa bener-bener bersyukur. Alhamdulillah ya Allah... Aa janji, Aa bakal ganti uang ini pelan-pelan. Aa potong gaji Aa tiap bulan. Aa cuma butuh ini buat nutupin denda sama bunganya dulu biar preman-preman itu nggak dateng lagi ke kantor dinas."