Ada ikatan emosional yang sangat absurd antara seorang perantau pria di Jakarta dengan kendaraan roda duanya. Bagi Hanif, Honda Vario 160cc warna hitam matte miliknya bukanlah sekadar alat transportasi. Vario itu adalah kaki keduanya. Itu adalah benteng pertahanan terakhirnya dari kejamnya sistem transportasi umum ibukota.
Motor itu adalah saksi bisu tangisannya saat putus cinta di pinggir jalan tol, saksi bisu umpatannya saat dikejar deadline di bawah guyuran hujan badai, dan teman setianya saat keliling mencari warteg yang masih buka di jam 2 pagi. Hanif bahkan punya nama panggilan khusus untuk motor itu: Kuro. Hitam, diam, dan bisa diandalkan.
Tapi siang ini, di bawah terik matahari Condet yang panasnya terasa seperti simulasi padang mahsyar yang bocor, Hanif harus melakukan amputasi atas kakinya tersebut.
Dia berdiri di depan Showroom Motor Bekas "Sinar Makmur". Di depannya, Koh Abun—pria paruh baya dengan perut buncit yang menyembul dari balik kaos kutang putihnya—sedang mengelilingi Kuro dengan tatapan elang kelaparan yang sedang menilai bangkai segar.
"Wah, ini mah body-nya udah banyak baret halus, Mas Hanif," Koh Abun mengetuk-ngetuk body samping Vario dengan kuku jempolnya. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar meremehkan. "Kampas rem juga udah tipis ini. Ban belakang udah botak, minta jajan ganti baru. Olinya juga kayaknya telat ganti nih, mesinnya agak kasar pas digas tadi."
Hanif menelan ludah. Matahari membakar tengkuknya, tapi hatinya terasa sedingin es.
"Lecet pemakaian wajar, Koh," Hanif mencoba bernegosiasi, suaranya parau karena puasa dan kurang tidur. "Mesin masih garing, rajin servis resmi kok. Ini BPKB-nya ada, pajak jalan panjang sampai tahun depan. Saya lepas tunai aja Koh, lagi butuh uang cepet hari ini juga."
Koh Abun mengusap dagunya yang beruban tipis. Dia menatap Hanif dari atas ke bawah, membaca bahasa tubuh pemuda di depannya. Di mata seorang makelar motor bekas berpengalaman, wajah Hanif memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Dan keputusasaan adalah diskon terbaik bagi seorang pembeli.
"Dua belas juta aja deh, Mas. Angkat sekarang tunai. Saya yang urus balik nama," Koh Abun menjatuhkan tawaran pertama yang sangat sadis. Harga pasaran motor itu masih di angka delapan belas juta.
"Dua belas?! Koh, yang bener aja! Ini Vario 160 belum ada dua tahun!" Hanif setengah berteriak. Gula darahnya yang rendah membuat emosinya mudah tersulut. "Enam belas juta, Koh. Nett. Saya butuh uangnya banget buat nebus utang keluarga."
Kling. Kling.
Q, yang sejak tadi duduk nyantai di atas sadel motor sambil bersiul-siul, akhirnya ikut campur. Setan itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hanif. Rantai emas di dadanya yang sempat retak tempo hari, kini berusaha dia tutupi dengan melipat tangannya di dada.
"Jual aja napa sih, Bos. Lagian lo udah nggak butuh kendaraan cepet. Tujuan hidup lo kan udah nyampe di neraka," ejek Q dengan senyum menyebalkan. "Ayo dong, Koh Abun ini malaikat penolong lo. Malaikat pencabut hak milik. Ikhlasin aja Kuro tercinta. Demi Mas Hafiz yang lagi duduk manis di ruang ber-AC kantor dinasnya."
Setiap kata dari Q adalah bensin yang disiramkan ke atas luka bakar.
Hanif memejamkan mata, mengusap wajahnya yang berminyak dan kusam. Tiga puluh juta dari bonus kotor agensi sudah dia transfer untuk menutupi bunga dan denda Pinjol kakaknya. Sisa utang pokoknya persis dua puluh delapan juta rupiah.
Tadi malam, Hanif sudah menjual PC Gaming kesayangannya—satu-satunya sarana hiburan yang menjaga kewarasannya di kosan—kepada teman kantornya seharga dua belas juta. Dia kurang enam belas juta lagi. Dia harus mendapatkan angka itu siang ini. Titik.
"Lima belas juta setengah, Koh," Hanif memohon. Ego dan gengsinya sebagai eksekutif agensi sudah rata dengan aspal Condet. Dia kini hanyalah seorang kakak yang sedang mengemis demi keselamatan keluarganya. "Tolonglah, Koh. Lima belas setengah. Saya lepas sekarang sama helm-helmnya."
Koh Abun mendecakkan lidah, pura-pura berpikir keras, lalu menghela napas sok berat. "Ya udahlah. Namanya bulan puasa, itung-itung saya sedekah bantu orang susah. Lima belas juta lima ratus. Bawa BPKB sama KTP ke dalem, kita transfer sekarang."
Satu jam kemudian, Hanif berjalan gontai keluar dari showroom itu. Di sakunya, smartphone-nya baru saja bergetar menampilkan notifikasi uang masuk, yang langsung dia transfer ke rekening tak dikenal berlogo aplikasi Dana Syariah Berkah.
Lunas. Utang lima puluh delapan juta Mas Hafiz lunas tak bersisa.
Tidak akan ada lagi teror Debt Collector. Tidak ada ancaman sebar KTP. Ibu dan Bapak di Bandung aman. Reputasi Mas Hafiz kembali suci tanpa noda.
Tapi sebagai gantinya, Hanif kini berdiri di pinggir jalan raya Condet sebagai seorang pejalan kaki sebatang kara, tanpa motor, tanpa PC gaming, tanpa harga diri, dan dengan saldo tabungan yang kembali ke angka menyedihkan: Rp 460.000,-.
Hanif menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Dia melihat Koh Abun sedang mengelap Kuro menggunakan kanebo basah, bersiap menempelkan stiker "DIJUAL CEPAT" di pelat nomornya.
Dada Hanif sesak. Rasanya ada batu kali seberat sepuluh kilogram yang menindih paru-parunya. Dia berbalik dan berjalan menuju Stasiun Pasar Minggu. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun merantau, Hanif akan berangkat ke kantor menggunakan KRL Commuter Line.
Waktu: 14.30 WIB. Lokasi: Gerbong KRL Rute Bogor-Jakarta Kota.
Masuk ke dalam gerbong KRL di siang bolong bulan Ramadan adalah sebuah uji nyali spiritual tingkat tinggi. Hawa dingin AC gerbong tidak mampu melawan hawa panas dari ratusan tubuh manusia yang berdesakan, berkeringat, dan bernapas dengan ritme kelelahan. Bau khas campuran peluh asam, minyak angin Freshcare, dan debu stasiun berputar-putar di udara yang stagnan.
Hanif berdiri terhimpit di dekat pintu. Tangan kanannya berpegangan pada handle atas. Lengannya bergesekan dengan kemeja basah milik seorang bapak-bapak yang sedang tidur berdiri. Kaki kirinya terinjak ujung sepatu heels seorang mbak-mbak kantoran yang sibuk scrolling TikTok.
"Cieee, sobat KRL nih sekarang," suara Q menggema tepat di telinga kiri Hanif, mengalahkan suara derak roda kereta yang beradu dengan rel baja.
Q sedang bergelantungan santai di tiang besi gerbong layaknya monyet sirkus, sama sekali tidak terpengaruh oleh gravitasi maupun desakan manusia. Dia menatap wajah Hanif yang pucat dan penuh keringat dingin.
"Gimana rasanya, Bos? Wangi ketek massal ibukota? Mantap kan?" Q tertawa sinis. "Dulu nyetir sendiri, kena AC angin sepoi-sepoi, dengerin lagu indie di earphone. Sekarang? Kehimpit kayak sarden kalengan. Dan lo ngorbanin semua kemewahan lo itu demi kakak lo yang sekarang pasti lagi duduk santai di kursi empuk kantor dinasnya sambil ngirim quotes hadist soal kesabaran di grup WA."